Tuesday, December 18, 2007

Bintang

bintang
di malam tenang
memberi terang
penghapus bimbang


( star in the sky )

Masa Lalu

masalalu
padamu aku berguru
untuk membunuh amarahku
meski tetap kau hina aku
hingga dasar lara terpilu

( sedetikpun masa yang telah berlalu tetap saja masa lalu)

Membaca Alam

Di sini tak cukup buku
untuk membuka lembaran ilmu
di sini tak cukup jendela
tuk mengeja bahasa dunia

tapi
mari kita membaca...
aksara alam tertata sempurna
lembaran jagat raya penuh warna
tersurat tersirat penuh makna

ketika hujan telah tiba
mari kita baca rintik yang turun ke bumi
mengapa butiran air turun kebumi
dari awan di langit tinggi?

ketika mentari unjuk diri
mengapa embun mengering pergi
mengapa dingin berubah hangat
ketika cahaya menyapa semesta?

ketika angin berhembus pelan
mari kita baca liukannya
mengapa ilalang ikut bergoyang
bila tersapa hembusannya.


>>>
...
....

ketika alam menantangmu
pecahkan misteri keseimbangannya
ikutilah panggilannya...
baca setiap lembaran pesannya
lembarannya tak habis terbaca
dari masa ke masa



( dedicated to all my student. senyum-senyum kalian sungguh menceriakan hari-hari, janganlah suatu keterbatasan mengahalangi untuk belajar, janganlah suatu keadaan dan lingkungan menghalangi untuk berprestasi. Belajar itu indah.....selagi masih ada waktu, selagi hati masih bagaikan kertas putih yang bisa dilukis dengan lukisan nyata dan keindahan, lukislah....ukirlah memori masa kecilmu dengan ilmu yang berguna dan bermanfaat. BELAJAR ITU INDAH....)

Monday, November 12, 2007

Bunda

Bunda
Selalu ada cinta
Di lengkung mata tua
Penuh cahaya

size="3">
Nov 2007

Bumi Berhujan Angin

Bumi Berhujan Angin
Angin
Hembuskan sejuk
Membelai halus
Mengusir suntuk
Hujan
Turunkan dingin
Aliri celah
Membasuh gundah
Bumi
Hidupkan hijau
Redamkan panas
Di hati cemas
Nov 2007

Sajak-Sajak Dari Sumatra

Sajak sajak dari Sumatra
Buanglah semak ilalang
Bila hendak bertanam padi
Meskipun kalah di medan perang
Tetaplah menang di medan budi
Nov 2007

Dua Bait Sahabatku

Dua bait sahabatku
“ Sahabatku”
Begitu engkau memanggilku
Kata terindah yang engkau beri untukku
“ Pantaskah kutanya lagi arti diriku? “
“ Sahabatku”
“ Maaf” bila sering aku tak mampu
Menjadi seindah panggilanmu untukku
Nodai kata indah yang telah engkau pilihkan untukku
Oleh karena deru untaian kata yang sering salah kubaca
Nov 2007

Seindah Harimu Kawan

Seindah harimu kawan
Hari ini indah kawan
Seindah gelombang riak sungai siak
Semerdu alunan komet tua di sudut istana
Semegah warna kuning kebanggaan raja
Hari ini indah kawan
Seindah bunga emas terselip di kerundungmu
Sewangi melati mekar di putih kebayamu
Semeriah inai merah di ujung jarimu
Hari ini indah kawan
Seindah deretan doa mengantarmu
Seindah layar baru yang akan engkau bentangkan
Seluas lautan kisah yang akan dilayari
Hari ini indah kawan
Seindah pengharapan menuju kata ‘Bahagia “
*** teruntuk L di Tanah Melayu. Selamat Menempuh Hidup Baru, 4 Nov 2007, happy- Happy forever. Kapan kita ke Siak Lagi?

Mengenang Sahabat Di Tanah Sejarah

Mengenang Sahabat di Tanah Sejarah
Sobat
Engkau pernah mengabariku
Tentang sejarah tanah berdarah
Tentang cinta yang terbelah
Oleh sebuah kata terjajah
Sobat
Engkau bawa jiwaku merasa
Tajamnya peluru menembus raga
Kala tapal batas jadi sengketa
Saat barisan harus berlaga
Demi haluan yang berbeda
Sobat
Engkau tebar cemas memburu
Saat jejak langkahmu pernah berlalu
Tenggelam dalam hiruk pikuk mesiu
Di garis depan darah itu tumpah dan beku
Sobat
Pernah tersiar air mata
Dari suara tak bernama
Menggores lembar duka di ujung doa
Membawa isak tak terbaca
Sobat
Kini tahun telah berlalu
Namun kisahmu tak akan beku
Telah terukir dalam sejarah itu
Di ruang persahabatan bukanlah semu
*** Mengenang seorang sahabat di negeri asing penuh sengketa ***
Nov 2007

Segenggam Rindu Untukmu Kawan

Segenggam rindu untukmu kawan
Kawan
Sejenak ingin kuajak
Engkau duduk di sampingku
Dengarkan kisah-kisahmu
Simak setiap bait bait ceritamu
Ada bait tawa
Ada bait senyuman
Ada bait canda
Dan juga bait air mata
Kawan
Bila habis ceritamu
Ingin kulantunkan juga kisahku
Teramu dalam penggal-penggal hela nafasku
di sini juga ada tawa
Masih ada senyuman
Tetap terselip canda
Dan tak lupa tersisip air mata
Kawan
Entah sampai kapan
Kugenggam rindu yang dulu
Saat kisah tak mampu terbagi ruah
Ketika rintik hujan temani langkah kita berpisah
Tak ingin kalah oleh butiran bening hangat jatuh pecah
Gelegar kilat terangi sebuah jabat tangan tandai jalan berubah arah
Kawan
Adakah sunyi menjengukmu
Seperti sering ia mengetuk pintuku
Temani ruang lamunanku
Menari ia dalam hayal renunganku
Bisikan pesan bila jarak bukanlah semu
Kawan
Tak hendak kulupa hadirmu
Rantai persahabatan yang mengikatku
Hadirkan kenang bila hadir menjauhiku
Kawan
Tak lagi kudengar petuah doamu
Yang tenangkan kala lelah aku rebah di tilam resah
Tak lagi bisa kuserak kata tentang cahaya
Bila gelap terasa begitu gulita
Bila terang begitu ceria
Bila redup buatku lelah
Kawan
Kini tak lagi bisa kubagi cerita tentang bunga
Seperti engkau tak lagi bisa membagi cerita tentang warna
Yang dulu membuat tawa kita sama pecah
Atau air mata kita sama tumpah ruah
Maknai hidup kadang suram kadang meriah
Meski hati harus patah
Kadang terhenti di titik kalah
Di langit tabah kita harus selalu tengadah
Kawan
Masih indahkah mimpimu
Seindah mimpi dulu yang kita tunggu
Selubungi ruang dan waktu
Kawan
Terpahat harap di hatiku
Angin waktu membelai rindu
Menyatu di tatap haru
Gulung jarak pijakan engkau dan aku
Di satu tanah derai kita bertemu
** Teruntuk sahabat-sahabatku. Begitu banyak teman dan kawan yang ditemui dalam hidup ini. Apakah semuanya bisa jadi tempat kita berbagi tentang setiap peristiwa rasa bahagia duka dan kecewa. Begitu banyak teman yang memanggil kita sahabat, apakah kita mampu menjadi tempat mereka berbagi?. Siapapun teman, kawan dan sahabat mereka punya arti tersendiri. Tak perlu meminta arti sebelum memberi arti.
1 Nov 2007

Selengkung Gelora Cahaya Muda

Selengkung Gelora Cahaya Muda
Ada lengkung cahaya
Di mata penuh cita-cita
Gelora muda remaja
Tiada gentar memulai cerita
Di sana
Di tanah asing bertabur ilmu
Memanggil memahat namamu
Menantang semangat muda
Mengajak lintasi samudra
Ada belaian pasir
Berhembus mengundang mimpi
Membangun istana kejayaan
Di negeri segitiga jingga sebelum senja
Segenggam pengharapan
Sertai pengembaraan baru
Berderai doa menghantar haru
Sertai arungi samudra ilmu
*** teruntuk adik tetangga yang akan meneruskan pendidikan di negeri berbapasir***

Mahkota Cahaya

Mahkota Cahaya
Pernah kudamba mahkota cahaya
Di puncak mentari cinta
Di singgasana tahta rasa
Di istana bias maya
Mahkota jatuh ke telaga derai air mata
Mentari tenggelam bersama senja
Malam gulita kembali tiba
Merajut sunyi yang tak biasa
1 nov 2006

Cinta

Cinta yang disemadikan tidak mungkin layu selagi adanya imbas
kembali. Hati yang remuk kembali kukuh selagi ketenangan dikecapi.
Jiwa yang pasrah bertukar haluan selagi esok masih ada. Parut yang 
lama pastikan sembuh selagi iman terselit didada...`( by seorang sodara di tanah
Malaka)

Monday, October 22, 2007

Setangkai harapan

setangkai harap
di rimbun kisah
seutai ratap
telah rebah

Thursday, October 18, 2007

Mentari setelah Mendung

Mentari unjuk diri
dari balik awan mendung pagi hari
embun-embun pagi basah menyentuh telapak kaki
gemericik air pancuran
percikkan butiran bening pecah di batu

kawanan pipit terbang riang
menukik singgahi tangkai-tangkai padi
seulas senyum di balik ilalang
kisahkan setangkai impian

.. Pagi.. 18 Oktober 2007

Wednesday, October 10, 2007

Andai

Andai aku boleh bercerita
akan kuurai semua kisah
tentang semua keluh kesah
juga semua suka bahagia

andai aku boleh bertanya
telah kutanya segalanya
tentang ada dan tiada
hingga tiada lagi tanda tanya?

tapi aku hanya boleh berandai....

Pinta Malam

malam meminta
ketika gulita meraja
bersinarlah setiap cahaya
di manapun adanya.....

Kota Sepi

!!
aku telah menyepi
di kesunyian kota hati
kutekan harap pinta diri
pada mimpi yang telah pergi

aku tahan gerimis
saat kusaksikan mentari merenda senja
mereka berhak bersinar bahagia
seperti aku berhak selami gulita

telah kubentang jarak
agar tiada lagi kulihat jejak
yang selalu membuat mataku sabak
bila layar itu kembali kusibak

pinta dulu kupenuhi
sebuah kata memintaku pergi
meski jiwa serasa mati
mengubur sebuah kepingan mimpi


bila tiadaku lebih berarti
bila hadirku hanyalah duri
kucari bahagia bersama sunyi
di sudut sudut kota sepi



**** lagi cengeng, Suatu Malam Di kotaku, nikmati sunyi, ****

Tuesday, September 18, 2007

sebuah pengharapan
dalam misteri
di balik tabir
biru langit
tak bisa kueja
tapi hujamannya telusuri hati

Rabb..
padamu kutitipkan harap
untuk sebuah nada di hatiku
jadikan irama mengalun indah di hatiku bila atas RidhaMU
jadikan ia tak berbekas di hatiku tanpa bersuara bila itu yang terbaik menurutMU


*** untuk sebuah harapan dan ketakutan ***
*** kutunggu di batas waktu ***
Jakarta...
sejenak kuingin menjauh
dari deru kotamu yang gaduh
ku hanya inginkan teduh
hibur jiwaku yang rusuh


esok akan kujelang
...
...
...

...... text removed.......



.... * Sunday. Papadayan Raya 58 *

Tuesday, September 11, 2007

Kejutan SeNja Menjelang Malam

Malam ini saya terharu sekali sampai di Tangerang mendapat sebuah paket dari Kalimantan Selatan. Saya memang memakai alamat paman jika ada untuk koresponden karena alamat kos di Jakarta takut tidak sampai.saya lebih takjub lagi saat membukanya ternyata ada enam buku.. ingin rasanya bersorak..mimpi apa saya semalam.. ALhamdulillah makasih banyak Pak Ewa. Paket ini sampai beberapa hari yang lalu, hanya saya yang baru sampai di Tangerang,jadi baru malam ini membuka paket itu. saya belum membaca bukunya tapi mata saya langsung tertuju pada Surat Buat Kekasih...

Kasih

Tengadah ke langit lepas

Lihat bintang di ufuk timur

Cahaya membesar

Sirami kegelapan ini

Bawa ku ke medan cinta



Wow.. saya benar benar terpesona dengan kata kata dalam bait-bait puisi Pak Ewa.. tenggelam dalam beningnya kata di dasar telaga puisi…hati ini basah oleh percikan air yang meretas menetes pelan dari untaian kata kata bermakna.

Pak Ewa.. entah bagaimana mengucapkan terima kasih.. Enam Buku sekaligus membuat saya benar-benar takjub tak sabar hendak membacanya…

Saya orang yang sangat bahagia sekali dikirimi buku mendapat buku ( sama salero wak ni Mey)….

Pak ntar disambung lagi carito tentang buku.. kini wak baco dulu bukunyo….. yang mano dulu yo… rancak sadonyo…. Hiks TERHARU….tak tahu harus berkata apa lagi.

Alhamdulillah….Semoga Allah Membalas kebaikan Pak Ewa…
Semoga Pak Ewa dan keluarga selalu dalam LindunganNYA Amin….

***

Malam di Ujung Papandayan Raya Tangerang……

** Pak etek mokasih mimjam Pcnyo hehhehe ***

Friday, September 07, 2007

bintang

Bintang bercahaya putih
Mengetuk remang malam
Awan putih turun ke bumi
Merendah selimuti diri

Awan berbisik pelan
Benarkah ini mimpi?


*** Mimpiku...***

*
*
*

MOHON MAAF LAHIR BATHIN

MOHON

MAAF

LAHIR

dan

BATHIN

*
*
**

Thursday, September 06, 2007

Surat Jalan Menutup sebuah Episode dengan Indah

Akhirnya, saya mendapatkan surat reference setelah saya mengajukan surat pengunduran diri. semoga ini menjadi surat jalan untuk meniti hari esok yang lebih baik.Amin....

akhiri suatu babak dengan indah.. jika harus pergi saya tidak ingin ada satu benci dan permusuhan yang saya bawa...yang berlalu adalah kenangan indah.. dan hari esok lebih cerah..

kemarin teman teman saya berkumpul termasuk teman teman yang telah resign dan bekerja di tempat lain, sebagai pertemuan perpisahan dengan saya. saya terharu mereka sangat baik walau semuanya beda agama dengan saya. dukungan mereka rasa berarti, walau ada yang menyarankan saya bisa menuntut balik akan statement itu(teman yang juga pernah mendapatkan statement yg sama dulunya di sini). tapi sudahlah saya sudah mengajukan surat pengunduran diri dan itu tindakan paling tegas yang bisa saya berikan. Mungkin ini cara Allah memberi jalan kepada saya untuk tidak ragu ragu dalam mengambil sikap.. ALhamdulillah...anggaplah itu statement yang salah ucap, dan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan termasuk boss saya dan saya sendiri. saling memaafkan lebih indah dari pada balas dendam yang tak akan pernah sudah. Selama ini ia adalah boss yang baik, jadi hal itu adalah sebuah kejadian membuktikan. manusia adalah tempat salah dan lupa. Yang sangat inginkan juga sederhana, saya hanya ingin sebuah alasan yang kuat buat mengambil sikap. sekarang saya sudah mendapatkan.

melampiaskan kekesalan seseaat tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan mempersulit hidup sendiri. akhiri saja dengan Indah. saya orang Indonesia, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia, Saya dibesarkan dan didik untuk bisa menjaga diri,harga diri tanpa harus menginjak harga diri orang lain, tapi sebuah penghargaan yang saling menghargai bahwa kita adalah mahluk yang sama tiada beda di hadapNYA. Kepuasan dan ketenangan bagi saya bukanlah membuat orang lain tunduk dan takluk tapi bagaimana membuktikan diri bahwa kita bukanlah hamba bagi mahluk tapi adalah HambaNYA. tak ada yang perlu ditakuti di dunia ini selain hanya padaNYA. jika salah minta ampun dan mohon maaflah. jika tidak bersalah Yang Maha Kuasa Pengasih dan Penyayang. Dia tak akan pernah menyia-nyiakan hambaNYA selagi kita mampu berserah padaNYA...Amin......

*** Starting....looking for New Job ****
*
*
*

Wednesday, September 05, 2007

Sebuah Keputusan

akhirnya..keputusan itu telah dibuat....saya memilih resign dari pekerjaan setelah sebuah statement yang membuat saya tak harus ragu ragu mengambil keputusan.

ada bahagia. lega dan juga sedih. bahagia telah mengambil keputusan. sedih berpisah dengan teman teman di sini dan semua kenangan di komputer ini...

meski tak tahu apa rencana selanjutnya, tapi apapun resiko setelah sebuah keputusan harus dihadapi dengan sebaik-baiknya. setiap keputusan selalu punya resiko, tinggal kemantapan hati sejauh manakah mampu menemukan hikmahnya.

ada awal ada akhir, ada datang ada pergi.. semua yang telah berlalu adalah kenangan indah dalam hidup saya, kenangan yang tidak boleh terlalu ditangisi ataupun terlalu disanjung, cukup ambil saja hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik nanti..

semoga keputusan saya ini tidak bercampur dengan keegoisan diri tapi sebuah bentuk membela harga diri....

yang berlalu biar berlalu.... masa depan hadapilah dengan senyum pengharapan baru...

****
Rabb..
Ampuni andai aku bersalah...
selamatkan andai aku dizalimi...
tundukkan jiwaku andai aku angkuh...
kuatkan hatiku andai aku lemah....
insyafkan aku andai aku sombong
ingatkan aku andai aku lalai....

Rabb...
Hanya Engkau Penolongku
jangan biarkan jiwaku menghamba kepada selainMU
Hanya Engkau Pelindungku
Lindungilah aku dalam setiap detak waktuku
Hanya Engkau Pemberi Petunjukku
Tunjuki aku kemana langkah ini harus kubawa...
TanpaMU aku tak mampu.....

**** Jakarta, senja di ujung kota****5/9/07***

Thursday, August 30, 2007

Aku di Sana

Aku di sana
Ketika bintang terangkai tenang
Ketika malam memeluk bumi
Ketika sunyi bacakan puisi keheningan

Aku di sana
Bersama lena yang tak singgahi mata
Meniti duga asa dan rasa
Bersilang prasangka alam fikir


Aku di sana
Lelah bertikai emosi dan nurani
Rindu tenggelam ke alam mimpi
Lupakan segala perang perdebatan hati
Lelap damai hingga fajar mengajakku menyambut hari

Aku di sana
Letih berselisih dengan impian
Mengharap ketenangan satu arah tujuan
Lupakan sengketa sesakkan dada
Melaju berjalan tanpa sebuah kebimbangan

***
Ampuni segala kelalaianku Robb...
*
Kamis, Jakarta 30 August 2007
*
*
*

Wednesday, August 29, 2007

Agustus

Agustus yang kunanti
Kini akan berlalu pergi
Setelah genap tiga puluh satu hari
Akankah kutemui ketetapan hati?

Agustus yang kutunggu
Akan segera berlalu
Kabar dulu jadi semu
Kabar kini tiada tentu

Bertahan atau berlalu
Sisakan deburan ragu
Mencari jawaban penguat hati
Untuk sebuah keputusan

***
***
Job and Jakarta. Take or Leave it…??
Sebuah kebimbangan
“ Jangan ragu-ragu Nak, nanti makin kurus..” “hiks iya Mak “…
*
*
*
*** Rabu sore in Jakarta ***

*

Tuesday, August 28, 2007

Gerhana

Purnama sebelum gerhana
gerhana sebelum cahaya

gerhana
bulan matahari sedang berbincang
ketika bumi jadi penengah

gerhana
gelap di lingkar cahaya
sesaat sebelum hilang


*****
semalam puas melihat purnama...

hmm hari ini kerjaan lumayan kacau.. bukan kerjaanya tapi sepertinya yang otak yang sedang mengerjakan...

Monday, August 27, 2007

Tiga Bait (..II..)

Lentara
di sana telah bersinar
malam terang tak perlu remang

Bendera
di sana telah berkibar
di tanah baru medan juangmu

Tinta
di sana telah menggores
kisah ilmu di lembar hidupmu


tiga bait makna bersua
kuhantar doa di dalam kata

***
teruntuk semua cinta, persahabatan, persaudaraan, Good luck semuanya...
***

Friday, August 24, 2007

Lukisan Cinta

Lukisan cinta
Dalam hamparan hijau pegunungan
Dalam aliran sejuk mata air
Di kemilau menguning tangga-tangga persawahan
Di kepak sayap burung-burung
Di rimbun dedaunan pepohonan
Di liukan pimping ilalang lereng
Di warna hitam batu alam
Di sudut terjal tebing bebatuan
Di gugusan awan-awan putih
Di latar biru langit kerinduan

Lukisan cinta
Di cabang ranting pohon jambu
Di runcing halus rumput jarum
Di liku jalan setapak di antara semak
Di teduh bayang lembah perlindungan
Di Bening telaga kehidupan

Lukisan cinta
Di seluruh alam semesta
semua ada atas Cinta-NYA

***
Hari ini saya teringat seorang Ibu setengah baya di sebuah pameran lukisan beberapa waktu yang lalu, sebuah pameran yang kebetulan saya lihat waktu lewat tak sengaja di depan gedung itu. Ibu itu begitu dalam dan lama mengamati sebuah lukisan belatar belakang gunung Tangguban Perahu. Waktu saya berada di dekatnya, kami bertukar senyum. Ibu itu langsung berkata “ lukisan ini begitu menyentuh kalbu”. Awalnya saya berpikir, sentuhan yang dirasakan adalah karena keindahan lukisan itu. tapi prediksi saya salah. Ternyata lukisan itu begitu menyentuh kisah hidupnya, sebuah kisah cinta. Dan lukisan itu adalah bagian dari kisahnya.

Di Lereng gunung itu kisahnya berawal. Akhirnya kami duduk pada bangku-bangku di depan lukisan itu. sambil terus memandang lukisan, Ibu itu bertutur tentang masa muda kuliah, menikah punya anak, dan sekarang mereka sudah besar-besar tak jauh berbeda dengan usia saya. Dari semua kisahnya saya melihat satu keseragaman dalam setiap episode waktu itu, keseragaman di sinar matanya ‘ Binar Binar Cinta“, ibu itu bercerita dengan penuh cinta, binar-binar yang tak berubah setiap tangga-tangga peristiwa hidupnya. Sampai sekarang Ia dan suaminya masih sering ke sana, sudut pandang pelukis sama dengan sudut pandang tempat yang sering di amatinya. Binar mata jatuh cinta saat Ia bercerita tentang suaminya begitu jelas. Mungkin binar mata seperti itu akan jadi hal biasa jika terlihat di mata muda-mudi jatuh cinta, pasangan yang lagi berbulan madu. Tapi bagi saya sangat luar biasa binar itu masih memancar dari mata seorang Ibu yang telah melewati usia setengah abad, setelah puluhan tahun berumah tangga. Sebuah cinta yang tak pudar oleh usia, ragam perjalanan dan kebiasaan. Puluhan tahun melewati hari hari bersama tidak membuat cintanya berubah hambar dan pudar tapi malah semakin bersinar.

Sering saya membaca tulisan yang mengatakan menemukan cinta itu sulit dan mempertahankan cinta itu lebih sulit. Jika tulisan itu dikaitkan dengan Ibu itu menjadikan Ia tampak istimewa. Sekian tahun berlalu masih tetap binar cinta bersinar di matanya. Meski saya tak tahu keseharian ibu itu, tapi dari cara dia bercerita rona ketenangan di wajahnya, rasanya cukup memberi tahu jika dia telah melukis kisah hidupnya dengan warna-warni cinta.

Ibu itu memang baru saya kenal waktu itu. tapi ceritanya membuat serasa saya mengenalnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Di akhir pertemuan Ibu itu bertanya pada saya. Dari sekian banyak lukisan di sana yang manakah yang paling saya suka, saya jawab lukisan "telaga kecil" itu, airnya begitu bening dan dasarnya kelihatan.

Setelah puas mengamati lukisan-lukisan itu kamipun berpisah, saya merasa beruntung tak sengaja lewat di depan gedung itu. Ternyata saya tidak hanya melihat lukisan, tapi juga lukisan kehidupan yang penuh cinta. Saya pun pergi bergabung dengan teman-teman lain yang sedang mengadakan pertemuan rutin tak jauh dari gedung itu.
*
*
*

Thursday, August 23, 2007

Langit Waktu

*
langit waktu mungkin tlah sama
langit cerita mungkin berbeda
*
aku disapa bimbang
memamdang jalan yang terbentang
*
pada langit kualih pandang
harap terhapus semua bimbang

*** astagfiirullah***
*
*
*

Wednesday, August 22, 2007

haru

Aku dekap haru
Ketika rasa itu menderu
Rabb..
dalam lemahku
Kuatkan hatiku
Untuk selalu berserah dalam cintaMU

****
banyak hal-hal mengharukan hari ini
*
*
*

Tuesday, August 21, 2007

Kisah di Bawah Hujan

Rintik rinai hujan
Sirami hamparan kekeringan
Beri sercecah pengharapan
Pada rumput-rumput kuning kemerahan

Aroma tanah basah
Di rindu bumi yang kerontang
Hilang sudah resah gelisah
Lupa cerita kemarau panjang

Daun daun tersenyum indah
Takjub beryukur akan anugrah
Hutan lebat berbisik ramah
“semoga hujan membawa berkah”

*** I Love Rain ****
*
*
*
*

Monday, August 20, 2007

Pendamai

engkau yang tersenyum damai
ketika deru amarah tengah membara
engkau bawa telaga kata
di kecamuk pendapat yang bertikai

engkau usap dada sendiri
ketika kata berbalik menyerang diri
engkau lawan rasa keegoisan diri
saat nurani mulai merasa disakiti

*** teruntuk seorang sahabat selalu jadi pendamai yang barusan curhat susahnya jadi pendamai*** selalulah tersenyum damai***
*** dunia suram tanpa senyummu***

Sunyi

Kupilih sunyi
saat kurasa tubuh ini berduri
aku takut melukai
setakut aku dilukai

kupilih menyepi
saat hati ini hilang arti
sulit bagiku peduli
sesulit aku berbagi

tiada salah dengan hari
tak ada salah pada waktu
bila tak sedap rasa di hati
" silaf hanya pada diriku "

*Jakarta Siang Hari*

*

Thursday, August 16, 2007

Menyepi

saat ingin menyepi
tak peduli ramai kata di luar diri
acuhkan ragam tatap pada diri
nikmati saja sepi dalam sunyi


*** saat ingin menyepi***

Tertawan Malam

Tertawan malam

tertawan malam
tiada mampu mata terpejam
pejam mata tiada lena
kemana angan mengembara?

Apakah gelap yang ditakuti
Ataukah mimpi yang dihindari
Terpicing jaga tak mati
Terbaring jiwa berlari

Apakah doa yang tak dimaknai
Ataukah jelaga penuh di hati
Apakah jiwa kurang berserah
Ataukah salah telah membungkah

Tertawan malam
Dalam kelam tak terpejam
….
*
*

Senandung Cinta Indonesiaku

RAYUAN PULAU KELAPA
Written by :Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia
Negri elok yang amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau Melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik-bisik Raja klana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Indonesia


Indonesia Pusaka :

Karangan / Ciptaan : Ismail Marzuki

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

*** andai saja lagu-lagu ini mengalun diiringi biola***
****

Dirgahayu Negeriku
meski kini banyak yang telah pecah
bagiku engkau tetap indah
meski begitu banyak cerita salah kaprah
bagiku engkau tetap megah
meski banyak tangan yang serakah
bagiku engkau tetap ramah

meski di sini banyak yang bertikai
bagiku engkau tetap damai

*
*
*

Tuesday, August 14, 2007

ketenangan

ketenangan
bukanlah hidup tanpa harapan
tapi saat harapan tak tersangkut pada ciptaan


***JKT, 14 Agustus 2007***
*
*

Monday, August 13, 2007

Si Pipit Ternyata Ultah


setahun jejak di goreskan
dalam untai kicau senandung kata
sedih bahagia tertuliskan
semua indah dalam bahasa


Pagi ini Blog walking. melihat melihat blog ada postingan tentangnn ulang tahun blog, saya jadi mikir blog saya kapan ultahnya ya?.. ternyata ultahnya hari ini... ternyata telah setahun sudah blog ini mencatat hari hari benang-benang peristiwa, telahkah terajut kain cerita?

setahun sudah kenangan terajut dalam untaian kata kata, blog kenangan.... I love U my Blog...blog mungil Si Pipit Padi.



setahun pipit berkicau
gerangan apa yang terkabarkan
setahun kata dilantunkan
bumi manakah yang mendengarkan?

air mata ruah dalam butiran kata
sedih tertiup dalam bisikan kata
senyum tersemai dalam ulasan kata
bahagia menyeruak di taman kata


ada doa dalam kata
agar semuanya terasa Indah.

Wednesday, August 08, 2007

Diary Tengah Malam

Jam 12 saya masih baru berbaring hendak tidur sehabis ngobrol dengan teman-teman di ruang bawah sambil nonton TV, karena terlalu puas tidur siang, malamnya malah tidak ngantuk lagi( benar-benar holiday). Pas masih baru berbaring masih dalam membaca doa tidur dan harap agar tak terbangun dengan rasa sedih, tiba-tiba tempat tidur serasa didorong dengan keras, saya bingung tapi tidak ada pikiran itu gempa, dalam hati bertanya "apaan yang dorong tempat tidur ya? " Entah saking telmi atau bingung saya malah melongok kolong tempat tidur, “ "nggak ada apa-apa”, setelah lampu saya nyalakan baru saya sadar itu gempa, melihat hiasan kecil di dinding kamar berayun-ayun. Saya langsung keluar kamar, teman kamar sebelah juga merasakan hal yang sama, akhirnya kami sama sama turun ke bawah, untung saya masih bisa menyambar handuk sebagai pengganti kerudung. Di ruang bawah tangga nampak hiasan-hiasan dan gantungan lampu bergoyang-goyang. Ternyata teman-teman yang di lantai bawah sudah pada lari ke luar rumah. Di luar pintu pagar masih bergoyang-goyang.

Di jalan komplek ternyata tetangga-tetangga sebelah juga sudah berhamburan ke luar rumah. Tapi Bapak dan ibu kos kami sepertinya tidak merasakan gempa. Awalnya hendak dibangunkan tapi karena gempa telah berhenti rasanya sayang juga dibangunkan. Saat terasa aman, Ibu-ibu tetangga itu nampak saling berpelukan dengan tetangga lainnya seperti lama tak berjumpa. Awalnya saya heran kok pada pelukan ya?, teman langsung menjawab “ mungkin mereka jarang ketemu, karena kebetulan sama keluar malam ini, jadi sekalian silaturahmmi, ya siang siang semua pada sibuk “ saya senyum sendiri mendengar jawaban teman. Benar juga, jika jawaban teman ini benar, tetangga yang hanya dibatasi oleh pagar saja kadang tak saling bertemu.sibuk dengan urusan mereka masing-masing. ( termasuk kami, saya juga tak kenal tetangga sebelah hanya wajah saja, jika berpapasan paling hanya bertegur senyum).

Yang lebih sedih seperti anak-anaknya. Anak ibu kos saja. Mainnya hanya di dalam rumah saja sibuk dengan TV, game dan belajar, yang kadang belajar terlihat agak dipaksakan. Jarang sekali saya melihat ia main ke luar rumah dengan teman-teman sebayanya, main di lapangan atau permainan apa saja, inikah hidup di kota besar? Ruang hidup serasa begitu sempit, bagi saya yang mungkin masa kanak-kanaknya di besarkan di kampung yang semuanya serba luas dan terbuka tak kenal pagar pembatas, mau main ke ujung kampung yang jauh sekalipun ada saja yang akan mengenal, begitu banyak teman, permainan dan orang tua juga tidak khawatir, ada kebebasan yang luas untuk bermain asalkan pas azan magrib semua sudah di rumah sudah bersih. Tapi ini Jakarta bukan dusun kecil di kaki Gunung Sago. Jadi anggap saja “ Di mana bumi dipijak di situ langit dijujung ”

Di luar rumah sambil menunggu takut jika ada gempa susulan. Kami malah mengobrol lagi. Terutama pengelaman nge-kost di rumah itu. sudah tiga kali mengalami kejutan-kejutan di tengah malam. Pertama banjir, ke dua rumah tetangga yang kebakaran semalam gempa. Setiap kejutan selalu ada cerita suka-duka dan lucunya. Cerita-cerita yang suatu saat nanti akan jadi kenangan.

Setelah merasa tak apa-apa, kami semua masuk lagi, di SCTV langsung ada berita gempa yang menyatakan pusat gempa di Indramayu dengan kekuatan 7.2 skala R. ternyata gempanya cukup kuat dalam hati hanya bisa berharap semoga tidak terjadi kerusakan yang disebut bencana Amin….

*
*
*

Tuesday, August 07, 2007

keteduhan



keteduhan di lembah hijau
menatapmu memberi damai
pengobat jiwa yang risau
di antara hati yang bertikai

berliku jalan setapak
meliuk ilalang tersentuh angin
meski hidup penuh onak
hadapi semua dengan kepala dingin.



***
hard day..( just to my self)
*
*
*

Monday, August 06, 2007

Bintang

Petang datang
Menggulung terang
Malam kan kemenjelang
Akankah kutemui bintang?

*** aku rindu melihat bintang di langit tinggi bukan dalam mimpi***
*

Teruntuk kawan

Teruntuk Kawan

Kawan
bila pulau impian telah tenggelam
teruslah berlayar
nun jauh di balik samudra pengembaraan
masih ada benua pengharapan

kawan
bila layar itu tercabik badai
jahitlah dengan benang ketulusan
bentangkan kembali di atas bahteramu
agar angin mengantarmu ke arah tujuan

kawan
bila bahteramu retak di tengah
tautkanlah dengan lempeng kesabaran
kokohkan dengan paku tekadmu
jadikan ombak ganas sahabatku
agar kapalmu kian berpacu melaju
di atas lautan kisah yang kan jadi sejarah


kawan
bila bahteraku pecah karam di tengah
tolong lanjutkan mimpiku
yang kutitip terselip di ujung layarmu

*** puisi lagi iseng, dedicate buat siapa saja yang mau disebut kawan***
*
*
*

Senandung Rindu Untuk Bunda

Bunda
Pagi ini aku merindu
Merindu teduh tatapanmu
Menatap telaga kasih di matamu
Merasakan hangat rengkuhanmu

Bunda
Pagi ini aku merindu
Mendengar cerita sederhanamu
Tentang tungku mengepul pagi ini
Tentang si belang yang telah lincah berlari
Melihat senyum tulus di gurat wajahmu
Seolah menyemai bunga semangat di jiwaku

Bunda
Pagi ini aku merindu
Lingkaran cinta di rumah kita
Jendela-jendela yang terbuka
Biarkan cahaya dan hembusan angina lereng menyeruak bebas
Ada tawa, ada canda
Seadanya dalam kata, bermakna dalam cinta

Jakarta, 9: 41 Am, 6 Juli 2007.

Thursday, August 02, 2007

Lelah

Hanya lelah
tersisa kini
hanya rebah
teringin kini

tempat terindah yang kurindu kini hanya " RUMAH "

---
---
---

***
When i feel not good,
When i really miss " HOME "
Home huge me with love
*
*
*

Sunday, July 29, 2007

Bunga & Matahari

Bunga...

bunga persahabatan yang engkau semai
akan kusambut dengan senyum persaudaraan

semoga mekar dalam taman keikhlasan
subur dalam pagar ketaqwaan
dalam siraman cahaya petunjuk-NYA
amin…


Matahari...

Bila cahaya matahari terasa sangat panas, mari sejenak duduk di tepian pantai menyaksikan tenggelamnya matahari di ufuk senja diiringi syair lagu Kemesraan. Dan semoga semua bara yang pernah menyala padam bersama mentari yang tenggelam. Hingga tiada lagi panas hilang ke dalam waktu yang tak lagi siang. Lelaplah matahari di peraduan keindahan senja.ketika malam tak ada lagi matahari. Dan Esok adalah hari yang berbeda.

Thursday, July 26, 2007

Pengaduan Senja

I.
Robb

padaMU aku mengadu
jangan biarkan badai ketakutanku
hancurkan benih-benih senyuman
yang selalu tersemai indah
dalam taman bibir kedamaian


II

izinkan kunanti malam
menawanku lebur bersama bintang
kerlap kerlip di kegelapan
untuk hapuskan segala keraguan

Wednesday, July 25, 2007

Cerita pagi di musim kemarau

Ada haru ketika kubuka jendela
Saat kutatap cahaya mentari pagi
Ketika kulangkahkan kaki
Di bawah sinar terang permata bundar dunia

Ada telaga mengaca di balik kelopak mata
Ketika burung-burung kecil berterbangan di antara tembok-tembok kota
Pagi di musim kemarau tak ada tetes embun yang menyapa
Tapi pagi itu tetap ada, pembawa cahaya
Mentari pagi yang sama, tapi berbeda makna
Mentari datang dengan terang, tapi terlarang untuk dipuja

Masih ada bunga bunga
Mekar dalam siraman sang penjaga taman
Aneka warna beragam aroma
Mengundang kupu-kupu menari
Memberi senyuman pada setiap orang yang melewatinya

Aku terus berjalan
Lewati debu-debu jalanan
Ada ketakutan
Ada kecemasan
Ada keraguan
Berbaur bersama keharuan

Aku harus lewati hari
Karena musim pasti akan berganti
Kemarau sebelum hujan
Mekar sebelum gugur
Cerah sebelum mendung
Gelap sebelum terang

Tapi di sini
Tetap ada ketakutan
Takut memuja pesona bunga yang tetap mekar dalam kemarau
Bila nanti kembali menyaksikannya gugur di depan mata
Kelopak-kelopak putih berjatuhan ke peraduan bumi
Sisakan kenangan ia pernah merekah

Kini
biarlah bunga bunga mekar
dengan pesona seadanya
mentari tetap bersinar
sesuai dengan titahnya

di sini, aku
menawar getar, meredam debar
harap semua kembali datar
bersama roda waktu yang terus berputar

*** Jakarta, ketika pagi tanpa embun ***

____
___
_

Tuesday, July 24, 2007

Pelangi Pengharapan



Lengkung pelangi pengharapan
Titian asa tiga warna
Bias cahaya setelah hujan
Setengah lingkar nauingi bumi

Tersipu senja pada hamparan
Istana hijau bercermin air
Berpesan air pada cahaya
‘ denganmu ia berbinar ‘

**July, 2007 in Jakarta**

*** Dedicated to sahabat. Dhani Ardiansyah, yang telah menemukan pelangi dalam sepasang mata bidadari, ditunggu hari “ H “ nya ya…. ***

*** don't kill an announcer yeah.... inikan hanya = that's what friends are for ***

Friday, July 20, 2007

Malam

Cukuplah malam
sampaikan salam
pada keheningan dalam temaram

Wednesday, July 18, 2007

Pesona Langit Malam


Adakah yang memperhatikan langit malam Jakarta, atau di mana saja dua malam yang lalu?. Jika ada, adakah yang setuju dengan saya, jika langit saat itu begitu indahnya?. Ya malam itu,langit luar biasa indah, bulan sabit besanding dengan bintang terang di sampingnya, tepat di bawah bulan sabit di tengah-tengah sabit, ada satu bintang kecil kemerah-merahan. Seperti sebuah cincin emas berkilau berpermatakan delima kemerahan, tersapu cahaya terang bintang putih kekuning-kuningan. Pekat kelam langit malam tanpa awan, membuat bulan sabit dan bintang-bintang bebas memperlihatkan keindahannya, kerlap-kerlip mengantung indah, butiran-butiran kemilau bercahaya menyapa setiap mata manusia yang menatapnya.

kapan ya bulan dan bintang akan terlihat seperti waktu itu lagi?


----
---
-

Mentari

Mentari
Tlah kulihat senyummu
Di antara dua permata
Mutiara dari timur dan Rubi ufuk barat
Rona kilau penuh cahaya
Berbinar dan bersinar

Dua maaf telah beradu
Angin berhembus tak lagi tabu
Yang pernah terang akan kukenang
Yang pernah redup akan kututup

Friday, July 13, 2007

Irama


Wahai irama
Percayakah engkau?
Bila denting melodiku mati suri
Sejak senar asaku terputus
Karena salah jemari memetik bunyi

tapi irama
teruslah mengalun
agar puisi hati tetap rimbun

Coretan Hati yang Tak Usai

Kerling Bintang, cerpen yang baru saja baca di majalah pagi ini dalam salah satu alenianya tertulis:

“ Hujan terus, Is. Kadang kami di sawah bermandi hujan. Kalau sudah begitu deras, kami bernaung. Kamu masih ingat kan, is, nikmatnya nasi hangat meski hanya dengan sambal, disantap di hari hujan?”

Membaca alenia ini, ada getar rindu yang terasa, rindu akan saat bermandi hujan di sawah, dan jika hujan semakin deras bernaung di bawah dangau beratap ilalang. Ada getar haru terbayang raut wajah ayah bunda, dingin basah bertahan di bawah rintik hujan di tengah sawah demi harapan anak-anak bisa terus sekolah( jasa yang tak mampu terbalas oleh apapun).

Cerpen ini bercerita tentang perjuangan kakak beradik yatim piatu. Lebih tepatnya perjuangan seorang kakak demi adik adiknya. Mengharukan ceritanya tapi di akhir cerita alenianya tertulis;

“ Ah, air mata seakan telah habis ia keluarkan. Matanya kembali menatap milyaran bintang. Ia seakan melihat senyum kakaknya pada salah satu bintang. Entah, senyum kecewa atau senyum bahagia….”

Sebuah akhir yang menyedihkan, ketika sang kakak tewas tersambar petir di sawah dan sang adik belum sempat menyatakan kepada kakaknya bahwa ia telah berhenti kuliah karena biaya yang tak ramah kepada orang-orang seperti mereka. Padahal dalam kisah itu tergambar perjuangan keras hidup mereka.

Saya langsung teringat salah satu buku cerita karangan Sutan Takdir Alisabana “ Tak Putus Dirundung Malang”. Yang saya baca waktu SMP, kisah ini menceritakan sepasang kakak beradik yang saling menyayangi, pergi merantau untuk melanjutkan kehidupan mereka. Akhirnya sebuah toko roti menjadi pengharapan untuk tetap bertahan hidup, setelah itu tempat satu satunya yang sudi menerima mereka sebagai pekerja di sana.

Di sana kisah hidup bergulir, kisah-kisah sederhana yang dikemas dramatis, perjuangan, ketulusan, keluguan, dan kejujuran dua tokoh kakak beradik berbaur bersama iri dengki dan tipu daya, dan niat niat terselubung orang-orang sekitar, yang seolah juga menggambarkan dunia tak akan pernah ramah pada orang-orang seperti mereka. Hari demi hari kemalangan demi kemalangan tak putus merundung mereka. Hingga akhir cerita yang sangat tragis. Si adik perempuan mati bunuh diri, sedang sang kakak mati jatuh dari kapal, dan jasadnya tak lagi dicari orang karena tak ada lagi yang mempedulikan, jangkar kapal hanya diturunkan sesaat setelah itu berlalu seiring habisnya tutur cerita.

Buncah ruah begitu perasaan saya dulu waktu membaca akhir cerita itu. mengapa cerita itu begitu kejam, dua kakak beradik yang sangat baik, tulus, jujur serta lugu harus berakhir dengan tragis seperti itu. Rasanya setiap yang hidup pasti akan mati, tapi mengapa kematian sang adik harus bunuh diri, dan kematian sang kakak harus bersama keputusasaannya dalam sebatang kara, setelah kehilangan adik semata wayangnya sedang karakter tokohnya begitu kuat digambarkan jika mereka orang-orang yang baik. Mengapa pengarang kejam sekali, mengapa yang baik tidak berakhir baik di akhir cerita. Mengapa matinya tidak baik, tidak adil. Mengapa pengarang tidak mematikan tokoh dengan cara yang baik.

Sedih, luar biasa ketika tenggelam dalam ceritanya, tapi kemudian saya terpikir, itu hanya cerita, dan Sutan Takdir Alisabana telah berhasil menjadikan ceritanya sesuai dengan judulnya “ Tak Putus Dirundung Malang” sehingga saya sebagai pembaca tak putus dirundung air mata ketika membacanya, jika cerita nya berjudul “ Tak Putus Dirundung Mujur “ atau “ Rundung Malang Membawa Mujur “ tentu kisahnya akan berakhir bahagia, atau setidaknya dengan kematian yang indah, sebuah kematian yang membahagiakan di hari kebangkitan nanti, dan cukuplah derita mereka hanya di dunia saja.

Itu hanya cerita buah karya manusia, akhir cerita rekayasa manusia, atau nyata berbaur rekayasa, cerpen Kerling Bintang dan roman Tak Putus Dirundung Malang dua kisah berakhir tragis terhadap tokoh-tokoh yang digambarkan baik, adalah buah karya manusia, wajar jika di sana saya merasakan ketidakadilannya. Karena rekayasa yang sempurna adalah dari Pemilik Seluruh Kesempurnaan, yang baik pasti akan berakhir baik, jika akhirnya tidak baik pada hal yang seolah tampak baik, pertanyakan kembali berarti dalam yang tampak baik ada unsur ketidakbaikan, yang buruk akan berakhir buruk, jika berakhir baik untuk hal yang seolah buruk, berarti dalam hal yang tampak buruk ada unsur kebaikan, hanya mata salah melihat, hati salah menduga, sedang keadilan Yang Maha Adil itu PASTI. Jika belum bisa menemukan keadilan berarti hati yang masih harus diadili (terutama buat diri sendiri).

Membaca karya yang berakhir sedih yang tidak menenangkan bukan haru yang menyejukkan, kadang saya suka berpikir dua kali, buat apa membuat suasana hati makin gaduh dan sengaja membuat keruh, sedang yang telah keruh saja butuh waktu untuk menjernihkannya kembali. Tapi juga pelajaran, jika membaca sesuatu jangan terlalu larut dan tenggelam nanti susah mengapung kepermukaan lagi.

Saya tipe orang yang mudah tenggelam dalam alur cerita tapi susah naik mengapung lagi. Tapi juga tak mungkin setiap cerita yang ada di dunia ini indah-indah saja, alangkah sangat egois dan kekanak-kanakkan jika hanya menginginkan akhir cerita yang indah-indah saja ( hmm dua sifat yang seringkali kambuh). Apapun yang terjadi dan akhirnya apapun yang didapat dari setiap cerita hidup harus dihadapi dengan lebih dewasa. Mungkin seperti komentar Bapak yang sering saya dengar “ Kekanak-kanakanmu tak pernah hilang “ malu sendiri jika mengingatnya dan juga berikut nasehat “ Belajarlah untuk lebih dewasa Nak…” ( I keep trying Pak).

Hidup tak akan selalu indah, tapi selalu punya hikmah…..

Bersambung………

Wednesday, July 11, 2007

Aku Takut

Robbi

Aku takut
Saat langit waktuku tertelungkup
Aku tengah terpaut untaian indahnya dosa

Aku takut
Saat Engkau perintahkan penjemputan
Aku sedang berpesta dengan hidangan kelalaian

Aku takut
Saat raga jiwaku saling melambai
Aku sedang terbuai dalam ayunan kesombongan

Aku takut
Saat kisah ceritaku telah tamat
Aku sedang merangkai bait-bait puisi iri dengki

Aku takut
Saat masa janjianku telah tiba
Aku sedang bertahta di singgasana hawa nafsu

Aku takut
Saat padang pengembaraanku telah digulung
Aku sedang menyandang kilau gelar kebodohan

Aku takut
Saat tiba waktu menemuiMU
Aku datang tanpa cahaya

***

Tuesday, July 10, 2007

Terbanglah pipit

Pipit kecil
Terbanglah
Bukalah sangkar jeruji hatimu
Bebaskan kicau senandung jiwamu
kepakkan sayap-sayap mungilmu

pipit kecil
lihatlah
dahan ranting yang setia engkau singgahi
angin yang tersenyum menyambut kepakanmu
sunyi merindu bahasa kicaumu

pipit kecil
sudahlah
damaikan mata dengan hatimu
silau cahaya tak akan membunuhmu
bila ajal belum teruntuk bagimu
tapi kusut sayap-sayap lusuh
mungkin kan padamkan lentera hidupmu

pipit kecil
cukuplah
kini... terbanglah

***

Thursday, July 05, 2007

Biarkanlah

Biarkanlah permukaan lautan tetap tenang
bila itu mampu selimuti derasnya gelombang dasar lautan

biarkanlah terik siang itu menjauh
bila itu bisa memberi teduh pada bumi

biarkanlah kelopak bunga-bunga itu berguguran
bila itu bisa menambah suburnya tanah

biarkanlah hujan turun deras tanpa gelegar guruh
bila itu bisa membuat tumbuhan tertawa riuh

biarkanlah angin udara tetap membisu
bila itu bisa menyampaikan setiap bisik bunyi dan suara lalui getaran gelombangnya

Biarkanlah benteng itu seolah berdiri kokoh meski hendak roboh
bila itu bisa menghindari pandangan iba musafir yang lewat

Biarkanlah sepi menyendiri dalam hening
bila itu bisa memberi sejenak ketenangan

biarkanlah gunung termenung dalam bisunya
bila itu bisa membuatnya anggun membiru dari kejauhan

biarkanlah mendung berlalu setelah hujan
bila itu bisa membuat mentari bersinar makin terang

biarkanlah pohon diam dalam tegak kakunya
bila itu bisa membuatnya khusuk dalam tasbihnya

biarkanlah pipit tetap menjadi pipit
bila itu bisa membuatnya mengerti arti bahagia tanpa khayal berubah menjadi merak

biarkanlah alam berputar sesuai aturannya
bila itu bisa mengajari banyak tersirat ilmu pengetahuan

biarkanlah apapun yang terjadi terangkum dalam perumpamaan terindah
bila itu bisa menuntun hati untuk menemukan kepingan hikmah

****
( Biarkanlah pagi di Jakarta tetap terasa cerah dengan sinar bola mata dunia yang menerangi)

Tuesday, July 03, 2007

Segelas Teh Pagi Hari

Segelas Teh di mejaku
Penyegar raga pagi hari
Temaniku lewati waktu
Seiring terbit sang mentari

Segelas teh di mejaku
Beri aroma penguat diri
Rasa manis tak terlalu
Penawar getir getar hati

****
Segelas teh di meja kerja
Minum Yuk……

Minum teh pagi, sejak kecil saya suka minun teh pagi hari, mungkin karena sudah kebiasaan keluarga, pagi hari berkumpul bersama sebelum berpencar masing-masing dengan aktivitas sekolah atau ke sawah. Minum teh disertai santapan ringan buatan tangan Amak, kadang pisang goreng, pisang abuaih, kue mangkuak, bubur kacang ijo, lamang panggang, limpiang atau makanan kecil lainya.

Menatap jendela yang terbuka nikmati cahaya matahari yang muncul dari balik bukit Barisan. Memandang keindahan birunya gunung Sago dengan iringan irama kicauan pipit dan punai serta murai yang terbang rendah di halaman. Berbaur bersama kokok ayam yang mulai ricuh mengais tanah mencari butiran makanan, mungkin bulir beras dan padi atau dedak kemarin petang yang sengaja diserak sehabis menumbuk padi di heler ujung kampung.

