Friday, August 24, 2007

Lukisan Cinta

Lukisan cinta
Dalam hamparan hijau pegunungan
Dalam aliran sejuk mata air
Di kemilau menguning tangga-tangga persawahan
Di kepak sayap burung-burung
Di rimbun dedaunan pepohonan
Di liukan pimping ilalang lereng
Di warna hitam batu alam
Di sudut terjal tebing bebatuan
Di gugusan awan-awan putih
Di latar biru langit kerinduan

Lukisan cinta
Di cabang ranting pohon jambu
Di runcing halus rumput jarum
Di liku jalan setapak di antara semak
Di teduh bayang lembah perlindungan
Di Bening telaga kehidupan

Lukisan cinta
Di seluruh alam semesta
semua ada atas Cinta-NYA

***
Hari ini saya teringat seorang Ibu setengah baya di sebuah pameran lukisan beberapa waktu yang lalu, sebuah pameran yang kebetulan saya lihat waktu lewat tak sengaja di depan gedung itu. Ibu itu begitu dalam dan lama mengamati sebuah lukisan belatar belakang gunung Tangguban Perahu. Waktu saya berada di dekatnya, kami bertukar senyum. Ibu itu langsung berkata “ lukisan ini begitu menyentuh kalbu”. Awalnya saya berpikir, sentuhan yang dirasakan adalah karena keindahan lukisan itu. tapi prediksi saya salah. Ternyata lukisan itu begitu menyentuh kisah hidupnya, sebuah kisah cinta. Dan lukisan itu adalah bagian dari kisahnya.

Di Lereng gunung itu kisahnya berawal. Akhirnya kami duduk pada bangku-bangku di depan lukisan itu. sambil terus memandang lukisan, Ibu itu bertutur tentang masa muda kuliah, menikah punya anak, dan sekarang mereka sudah besar-besar tak jauh berbeda dengan usia saya. Dari semua kisahnya saya melihat satu keseragaman dalam setiap episode waktu itu, keseragaman di sinar matanya ‘ Binar Binar Cinta“, ibu itu bercerita dengan penuh cinta, binar-binar yang tak berubah setiap tangga-tangga peristiwa hidupnya. Sampai sekarang Ia dan suaminya masih sering ke sana, sudut pandang pelukis sama dengan sudut pandang tempat yang sering di amatinya. Binar mata jatuh cinta saat Ia bercerita tentang suaminya begitu jelas. Mungkin binar mata seperti itu akan jadi hal biasa jika terlihat di mata muda-mudi jatuh cinta, pasangan yang lagi berbulan madu. Tapi bagi saya sangat luar biasa binar itu masih memancar dari mata seorang Ibu yang telah melewati usia setengah abad, setelah puluhan tahun berumah tangga. Sebuah cinta yang tak pudar oleh usia, ragam perjalanan dan kebiasaan. Puluhan tahun melewati hari hari bersama tidak membuat cintanya berubah hambar dan pudar tapi malah semakin bersinar.

Sering saya membaca tulisan yang mengatakan menemukan cinta itu sulit dan mempertahankan cinta itu lebih sulit. Jika tulisan itu dikaitkan dengan Ibu itu menjadikan Ia tampak istimewa. Sekian tahun berlalu masih tetap binar cinta bersinar di matanya. Meski saya tak tahu keseharian ibu itu, tapi dari cara dia bercerita rona ketenangan di wajahnya, rasanya cukup memberi tahu jika dia telah melukis kisah hidupnya dengan warna-warni cinta.

Ibu itu memang baru saya kenal waktu itu. tapi ceritanya membuat serasa saya mengenalnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Di akhir pertemuan Ibu itu bertanya pada saya. Dari sekian banyak lukisan di sana yang manakah yang paling saya suka, saya jawab lukisan "telaga kecil" itu, airnya begitu bening dan dasarnya kelihatan.

Setelah puas mengamati lukisan-lukisan itu kamipun berpisah, saya merasa beruntung tak sengaja lewat di depan gedung itu. Ternyata saya tidak hanya melihat lukisan, tapi juga lukisan kehidupan yang penuh cinta. Saya pun pergi bergabung dengan teman-teman lain yang sedang mengadakan pertemuan rutin tak jauh dari gedung itu.
*
*
*

No comments: