Tuesday, July 03, 2007

Segelas Teh Pagi Hari

Segelas Teh di mejaku
Penyegar raga pagi hari
Temaniku lewati waktu
Seiring terbit sang mentari

Segelas teh di mejaku
Beri aroma penguat diri
Rasa manis tak terlalu
Penawar getir getar hati

****
Segelas teh di meja kerja
Minum Yuk……

Minum teh pagi, sejak kecil saya suka minun teh pagi hari, mungkin karena sudah kebiasaan keluarga, pagi hari berkumpul bersama sebelum berpencar masing-masing dengan aktivitas sekolah atau ke sawah. Minum teh disertai santapan ringan buatan tangan Amak, kadang pisang goreng, pisang abuaih, kue mangkuak, bubur kacang ijo, lamang panggang, limpiang atau makanan kecil lainya.

Menatap jendela yang terbuka nikmati cahaya matahari yang muncul dari balik bukit Barisan. Memandang keindahan birunya gunung Sago dengan iringan irama kicauan pipit dan punai serta murai yang terbang rendah di halaman. Berbaur bersama kokok ayam yang mulai ricuh mengais tanah mencari butiran makanan, mungkin bulir beras dan padi atau dedak kemarin petang yang sengaja diserak sehabis menumbuk padi di heler ujung kampung.

Kue terakhir jadi rebutan dengan sang kakak, dibagi dua tanda damai beradik kakak setelah sering saling mengalah, siapa yang memberi berarti lebih sayang, karena sama-sama mengaku sayang kuenya jadi dibagi dua untuk bisa saling memberi. Mungkin itu cara Amak mendamaikan kami jika mulai berebut sesuatu, hingga saling menunggu jika salah satu tak ada di rumah tak ingin mengambil jatah lebih dulu, jika hanya tersisa sepotong kue.

Kini, segelas teh di meja kerja tanpa kue buatan Amak, tak ada canda Bapak, tak ada suara kakak. Tak ada jendela yang terbuka tanpa gunung yang biru. Tapi cukuplah segelas teh hangatkan kenangan di jiwa ini, kebersamaan itu akan tetap ada hidup dalam ingatan meski terpisah bentangan darat dan lautan. Nikmati segelas teh pagi ini, semoga hari ini seterang cahaya mentari yang menyusup lewat sela-sela tirai jendela kaca.

( pagi di meja kerja)

Monday, July 02, 2007

Lah Laruik Sanjo

Lah laruik sanjo
By..
( sayang nggak tau nama penyanyi dan peciptanya)

Mandi kalubuak mandalian
Mandi kalubuak mandalian
Udang di sangko tali tali
Udang di sangko tali tali
Onde... onde... lah laruik sanjo
Onde... onde ... lahlaruik sanjo

Mabuak untuang jo parasaian
Mabuak untuang jo parasaian
Patang di sangko pagi ari
Patang di sangko pagi ari
Onde onde lah laruik sanjo
Onde onde lah laruik sanjo.


************************

Jikok rinai turun di hari sanjo
badabok dado hati batanyo
apo garangan kaba barito
cameh bakuah jo aia mato

tarang siang baganti sanjo
jikok ati sanang baganti ibo
hanyo manyarah pado nan Kuaso
buliah nak kuek iman di dado

*** alah sanjo di tanah Jao***

Thursday, June 28, 2007

Lena


Lena
Lelapkanlah aku
Agar kutemui mimpi
Yang telah hilang saat terjaga

***
I m so sleepy

Tuesday, June 26, 2007

Sajak Negeri Legenda dan Impian (utopia)

Sekuak rentak tanah berjejak
Sejarah tersebar antar benua
Lembar zaman pernah berarak
Sejarah negeri bangsa legenda

Di tanah induk negeri lama
Membentang ke pulau kecil timur afrika
Gugusan mutiara lautan selatan Amerika
Gugusan bernama kembaran kecil jawa

Perahu cadik mencabik lautan
Singgahi dermaga persinggahan
Di situ jejak ditinggalkan
Satukan negeri di bawah panji kejayaan
Nusantara di tinta zaman

Di situ budaya pernah berjaya
Halus bahasa ramah rakyatnya
Budi pekerti dijunjung tinggi
Kuat agama tentramlah negeri
Jika iman kokoh di dada damai dunia dalam genggaman
Jika iman kulit belaka hancur negara dalam keserakahan

Setia jadi perisai bangsa
Rakyat cinta akan pemimpin
Raja lebih cinta pada rakyatnya
Raja takut rakyat melarat
Rakyat ingin raja selamat
Tiada beda kaya dan jelata
Di dalam bangsa kita sama
Tenggang rasa tepa selera
Seliuk sedayung jalankan bahtera

Kini waktu berputar sudah
Usah lupakan sejarah silam
Tapi jangan juga tenggalam
Oleh nostalgia bangsa bertuah

Sejarah lama jadi pedoman
Bukan jadi senjata kesombongan
Memandang rendah yang berlainan
Menganggap tinggi budaya sendiri
Mudah mencaci lagi memaki
Mengaku diri bangsa berbudi
Tapi lupa menengok diri

Minta dipuji enggan menghargai
Marah dicaci suka memaki
Mudah bertikai susah berdamai
Gemar berdebat enggan bersahabat

Kawan jadi lawan musuh jadi teman
Kesetiakawanan diabaikan
Kepentingan ditonjolkan
Jika hilang kejujuran habislah kepercayaan
Harapkan kemenangan tapi malah jadi hidangan

Tapi waktu kan terus berjalan
Dalam gelap selalu ada harapan
Di antara yang zalim ada yang alim
Semoga hadir jadi pemimpin
Luruskan jalan bentuk barisan
Sama berjuang dalam keikhlasan
Untuk wujudkan negeri impian


“Teruntuk diri sendiri, dan siapa saja yang membaca”

Sajak ini sudah lama ditulis tapi baru hari ini selesainya. Sebagian dari isinya terinspirasi dari sebuah buku ‘ Riau Sekuak Rentak” karya seorang dosen waktu kuliah. Meski judulnya memakai kata Riau tapi isinya bukan mengisahkan tentang Riau semata, tapi tentang sebuah kupasan sebuah bentang kebudayaan yang lebih luas. Saya mengagumi beliau dalam kepakarannya masalah kebudayaan, walau kuliah dengannya hanya bisa pada semester pendek saja, karena beliau lebih banyak jadi dosen terbang ke luar padahal terdaftar sebagai dosen tetap di Univ Negeri tempat saya menuntut ilmu dulu.

Mendengarkan kupasan tentang kebudayaan bagi saya adalah sesuatu yang menarik. Dalam kebudayaan rasanya beda pendapat, beda presepsi adalah hal biasa. Meski kadang dalam perkuliahan menahan panas hati jika unsur yang diyakini sebagai kebudayaan yang telah membesarkan diri mendapat kritikan tajam, tapi itulah perbedaan akan saling berbenturan bila tak saling ada penghargaan dan tak saling menahan diri saat mendapat kritikan. Jika sama sama menghargai mungkin akan menghadirkan sebuah solusi untuk perbaikan. Banggalah dengan kebudayaan sendiri, asal saja kebanggaan itu tidak sampai meremehkan kebanggaan pihak lain.

Meski mengagumi kepakarannya ada juga satu hal yang membuat saya mungkin akan mengambil sikap berseberangan dari banyak hal yang bisa beriringan, ada suatu kesimpulan kesepahaman yang membuat saya tak sepaham, meski waktu yang singkat tak akan cukup untuk memahami sebuah pemikiran lebih dalam atau mengambil suatu kesimpulan mutlak. Bagi saya perbedaan bukan untuk disepahamkan atau diseragamkan, tapi untuk saling mendapatkan hak penghargaan yang sama, perbedaan itu punya ruang gerak tersendiri, selama tak saling memusuhi untuk apa saling memerangi, tapi jika diserang sepihak tentu tak ada salahnya mempertahankan diri.