Kue terakhir jadi rebutan dengan sang kakak, dibagi dua tanda damai beradik kakak setelah sering saling mengalah, siapa yang memberi berarti lebih sayang, karena sama-sama mengaku sayang kuenya jadi dibagi dua untuk bisa saling memberi. Mungkin itu cara Amak mendamaikan kami jika mulai berebut sesuatu, hingga saling menunggu jika salah satu tak ada di rumah tak ingin mengambil jatah lebih dulu, jika hanya tersisa sepotong kue.

Kini, segelas teh di meja kerja tanpa kue buatan Amak, tak ada canda Bapak, tak ada suara kakak. Tak ada jendela yang terbuka tanpa gunung yang biru. Tapi cukuplah segelas teh hangatkan kenangan di jiwa ini, kebersamaan itu akan tetap ada hidup dalam ingatan meski terpisah bentangan darat dan lautan. Nikmati segelas teh pagi ini, semoga hari ini seterang cahaya mentari yang menyusup lewat sela-sela tirai jendela kaca.

( pagi di meja kerja)

Monday, July 02, 2007

Lah Laruik Sanjo

Lah laruik sanjo
By..
( sayang nggak tau nama penyanyi dan peciptanya)

Mandi kalubuak mandalian
Mandi kalubuak mandalian
Udang di sangko tali tali
Udang di sangko tali tali
Onde... onde... lah laruik sanjo
Onde... onde ... lahlaruik sanjo

Mabuak untuang jo parasaian
Mabuak untuang jo parasaian
Patang di sangko pagi ari
Patang di sangko pagi ari
Onde onde lah laruik sanjo
Onde onde lah laruik sanjo.


************************

Jikok rinai turun di hari sanjo
badabok dado hati batanyo
apo garangan kaba barito
cameh bakuah jo aia mato

tarang siang baganti sanjo
jikok ati sanang baganti ibo
hanyo manyarah pado nan Kuaso
buliah nak kuek iman di dado

*** alah sanjo di tanah Jao***

Thursday, June 28, 2007

Lena


Lena
Lelapkanlah aku
Agar kutemui mimpi
Yang telah hilang saat terjaga

***
I m so sleepy

Tuesday, June 26, 2007

Sajak Negeri Legenda dan Impian (utopia)

Sekuak rentak tanah berjejak
Sejarah tersebar antar benua
Lembar zaman pernah berarak
Sejarah negeri bangsa legenda

Di tanah induk negeri lama
Membentang ke pulau kecil timur afrika
Gugusan mutiara lautan selatan Amerika
Gugusan bernama kembaran kecil jawa

Perahu cadik mencabik lautan
Singgahi dermaga persinggahan
Di situ jejak ditinggalkan
Satukan negeri di bawah panji kejayaan
Nusantara di tinta zaman

Di situ budaya pernah berjaya
Halus bahasa ramah rakyatnya
Budi pekerti dijunjung tinggi
Kuat agama tentramlah negeri
Jika iman kokoh di dada damai dunia dalam genggaman
Jika iman kulit belaka hancur negara dalam keserakahan

Setia jadi perisai bangsa
Rakyat cinta akan pemimpin
Raja lebih cinta pada rakyatnya
Raja takut rakyat melarat
Rakyat ingin raja selamat
Tiada beda kaya dan jelata
Di dalam bangsa kita sama
Tenggang rasa tepa selera
Seliuk sedayung jalankan bahtera

Kini waktu berputar sudah
Usah lupakan sejarah silam
Tapi jangan juga tenggalam
Oleh nostalgia bangsa bertuah

Sejarah lama jadi pedoman
Bukan jadi senjata kesombongan
Memandang rendah yang berlainan
Menganggap tinggi budaya sendiri
Mudah mencaci lagi memaki
Mengaku diri bangsa berbudi
Tapi lupa menengok diri

Minta dipuji enggan menghargai
Marah dicaci suka memaki
Mudah bertikai susah berdamai
Gemar berdebat enggan bersahabat

Kawan jadi lawan musuh jadi teman
Kesetiakawanan diabaikan
Kepentingan ditonjolkan
Jika hilang kejujuran habislah kepercayaan
Harapkan kemenangan tapi malah jadi hidangan

Tapi waktu kan terus berjalan
Dalam gelap selalu ada harapan
Di antara yang zalim ada yang alim
Semoga hadir jadi pemimpin
Luruskan jalan bentuk barisan
Sama berjuang dalam keikhlasan
Untuk wujudkan negeri impian


“Teruntuk diri sendiri, dan siapa saja yang membaca”

Sajak ini sudah lama ditulis tapi baru hari ini selesainya. Sebagian dari isinya terinspirasi dari sebuah buku ‘ Riau Sekuak Rentak” karya seorang dosen waktu kuliah. Meski judulnya memakai kata Riau tapi isinya bukan mengisahkan tentang Riau semata, tapi tentang sebuah kupasan sebuah bentang kebudayaan yang lebih luas. Saya mengagumi beliau dalam kepakarannya masalah kebudayaan, walau kuliah dengannya hanya bisa pada semester pendek saja, karena beliau lebih banyak jadi dosen terbang ke luar padahal terdaftar sebagai dosen tetap di Univ Negeri tempat saya menuntut ilmu dulu.

Mendengarkan kupasan tentang kebudayaan bagi saya adalah sesuatu yang menarik. Dalam kebudayaan rasanya beda pendapat, beda presepsi adalah hal biasa. Meski kadang dalam perkuliahan menahan panas hati jika unsur yang diyakini sebagai kebudayaan yang telah membesarkan diri mendapat kritikan tajam, tapi itulah perbedaan akan saling berbenturan bila tak saling ada penghargaan dan tak saling menahan diri saat mendapat kritikan. Jika sama sama menghargai mungkin akan menghadirkan sebuah solusi untuk perbaikan. Banggalah dengan kebudayaan sendiri, asal saja kebanggaan itu tidak sampai meremehkan kebanggaan pihak lain.

Meski mengagumi kepakarannya ada juga satu hal yang membuat saya mungkin akan mengambil sikap berseberangan dari banyak hal yang bisa beriringan, ada suatu kesimpulan kesepahaman yang membuat saya tak sepaham, meski waktu yang singkat tak akan cukup untuk memahami sebuah pemikiran lebih dalam atau mengambil suatu kesimpulan mutlak. Bagi saya perbedaan bukan untuk disepahamkan atau diseragamkan, tapi untuk saling mendapatkan hak penghargaan yang sama, perbedaan itu punya ruang gerak tersendiri, selama tak saling memusuhi untuk apa saling memerangi, tapi jika diserang sepihak tentu tak ada salahnya mempertahankan diri.

Meski berseberangan pemahaman saya juga tak ingin memperdebatkan pertentangan untuk hal-hal yang saya tak cukup punya pengetahuan tentang itu. Siapa tahu apa yang saya anggap benar adalah sesuatu yang salah karena minim dan dangkalnya pengetahuan saya.

Beda pendapat antara guru dan murid adalah hal biasa, yang terpenting murid jangan sampai tidak menghargai seorang guru. Guru punya hak untuk dihormati, tugasnya adalah mengajari sedang tugas murid mempelajari dan ambil yang bermanfaat abaikan jika dirasa tak sejalan tanpa perlu pertentangan.

Tahun lalu, di tempat yang tak terduga di Jakarta saya bertemu dengan beliau, waktu saya coba menyapa sepertinya beliau terheran saja. Adalah hal wajar seorang guru lupa murid yang kurang wajar murid lupa akan gurunya. “ Semoga dalam budaya tetap berjaya Pak”

( ketika rindu saat saat duduk di bangku perkuliahan )

Monday, June 25, 2007

Hari ini

Hari ini
biarlah air mata itu ruah
mengalir mencari muaranya sendiri
ia akan mengalir tanpa gemericik bunyi
ia akan berhenti sendiri setelah puas tercurah


hari ini
izinkan senyum itu rekah
anggap sebagai pengganti puisi
yang kupersembahkan sebagai hadiah

bila mentari telah pergi
kutunggu bulan dan bintang
karena aku tetap malam
yang selalu rindu cahaya

malam butuh cahaya
meski dunia tak percaya
malam rindu lentara
meski terkesan tak membutuhkannya

karena malam selalu diam
menyimpan mimpi dalam bungkam
karena malam tak terlihat
tertutup gelap pekat
malam tak terdengar
karena malam hanya bisa mendengar

tapi malam selalu merindu cahaya.
hanya satu cahaya
penerang gulitanya

****
Siang Di Jakarta

Friday, June 22, 2007

belajar menikmati hari

Saya biarkan tirai ruangan ini terbuka, sehingga cahaya bisa bebas masuk keruangan ini dari balik kaca, saya suka melihat ruangan tampak lebih terang dari biasanya. Dua hari boss keluar kota, dan saya merasa punya kesempatan untuk membereskan dan mengutak-atik hard file tanpa khawatir akan menimbulkan suara yang berisik, jika boss duduk di mejanya membereskan file file itu akan menimbulkan suara yang lumayan berisik.

Saya tak tahu sampai kapan saya akan jadi penghuni ruangan ini, kontrak kerja akan berakhir beberapa bulan lagi, akankah diperpanjang, memperpanjang, atau entahlah saya tidak tahu. Hari-hari kemarin tingkat kejenuhan saya benar benar tinggi, saat saya mulai ingin mengeluh saya mendengar percakapan telpon tak sengaja tetangga sebelah kamar kos tengah malam, sebenarnya saya tak berniat mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi saya belum tertidur saat ia berbicara lumayan keras tengah malam yang telah sunyi, kayu dinding pembatas antar kamar tak mampu meredam suara itu. Tapi bagi saya itu bukanlah kebetulan, karena saya hanya bisa ikut menangis mendengar percakapannya. Percakapan itu membuat hati malu untuk mengeluh. Terima kasih untuk suara itu yang telah menembus kamar saya.

Selagi masih ada waktu saya ingin tetap tidak mengeluh, mencintai pekerjaan begitu banyak artikel tentang cara mencintai pekerjaan. Nikmati dan syukuri pekerjaan karena banyak orang di luar sana yang begitu mendambakan mendapat pekerjaan.

Hari ini saya ingin menikmati cahaya terang di ruangan ini. Jika saya nanti tidak diperpanjang kontrak atau juga tidak ingin memperpanjang kontrak, bukan karena pekerjaan tidak saya nikmati tapi karena memang waktunya sudah berakhir. Kini berikan saja yang terbaik untuk pekerjaan ini selagi saya mampu.

Menunggu batas waktu. Jika batas waktu itu nanti telah tiba saya ingin mengakhirinya dengan indah. Tanpa ada penyesalan dan kesedihan tanpa ada ganjalan. Agar bisa menyongsong hari depan dengan semangat yang baru.