Meski berseberangan pemahaman saya juga tak ingin memperdebatkan pertentangan untuk hal-hal yang saya tak cukup punya pengetahuan tentang itu. Siapa tahu apa yang saya anggap benar adalah sesuatu yang salah karena minim dan dangkalnya pengetahuan saya.

Beda pendapat antara guru dan murid adalah hal biasa, yang terpenting murid jangan sampai tidak menghargai seorang guru. Guru punya hak untuk dihormati, tugasnya adalah mengajari sedang tugas murid mempelajari dan ambil yang bermanfaat abaikan jika dirasa tak sejalan tanpa perlu pertentangan.

Tahun lalu, di tempat yang tak terduga di Jakarta saya bertemu dengan beliau, waktu saya coba menyapa sepertinya beliau terheran saja. Adalah hal wajar seorang guru lupa murid yang kurang wajar murid lupa akan gurunya. “ Semoga dalam budaya tetap berjaya Pak”

( ketika rindu saat saat duduk di bangku perkuliahan )

Monday, June 25, 2007

Hari ini

Hari ini
biarlah air mata itu ruah
mengalir mencari muaranya sendiri
ia akan mengalir tanpa gemericik bunyi
ia akan berhenti sendiri setelah puas tercurah


hari ini
izinkan senyum itu rekah
anggap sebagai pengganti puisi
yang kupersembahkan sebagai hadiah

bila mentari telah pergi
kutunggu bulan dan bintang
karena aku tetap malam
yang selalu rindu cahaya

malam butuh cahaya
meski dunia tak percaya
malam rindu lentara
meski terkesan tak membutuhkannya

karena malam selalu diam
menyimpan mimpi dalam bungkam
karena malam tak terlihat
tertutup gelap pekat
malam tak terdengar
karena malam hanya bisa mendengar

tapi malam selalu merindu cahaya.
hanya satu cahaya
penerang gulitanya

****
Siang Di Jakarta

Friday, June 22, 2007

belajar menikmati hari

Saya biarkan tirai ruangan ini terbuka, sehingga cahaya bisa bebas masuk keruangan ini dari balik kaca, saya suka melihat ruangan tampak lebih terang dari biasanya. Dua hari boss keluar kota, dan saya merasa punya kesempatan untuk membereskan dan mengutak-atik hard file tanpa khawatir akan menimbulkan suara yang berisik, jika boss duduk di mejanya membereskan file file itu akan menimbulkan suara yang lumayan berisik.

Saya tak tahu sampai kapan saya akan jadi penghuni ruangan ini, kontrak kerja akan berakhir beberapa bulan lagi, akankah diperpanjang, memperpanjang, atau entahlah saya tidak tahu. Hari-hari kemarin tingkat kejenuhan saya benar benar tinggi, saat saya mulai ingin mengeluh saya mendengar percakapan telpon tak sengaja tetangga sebelah kamar kos tengah malam, sebenarnya saya tak berniat mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi saya belum tertidur saat ia berbicara lumayan keras tengah malam yang telah sunyi, kayu dinding pembatas antar kamar tak mampu meredam suara itu. Tapi bagi saya itu bukanlah kebetulan, karena saya hanya bisa ikut menangis mendengar percakapannya. Percakapan itu membuat hati malu untuk mengeluh. Terima kasih untuk suara itu yang telah menembus kamar saya.

Selagi masih ada waktu saya ingin tetap tidak mengeluh, mencintai pekerjaan begitu banyak artikel tentang cara mencintai pekerjaan. Nikmati dan syukuri pekerjaan karena banyak orang di luar sana yang begitu mendambakan mendapat pekerjaan.

Hari ini saya ingin menikmati cahaya terang di ruangan ini. Jika saya nanti tidak diperpanjang kontrak atau juga tidak ingin memperpanjang kontrak, bukan karena pekerjaan tidak saya nikmati tapi karena memang waktunya sudah berakhir. Kini berikan saja yang terbaik untuk pekerjaan ini selagi saya mampu.

Menunggu batas waktu. Jika batas waktu itu nanti telah tiba saya ingin mengakhirinya dengan indah. Tanpa ada penyesalan dan kesedihan tanpa ada ganjalan. Agar bisa menyongsong hari depan dengan semangat yang baru.

Lakukan dengan cinta dan jika tiba saat melepaskan, saya ingin melepas dengan cinta juga.


****
tulisan ini saya tulis sejak pagi karena sibuk dengan file2 saya baru bisa selesaikan senja ini

Wednesday, June 20, 2007

Buat Ponakan Kecilku

Matahari kecilku

Hari ini
Dua tahun genap usiamu
Telah lihaikah berlari?
Telah lincahkah bermain?
Telah lancarkah mengeja kata?

Di sini hujan turun basahi bumi
Sederas rindu ingin melihat wajah mungilmu
Mengenang tingkah lakumu yang lucu
bersarung kecil kopiah mungil
gerak gerik lugu ikut sembayang
ikut bersuara saat azan berkumandang
meski bunyi suara belumlah jelas
ach… serasa badan ingin pulang

matahari kecilku
dari jauh kuhantar doa
semoga kini dan juga nanti
jadi mentari ayah bundamu
jadi penerang dalam gulita
penyejuk mata pendamai jiwa
dalam cahaya jalan lurus-NYA


To: My lovely nephew Syaamil S
Hari ini ponakan saya di kampung ulang tahun, rindu sekali ingin melihatnya, apakah sekarang ia sudah bisa bicara dengan lancar, lebaran kemarin masih cadel, ia memanggilku Tek Uur, Cuma lidahnya yang masih cadel Cuma bisa memanggil Tek tanpa bisa bersuara dan hanya bisa mengeluarkan bunyi U’U. lucu jika dipanggilnya begitu, bagi saya seperti sebuah panggilan kesayangan saja darinya.
Kata uda sifatnya rada mirip dengan saya waktu masih balita. Jika sedang merajuk suka sembunyikan wajah ke arah dinding sambil menangis tersedu-sedu tanpa suara, benarkah saya seperti itu waktu kecil? Saya sendiri juga tidak tahu, tapi jika benar malu dan lucu juga jadinya jika dibayangkan. Jika ponakan saya juga punya tingkah seperti itu berarti turunan dari eteknya ini ( hehehehe), menangis kan boleh meratap dilarang, anggap aja prakteknya seperti itu ( hmmm ini hanya pembelaan diri saja).

Tuesday, June 19, 2007

Hujan pagi hari


Tanah basah
Pagi hari
Langkah terarah
Tak berlari

Rintik hujan
Payung ungu
Sendiri berjalan
Terus melaju

Jalan ramai
Terasa sepi
Hati bertikai
Tanyai hati

Dingin menusuk
Udara lembab
Terasa sejuk
Tanya terjawab

Air jatuh
Menyusup tanah
Hati luruh
Telah pasrah

Bising menderu
Serasa senyap
Jiwa kaku
Di ujung harap

Langit berawan
Sahabat mendung
Rasa tertawan
Resah menggunung

Pohon diam
Menyambut hujan
Mencoba paham
Dalam keheningan

Jejak hilang
Tersapu air
Aku mengenang
Sebelum berakhir

Rumput basah
Terinjak kaki
Mata basah
Penyejuk hati


***
Jakarta. ketika hujan turun di pagi hari....

pic diambil dari.