Lakukan dengan cinta dan jika tiba saat melepaskan, saya ingin melepas dengan cinta juga.


****
tulisan ini saya tulis sejak pagi karena sibuk dengan file2 saya baru bisa selesaikan senja ini

Wednesday, June 20, 2007

Buat Ponakan Kecilku

Matahari kecilku

Hari ini
Dua tahun genap usiamu
Telah lihaikah berlari?
Telah lincahkah bermain?
Telah lancarkah mengeja kata?

Di sini hujan turun basahi bumi
Sederas rindu ingin melihat wajah mungilmu
Mengenang tingkah lakumu yang lucu
bersarung kecil kopiah mungil
gerak gerik lugu ikut sembayang
ikut bersuara saat azan berkumandang
meski bunyi suara belumlah jelas
ach… serasa badan ingin pulang

matahari kecilku
dari jauh kuhantar doa
semoga kini dan juga nanti
jadi mentari ayah bundamu
jadi penerang dalam gulita
penyejuk mata pendamai jiwa
dalam cahaya jalan lurus-NYA


To: My lovely nephew Syaamil S
Hari ini ponakan saya di kampung ulang tahun, rindu sekali ingin melihatnya, apakah sekarang ia sudah bisa bicara dengan lancar, lebaran kemarin masih cadel, ia memanggilku Tek Uur, Cuma lidahnya yang masih cadel Cuma bisa memanggil Tek tanpa bisa bersuara dan hanya bisa mengeluarkan bunyi U’U. lucu jika dipanggilnya begitu, bagi saya seperti sebuah panggilan kesayangan saja darinya.
Kata uda sifatnya rada mirip dengan saya waktu masih balita. Jika sedang merajuk suka sembunyikan wajah ke arah dinding sambil menangis tersedu-sedu tanpa suara, benarkah saya seperti itu waktu kecil? Saya sendiri juga tidak tahu, tapi jika benar malu dan lucu juga jadinya jika dibayangkan. Jika ponakan saya juga punya tingkah seperti itu berarti turunan dari eteknya ini ( hehehehe), menangis kan boleh meratap dilarang, anggap aja prakteknya seperti itu ( hmmm ini hanya pembelaan diri saja).

Tuesday, June 19, 2007

Hujan pagi hari


Tanah basah
Pagi hari
Langkah terarah
Tak berlari

Rintik hujan
Payung ungu
Sendiri berjalan
Terus melaju

Jalan ramai
Terasa sepi
Hati bertikai
Tanyai hati

Dingin menusuk
Udara lembab
Terasa sejuk
Tanya terjawab

Air jatuh
Menyusup tanah
Hati luruh
Telah pasrah

Bising menderu
Serasa senyap
Jiwa kaku
Di ujung harap

Langit berawan
Sahabat mendung
Rasa tertawan
Resah menggunung

Pohon diam
Menyambut hujan
Mencoba paham
Dalam keheningan

Jejak hilang
Tersapu air
Aku mengenang
Sebelum berakhir

Rumput basah
Terinjak kaki
Mata basah
Penyejuk hati


***
Jakarta. ketika hujan turun di pagi hari....

pic diambil dari.

Sunday, June 17, 2007

Berita dari Padang ( dari padangekpress)

Data / Berita Utama

Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik se-Sumbar

Jum'at, 15-Juni-2007, 10:11:43
Telah dibaca sebanyak 295 kali

Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita, siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik se-Sumbar.
Sebuah rumah kayu dan berlantai kayu di Jati Rumah Gadang No VII Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, ternyata menyimpan mutiara. Jika berkunjung ke kediaman Ridwan dan Indrawati—orangtua Vika—memang cukup sulit menemukannya. Maklum, kita harus berjalan kaki ke lokasi yang disebut warga sekitar Jati Rumah Gadang itu. Rumah itu ditempeli stiker keluarga miskin. Tak ada ruang tamu. Hanya sebuah beranda dilengkapi tiga sofa usang. Jika anda tamu, di sofa usang itulah anda bisa melepas kepenatan. Ridwan dan Indrawati akan menyambut dengan senyuman. Tulus. Disusul kemudian Vika keluar dari kamar.

Di sinilah, Vika Cikita, 17 tahun, anak pertama Ridwan, tinggal dan belajar setiap hari. Vika menceritakan hampir setiap hari dia ke sekolah berjalan kaki. Jika ada ongkos dari bapaknya yang menjadi tukang parkir di kawasan Bioskop Raya Teather Padang, Vika terkadang tetap jalan kaki. Rute Vika jalan kaki ke sekolahnya di SMAN 1 Padang melalui jalan kecil tembus ke Universitas Dharma Andalas di Jalan Perintis Kemerdekaan, lanjut ke Jalan Sudirman melalui belakang rumah Gubernur, dan langsung menuju ke SMAN 1. Ukuran waktunya lebih kurang 45 menit, bahkan satu jam perjalanan.

Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, dari kecil Vika sudah terlihat cerdas. Itu berkat air susu ibunya. Sang ibu juga tak menyangka. Karena menurut Indrawati sejak kecil Vika makannya tidaklah yang mewah-mewah. Terpenting bernilai gizi, seperti tempe, tahu, telur, dan sayuran. Vika Cikita pun bukan tipe manja dan mudah berpatah arang. Cita-cita digengamnya kuat penuh semangat. Inilah pemicunya. Vika selalu berhasil membuktikan hal itu sejak SD dan SMP. Bahwa ia harus mampu membuat bahagia orangtuanya, walaupun tanpa merengek-rengek ikut les, seperti kebanyakan anak-anak berada.

“Bagaimana mau les, ke sekolah saja Vika berjalan kaki karena tidak ada ongkos. Walaupun begitu Vika tetap harus sekolah, karena dengan pendidikan itulah kita dapat mengangkat derajat kita,” ujar peraih peringkat pertama nilai UN tingkat Sumatera Barat ini kepada Padang Ekspres, sembari meletakkan segelas air putih.Kamu tentu sangat bahagia?

“Iya, Vika langsung sujud syukur pada Allah SWT saat mendengar pengumuman itu.Jujur, Vika tidak menyangka kalau Vika meraih peringkat satu UN. Karena, yang terpenting bagi Vika bagaimana Vika bisa lulus dengan nilai yang baik,” ujar Vika yang lantas membenahi jilbabnya.Yang membuat Vika was-was saat ini adalah apakah ia lulus dalam SPMB atau tidak nantinya dan biaya kuliahnya, walaupun begitu Vika sangat berharap ia dapat kuliah. Hal inilah yang menyebabkan orangtuanya mati-matian mengumpulkan uang agar ia bisa ikut bimbel SPMB.

Sederhana: Vika Cikita (kanan) bersama Ny Indrawati di rumahnya yang sederhana. Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Insert) menyanggupi untuk memberi beasiswa bagi Vika hingga tamat.


“Hanya untuk mencari uang Rp250 ribu untuk bimbel SPMB, ayah Vika benar-benar harus banting tulang mencari uang. Makanya Vika benar-benar serius agar lulus, doakan ya, Kak,” tuturnya. Ketika masih kecil, Vika bercita-cita menjadi dokter karena ia ingin membantu orantuanya yang tak mampu. Ayah Vika berpropesi sebagai tukang parkir sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.Tetapi setelah masuk ke bangku SMA, Vika mulai menyadari keadaannya. Keinginannya untuk masuk Fakultas Kedokteran terasa jauh dari dirinya. “Darimana uangnya, Kak, untuk biaya sekolah ini saja Vika dibantu oleh sekolah,. Jadi, tidak mungkin rasanya jika Vika mengikuti keinginan Vika.

Lalu Vika dianjurkan guru di sekolah untuk berkuliah di UNP dengan harapan agar Vika langsung menjadi guru.Makanya ketika ada program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Vika lalu memilih jurusan Fisika UNP.Tetapi sayang Vika tidak lulus di sana padahal untuk beli formulir PMDK saja Vika dibantu guru-guru,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.Ketika ditanya ke depan ia ingin memilih jurusan apa jika hendak kuliah Vika menjawabnya dengan bingung, bukan karena tak tahu jawabannya tetapi karena ia takut biayanya akan memberatkan orangtuanya.”Yang terpenting Vika ingin cari jurusan yang kuliahnya sebentar dan biayanya murah,” tukasnya.

Pergaulan Vika di Sekolah

Guru-guru di sekolah Vika mengaku, perilaku Vika sama sekali tak berbeda dari anak-anak lain. “Tidak ada minder sedikit pun berteman walau kadang ia tak jajan, tak terlihat ia mengeluh pada siapapun. Teman-temannya pun tak melihat sebelah mata pada Vika, mereka malah membantu Vika jika terlihat Vika belum makan atau jika ada acara-acara sekolah, tak segan-segan temannya membantu,” ujar Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Drs.Ramadansyah.

Alumni SMP 5 Padang ini memang sangat rendah hati sekali, walau banyak media yang ingin mewawancarainya.Ia tetap mengatakan bahwa ia takut dibilang terlalu diekspos karena ia belum apa-apa dibanding teman-teman lainnya. Bahkan, ia sangat menghargai teman-temannya yang selama ini membantunya. “Teman-teman Vika sering membantu Vika, jika Vika tidak ada uang jajan. Makanya, Vika tak ingin mengecewakan teman-teman,” tutur Vika. Saat mengetahui keberhasilan Vika, orangtua Vika senang tetapi tak terlalu kaget karena memang dari kecilnya Vika termasuk anak yang cerdas dan kreatif.

“Ketika kecil, Vika sering diundang menyanyi di pesta pernikahan atau acara-acara kelurahan. Dandanannya pun tak kalah dibanding penyanyi-penyanyi cilik lainnya.Tetapi, hobi Vika ini terhenti saat ia mulai SMP mungkin karena ia tahu keadaannya,” tutur ibu Vika, Indrawati (41).Ibu Vika sangat berharap agar ada pihak nantinya yang membantu biaya sekolah Vika. “Jujur, saya tak mampu membiayai kuliah Vika nantinya. Tapi, saya tak pernah mematikan harapan dan keinginan anak saya.Mudah-mudahan ada jalannya,” tutur Indrawati.