Sunday, June 17, 2007

Berita dari Padang ( dari padangekpress)

Data / Berita Utama

Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik se-Sumbar

Jum'at, 15-Juni-2007, 10:11:43
Telah dibaca sebanyak 295 kali

Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat dekat dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita, siswa SMA 1 Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota ini. Vika mampu membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya bukan halangan baginya menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik se-Sumbar.
Sebuah rumah kayu dan berlantai kayu di Jati Rumah Gadang No VII Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, ternyata menyimpan mutiara. Jika berkunjung ke kediaman Ridwan dan Indrawati—orangtua Vika—memang cukup sulit menemukannya. Maklum, kita harus berjalan kaki ke lokasi yang disebut warga sekitar Jati Rumah Gadang itu. Rumah itu ditempeli stiker keluarga miskin. Tak ada ruang tamu. Hanya sebuah beranda dilengkapi tiga sofa usang. Jika anda tamu, di sofa usang itulah anda bisa melepas kepenatan. Ridwan dan Indrawati akan menyambut dengan senyuman. Tulus. Disusul kemudian Vika keluar dari kamar.

Di sinilah, Vika Cikita, 17 tahun, anak pertama Ridwan, tinggal dan belajar setiap hari. Vika menceritakan hampir setiap hari dia ke sekolah berjalan kaki. Jika ada ongkos dari bapaknya yang menjadi tukang parkir di kawasan Bioskop Raya Teather Padang, Vika terkadang tetap jalan kaki. Rute Vika jalan kaki ke sekolahnya di SMAN 1 Padang melalui jalan kecil tembus ke Universitas Dharma Andalas di Jalan Perintis Kemerdekaan, lanjut ke Jalan Sudirman melalui belakang rumah Gubernur, dan langsung menuju ke SMAN 1. Ukuran waktunya lebih kurang 45 menit, bahkan satu jam perjalanan.

Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, dari kecil Vika sudah terlihat cerdas. Itu berkat air susu ibunya. Sang ibu juga tak menyangka. Karena menurut Indrawati sejak kecil Vika makannya tidaklah yang mewah-mewah. Terpenting bernilai gizi, seperti tempe, tahu, telur, dan sayuran. Vika Cikita pun bukan tipe manja dan mudah berpatah arang. Cita-cita digengamnya kuat penuh semangat. Inilah pemicunya. Vika selalu berhasil membuktikan hal itu sejak SD dan SMP. Bahwa ia harus mampu membuat bahagia orangtuanya, walaupun tanpa merengek-rengek ikut les, seperti kebanyakan anak-anak berada.

“Bagaimana mau les, ke sekolah saja Vika berjalan kaki karena tidak ada ongkos. Walaupun begitu Vika tetap harus sekolah, karena dengan pendidikan itulah kita dapat mengangkat derajat kita,” ujar peraih peringkat pertama nilai UN tingkat Sumatera Barat ini kepada Padang Ekspres, sembari meletakkan segelas air putih.Kamu tentu sangat bahagia?

“Iya, Vika langsung sujud syukur pada Allah SWT saat mendengar pengumuman itu.Jujur, Vika tidak menyangka kalau Vika meraih peringkat satu UN. Karena, yang terpenting bagi Vika bagaimana Vika bisa lulus dengan nilai yang baik,” ujar Vika yang lantas membenahi jilbabnya.Yang membuat Vika was-was saat ini adalah apakah ia lulus dalam SPMB atau tidak nantinya dan biaya kuliahnya, walaupun begitu Vika sangat berharap ia dapat kuliah. Hal inilah yang menyebabkan orangtuanya mati-matian mengumpulkan uang agar ia bisa ikut bimbel SPMB.

Sederhana: Vika Cikita (kanan) bersama Ny Indrawati di rumahnya yang sederhana. Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Insert) menyanggupi untuk memberi beasiswa bagi Vika hingga tamat.


“Hanya untuk mencari uang Rp250 ribu untuk bimbel SPMB, ayah Vika benar-benar harus banting tulang mencari uang. Makanya Vika benar-benar serius agar lulus, doakan ya, Kak,” tuturnya. Ketika masih kecil, Vika bercita-cita menjadi dokter karena ia ingin membantu orantuanya yang tak mampu. Ayah Vika berpropesi sebagai tukang parkir sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.Tetapi setelah masuk ke bangku SMA, Vika mulai menyadari keadaannya. Keinginannya untuk masuk Fakultas Kedokteran terasa jauh dari dirinya. “Darimana uangnya, Kak, untuk biaya sekolah ini saja Vika dibantu oleh sekolah,. Jadi, tidak mungkin rasanya jika Vika mengikuti keinginan Vika.

Lalu Vika dianjurkan guru di sekolah untuk berkuliah di UNP dengan harapan agar Vika langsung menjadi guru.Makanya ketika ada program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) Vika lalu memilih jurusan Fisika UNP.Tetapi sayang Vika tidak lulus di sana padahal untuk beli formulir PMDK saja Vika dibantu guru-guru,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.Ketika ditanya ke depan ia ingin memilih jurusan apa jika hendak kuliah Vika menjawabnya dengan bingung, bukan karena tak tahu jawabannya tetapi karena ia takut biayanya akan memberatkan orangtuanya.”Yang terpenting Vika ingin cari jurusan yang kuliahnya sebentar dan biayanya murah,” tukasnya.

Pergaulan Vika di Sekolah

Guru-guru di sekolah Vika mengaku, perilaku Vika sama sekali tak berbeda dari anak-anak lain. “Tidak ada minder sedikit pun berteman walau kadang ia tak jajan, tak terlihat ia mengeluh pada siapapun. Teman-temannya pun tak melihat sebelah mata pada Vika, mereka malah membantu Vika jika terlihat Vika belum makan atau jika ada acara-acara sekolah, tak segan-segan temannya membantu,” ujar Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Drs.Ramadansyah.

Alumni SMP 5 Padang ini memang sangat rendah hati sekali, walau banyak media yang ingin mewawancarainya.Ia tetap mengatakan bahwa ia takut dibilang terlalu diekspos karena ia belum apa-apa dibanding teman-teman lainnya. Bahkan, ia sangat menghargai teman-temannya yang selama ini membantunya. “Teman-teman Vika sering membantu Vika, jika Vika tidak ada uang jajan. Makanya, Vika tak ingin mengecewakan teman-teman,” tutur Vika. Saat mengetahui keberhasilan Vika, orangtua Vika senang tetapi tak terlalu kaget karena memang dari kecilnya Vika termasuk anak yang cerdas dan kreatif.

“Ketika kecil, Vika sering diundang menyanyi di pesta pernikahan atau acara-acara kelurahan. Dandanannya pun tak kalah dibanding penyanyi-penyanyi cilik lainnya.Tetapi, hobi Vika ini terhenti saat ia mulai SMP mungkin karena ia tahu keadaannya,” tutur ibu Vika, Indrawati (41).Ibu Vika sangat berharap agar ada pihak nantinya yang membantu biaya sekolah Vika. “Jujur, saya tak mampu membiayai kuliah Vika nantinya. Tapi, saya tak pernah mematikan harapan dan keinginan anak saya.Mudah-mudahan ada jalannya,” tutur Indrawati.

Wako Ulurkan Kasih

Saat berita ini ditulis, Padang Ekspres mendapat telepon dari Wali Kota Padang, Drs. Fauzi Bahar, M.Si. Subhanaullah, ternyata kabar luar biasa datang dari orang nomor satu di Kota Padang itu, Fauzi Bahar menyanggupi untuk membiayai kuliah Vika hingga ia tamat. “Dimanapun Vika nantinya kuliah, saya akan membiayainya hingga ia menamatkan kuliahnya. Silahkan Vika ingin kuliah di mana,” tegas Fauzi. (***)

******
bravo lora.. Tulisanya Ok. tak salah mendapat prediket ms. Metodelogi waktu kul
*****
Hidup sederhana bukan halangan untuk menjadi yang terbaik.. Bravo VIka maju terus....gantungkan cita setinggi bintang di langit...
****

BAGI SANAK SUDARO DI MANO SAJO BARADO. KOK LAI ADO NAN TAGARAK ATI UNTUK MANOLONG KELANJUTAN PENDIDIKAN VIKA.SILAHKAN HUBUNGI. www.padangekspress.co.id