Wako Ulurkan Kasih

Saat berita ini ditulis, Padang Ekspres mendapat telepon dari Wali Kota Padang, Drs. Fauzi Bahar, M.Si. Subhanaullah, ternyata kabar luar biasa datang dari orang nomor satu di Kota Padang itu, Fauzi Bahar menyanggupi untuk membiayai kuliah Vika hingga ia tamat. “Dimanapun Vika nantinya kuliah, saya akan membiayainya hingga ia menamatkan kuliahnya. Silahkan Vika ingin kuliah di mana,” tegas Fauzi. (***)

******
bravo lora.. Tulisanya Ok. tak salah mendapat prediket ms. Metodelogi waktu kul
*****
Hidup sederhana bukan halangan untuk menjadi yang terbaik.. Bravo VIka maju terus....gantungkan cita setinggi bintang di langit...
****

BAGI SANAK SUDARO DI MANO SAJO BARADO. KOK LAI ADO NAN TAGARAK ATI UNTUK MANOLONG KELANJUTAN PENDIDIKAN VIKA.SILAHKAN HUBUNGI. www.padangekspress.co.id

Friday, June 15, 2007

Lelah



Aku disapa lelah
Tubuh ini terasa lemah
hatipun sedikit gundah
Kaki berat melangkah
Berbaring serasa indah
Sejenak kuingin rebah

semoga esok hari kan cerah

****
Senja lelah di Jakarta

Monday, June 11, 2007

tiga bait

Lentera
Bersinarlah
Sekuat terang menembus malam

Bendera
Berkibarlah
Kibaranmu semangati medan juang itu

Tinta
Goreskanlah
Lembaran putih menunggu uraian tulisan itu

tiga kata berkait makna
di tiga bait sederhana

Thursday, June 07, 2007

Pupuik Sarunai Batang Padi

Aku rindu alunan serunai
Pupuik Sarunai batang padi
Ditiup anak anak gembala
Di padang rumput di waktu senja

Ketika cahaya kuning menerpa
Menemani mereka bermain bersama alam
Berderai gelak dan tawa
Gurauan kata kata bersahaja
Tentang kisah kisah biasa
Canda canda sederhana
Berpadu di wajah wajah ceria

Aku rindu alunan serunai
Yang mengalun bersama liukan ilalang
Melodinya menari bersama angin
Iramanya berpesta dengan keheningan
Nadanya menyatu dengan kehidupan

Aku rindu alunan itu
Pupuik Sarunai Batang Padi

Kini tiada mengalun….
Cukuplah alunan dalam kerinduan

*** Jakarta Senja Hari***

Wednesday, June 06, 2007

Tetangga Baru

Tetangga baru

Tetangga Baru, di lantai ini saya mememiliki tetangga baru, sebuah project asing yang baru saja menempati ruangan baru mereka. Mereka Grant Project dari Belanda di luar ruangannya tertulis “ Netherlands Water Partnership “. Minggu kemarin OM nya berkunjung keruangan saya, saya senang punya teman baru di sini, sebagai sesama orang pribumi yang bekerja untuk orang-orang yang pernah menjajah Indonesia, di lingkungan pemerintahan Indonesia yang sering menganggap saya atau orang-orang seperti saya sebagai kaki tangan penjajah, sebuah anggapan yang tidak mengenakkan, tapi juga tak ada alasan tepat untuk menyangkal.

Anggapan seperti ini yang sering membuat hubungan kerja begitu terasa perbedaan antara dua kebudayaan berbeda, pada saat harus berhadapan dengan pilihan “ antara nasionalisme dan kejujuran” pada hal itu untuk hal hal sepele, jika diturutkan kata “ Ach kita sama orang Indonesia, masak berpihak pada penjajah, masak nggak mau bantu dikit aja, bilangin ini bilangin itu …alah kita sebangsa, penjajah pelit” Saat itu akan dituntut suatu kata “ jujur”. Sedang saat orang asing-asing itu dengan entengnya berkata “ orang sini maunya dikit-dikit uang, semuanya harus pake uang, money oriented, uang dulu baru kerja” di sana juga mengedepan kata “ nasionalisme” yang tak rela bangsa sendiri dihina begitu saja. Menyedihkan memang tapi mau bilang apa jika tak juga punya cukup alasan untuk mematahkan pendapat tersebut, hanya bisa mengurut dada. Padahal tak semua orang Indonesia begitu, meski tak menampik kemungkinan ada yang seperti itu. Saya percaya masih ada orang-orang jujur di negeri ini, yang tidak berorientasi pada uang. Sekurang kurangnya saya ingin percaya dulu, jika kepercayaan yang telah hilang kemungkinan untuk bisa menemukannya akan semakin jarang, hingga tetaplah pegang kepercayaan itu.

Dengan OM Belanda itu, saya membicarakan tentang grant itu, dana batuan yang dikelola oleh mereka mereka juga (biarkan saja itu kebijakan mereka). Minggu ini ruangan itu sudah efektif, jika minggu kemarin masih OMnya saja sekarang sudah semua teamnya. Ada 12 Bulenya, sebagian besar dari mereka masih muda muda, mungkin tak beda jauh dengan usia saya, si keren-keren bermata biru, hmmmmm lumayan untuk cuci mata ( astagfirullah, ampuni hamba ya Allah, seharusnya berucap “ Maha Suci Allah yang telah menciptakan keindahan).

Ruangan mereka tepat berada di depan musholla, saya malah digodain teman-teman “ hai ur hati hati kalo mo sholat, jangan salah niat melirik dulu ke kiri sebelum sholat” benar juga sih kata teman itu, jika melirik ke kiri tepat ada meraka, ujian tambahan nih pas mau sholat, untung sebelah kiri, jadi anggap aja jika melirik ke kiri sengaja coba-coba mengintip-ngintip jendela menuju neraka (hehhe), Ya Allah kuatkan hati ini untuk menjaga pandangan. Ya terus terang aja saya suka aja liat mata-mata biru bukan berarti yang mata hitam tidak indah, semuanya indah, indah itu relatif jika yang biru bagi saya mungkin indah sekilas saja, yang hitam dan coklat mungkin semakin lama indahnya akan terasa kian menghujam dalam.(hmmmmm, tapi itupun jika sudah halal ditatap)

Semoga saja keberadaan mereka di sini bisa membawa manfaat bagi Indonesia tidak sekedar jual tampang atau malah merugikan Indonesia. Dan semoga juga tidak membava politk devide at impera mereka yang dulu, yang suka menangguk di air keruh. Dana Grant besar untuk beberapa bulan project mereka di sini benar benar bisa menampakkan hasil sebagai suatu Partnership bukan dana yang dari mereka oleh mereka dan kembali ke mereka juga, dan hanya meninggalkan nama di Indonesia bahwa mereka telah menyumbangkan dana hibah sebesar ********* tapi hasilnya sama sekali tidak nampak, atau dana yang terkucur bukan untuk mereka di sini tidak salah masuk kantong pelaku lokal yang akhirnya tetap berakhir dengan kata “rugi”

Monday, June 04, 2007

Dua tahun Sudah

Dua tahun sudah, saudariku
Cahaya itu menuntun kapal indahmu berlabuh
Dalam kebeningan telaga Sang Maha Cinta
Menyelami arti dalamnya KeagunganNYA
Cahaya keabadian yang telah bertahun engkau rindu

Dua tahun sudah
Niat tekad dan imanmu teruji
Ketika badai silih berganti
Ketika gelombang tak jemu menghadang
Ketika engkau tetap mencoba mekar di antara duri
Ketika engkau tetap bertahan di antara ketidaksepahaman
Ketika engkau tetap hormati penentangan perbedaan dengan senyum ketulusan
Ketika engkau harus memilih
Antara cinta dan Sang Maha Cinta
Antara fana dan keabadian
Engkau telah tentukan pilihan

Dua tahun sudah
Mutiaramu berkilauan
Di antara hati hati kegegelapan
Mata air kesejukan itu mengalir
Di antara jiwa-jiwa kehausan
Di pelabuhan itu engkau sambut mereka
Di telaga itu engkau tuntun mereka
Untuk sama sama belajar mengarungi telaga Sang Maha Cinta
Engkau berkata “ demi cinta”
Cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta

Dua tahun sudah
Air mata duka dan bahagia
Memberi riak-riak telaga
Dayung dayung itu silih berganti patah
Engkau tak pernah menyerah
Dalam kesulitan selalu ada kemudahan
Di ujung ujian ada kebahagian
Engkau jalani dengan keyakinan
Engkau berkata “ aku dengar dan aku patuh”

Dua tahun sudah
Engkau ukir jejak langkah
Bersama sama senyum yang selalu rekah
Engkau berkata “ ini amanah “


Dua tahun sudah
Telah berlalu dalam putaran waktu
Hari baru telah menunggu
Perjalanan baru akan dimulai
Di sana juga akan bertaburan
Keindahan ujian dan rintangan
Semoga di sana tetap bersemi
Wajah berbunga rindu Illahi


*** dedicate to my sister, 4th June, memperingati hari ke-dua tahun engkau berlabuh, you are not new comer anymore, but for me you are my teacher.
*** kita tak pernah tau kapan kita kembali, hanya bisa mempersiapkan diri selagi masih ada waktu dan berharap saat masa itu datang jiwa kembali dengan tenang dan diridhoi Aminn, Ya Robbi ampuni segala dosa kami… Amin”
*** meski dunia baru akan berbeda semoga kita tetap bisa saling mengingatkan ketika lupa salah dan khilaf karena manusia tempat salah dan lupa. thank you so much***

Thursday, May 31, 2007

Lagu Kenangan

Anak Ku Sazali

BY: P. Ramlee

Anakku Sazali dengarlah
Lagu yang ayahanda karangi
Sifatkan laguku hai anak
Sebagai sahabatmu nanti

Anakku Sazali juwita
Laguku jadikan pelita
Penyuluh di gelap gelita
Pemandu ke puncak bahagia

Andainya kamilah kembali
Menyahut panggilan Ilahi
Laguku sebagai ganti
Dijiwamu hidup abadi
Menjagamu wahai Sazali

Anakku Sazali dengarlah
Lagu yang ayahanda karangi
Sifatkan laguku hai anak
Sebagai sahabatmu nanti


***
Ketemu lirik ini, saya jadi kangen sekali dengan Amak dan Apak, mereka sangat suka lagu ini. dulu saya sering mendengar Bapak melantunkan lagu ini. I miss u Pak, dan katanya ibu dan Bapak suka sekali nonton film Ramlee waktu mereka masih muda. nostalgia muda muda. Kata Amak adegan film Ramlee di penjara membuatnya menangis, saya sangat penasaran dengan film itu, sampai sekarang saya belum bisa menemukannya.
ini lagu gambaran CInta sejati, cinta orang tua pada anaknya yang tak akan lekang ditelan masa.