Friday, June 15, 2007

Lelah



Aku disapa lelah
Tubuh ini terasa lemah
hatipun sedikit gundah
Kaki berat melangkah
Berbaring serasa indah
Sejenak kuingin rebah

semoga esok hari kan cerah

****
Senja lelah di Jakarta

Monday, June 11, 2007

tiga bait

Lentera
Bersinarlah
Sekuat terang menembus malam

Bendera
Berkibarlah
Kibaranmu semangati medan juang itu

Tinta
Goreskanlah
Lembaran putih menunggu uraian tulisan itu

tiga kata berkait makna
di tiga bait sederhana

Thursday, June 07, 2007

Pupuik Sarunai Batang Padi

Aku rindu alunan serunai
Pupuik Sarunai batang padi
Ditiup anak anak gembala
Di padang rumput di waktu senja

Ketika cahaya kuning menerpa
Menemani mereka bermain bersama alam
Berderai gelak dan tawa
Gurauan kata kata bersahaja
Tentang kisah kisah biasa
Canda canda sederhana
Berpadu di wajah wajah ceria

Aku rindu alunan serunai
Yang mengalun bersama liukan ilalang
Melodinya menari bersama angin
Iramanya berpesta dengan keheningan
Nadanya menyatu dengan kehidupan

Aku rindu alunan itu
Pupuik Sarunai Batang Padi

Kini tiada mengalun….
Cukuplah alunan dalam kerinduan

*** Jakarta Senja Hari***

Wednesday, June 06, 2007

Tetangga Baru

Tetangga baru

Tetangga Baru, di lantai ini saya mememiliki tetangga baru, sebuah project asing yang baru saja menempati ruangan baru mereka. Mereka Grant Project dari Belanda di luar ruangannya tertulis “ Netherlands Water Partnership “. Minggu kemarin OM nya berkunjung keruangan saya, saya senang punya teman baru di sini, sebagai sesama orang pribumi yang bekerja untuk orang-orang yang pernah menjajah Indonesia, di lingkungan pemerintahan Indonesia yang sering menganggap saya atau orang-orang seperti saya sebagai kaki tangan penjajah, sebuah anggapan yang tidak mengenakkan, tapi juga tak ada alasan tepat untuk menyangkal.

Anggapan seperti ini yang sering membuat hubungan kerja begitu terasa perbedaan antara dua kebudayaan berbeda, pada saat harus berhadapan dengan pilihan “ antara nasionalisme dan kejujuran” pada hal itu untuk hal hal sepele, jika diturutkan kata “ Ach kita sama orang Indonesia, masak berpihak pada penjajah, masak nggak mau bantu dikit aja, bilangin ini bilangin itu …alah kita sebangsa, penjajah pelit” Saat itu akan dituntut suatu kata “ jujur”. Sedang saat orang asing-asing itu dengan entengnya berkata “ orang sini maunya dikit-dikit uang, semuanya harus pake uang, money oriented, uang dulu baru kerja” di sana juga mengedepan kata “ nasionalisme” yang tak rela bangsa sendiri dihina begitu saja. Menyedihkan memang tapi mau bilang apa jika tak juga punya cukup alasan untuk mematahkan pendapat tersebut, hanya bisa mengurut dada. Padahal tak semua orang Indonesia begitu, meski tak menampik kemungkinan ada yang seperti itu. Saya percaya masih ada orang-orang jujur di negeri ini, yang tidak berorientasi pada uang. Sekurang kurangnya saya ingin percaya dulu, jika kepercayaan yang telah hilang kemungkinan untuk bisa menemukannya akan semakin jarang, hingga tetaplah pegang kepercayaan itu.

Dengan OM Belanda itu, saya membicarakan tentang grant itu, dana batuan yang dikelola oleh mereka mereka juga (biarkan saja itu kebijakan mereka). Minggu ini ruangan itu sudah efektif, jika minggu kemarin masih OMnya saja sekarang sudah semua teamnya. Ada 12 Bulenya, sebagian besar dari mereka masih muda muda, mungkin tak beda jauh dengan usia saya, si keren-keren bermata biru, hmmmmm lumayan untuk cuci mata ( astagfirullah, ampuni hamba ya Allah, seharusnya berucap “ Maha Suci Allah yang telah menciptakan keindahan).

Ruangan mereka tepat berada di depan musholla, saya malah digodain teman-teman “ hai ur hati hati kalo mo sholat, jangan salah niat melirik dulu ke kiri sebelum sholat” benar juga sih kata teman itu, jika melirik ke kiri tepat ada meraka, ujian tambahan nih pas mau sholat, untung sebelah kiri, jadi anggap aja jika melirik ke kiri sengaja coba-coba mengintip-ngintip jendela menuju neraka (hehhe), Ya Allah kuatkan hati ini untuk menjaga pandangan. Ya terus terang aja saya suka aja liat mata-mata biru bukan berarti yang mata hitam tidak indah, semuanya indah, indah itu relatif jika yang biru bagi saya mungkin indah sekilas saja, yang hitam dan coklat mungkin semakin lama indahnya akan terasa kian menghujam dalam.(hmmmmm, tapi itupun jika sudah halal ditatap)

Semoga saja keberadaan mereka di sini bisa membawa manfaat bagi Indonesia tidak sekedar jual tampang atau malah merugikan Indonesia. Dan semoga juga tidak membava politk devide at impera mereka yang dulu, yang suka menangguk di air keruh. Dana Grant besar untuk beberapa bulan project mereka di sini benar benar bisa menampakkan hasil sebagai suatu Partnership bukan dana yang dari mereka oleh mereka dan kembali ke mereka juga, dan hanya meninggalkan nama di Indonesia bahwa mereka telah menyumbangkan dana hibah sebesar ********* tapi hasilnya sama sekali tidak nampak, atau dana yang terkucur bukan untuk mereka di sini tidak salah masuk kantong pelaku lokal yang akhirnya tetap berakhir dengan kata “rugi”

Monday, June 04, 2007

Dua tahun Sudah

Dua tahun sudah, saudariku
Cahaya itu menuntun kapal indahmu berlabuh
Dalam kebeningan telaga Sang Maha Cinta
Menyelami arti dalamnya KeagunganNYA
Cahaya keabadian yang telah bertahun engkau rindu

Dua tahun sudah
Niat tekad dan imanmu teruji
Ketika badai silih berganti
Ketika gelombang tak jemu menghadang
Ketika engkau tetap mencoba mekar di antara duri
Ketika engkau tetap bertahan di antara ketidaksepahaman
Ketika engkau tetap hormati penentangan perbedaan dengan senyum ketulusan
Ketika engkau harus memilih
Antara cinta dan Sang Maha Cinta
Antara fana dan keabadian
Engkau telah tentukan pilihan

Dua tahun sudah
Mutiaramu berkilauan
Di antara hati hati kegegelapan
Mata air kesejukan itu mengalir
Di antara jiwa-jiwa kehausan
Di pelabuhan itu engkau sambut mereka
Di telaga itu engkau tuntun mereka
Untuk sama sama belajar mengarungi telaga Sang Maha Cinta
Engkau berkata “ demi cinta”
Cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta

Dua tahun sudah
Air mata duka dan bahagia
Memberi riak-riak telaga
Dayung dayung itu silih berganti patah
Engkau tak pernah menyerah
Dalam kesulitan selalu ada kemudahan
Di ujung ujian ada kebahagian
Engkau jalani dengan keyakinan
Engkau berkata “ aku dengar dan aku patuh”

Dua tahun sudah
Engkau ukir jejak langkah
Bersama sama senyum yang selalu rekah
Engkau berkata “ ini amanah “


Dua tahun sudah
Telah berlalu dalam putaran waktu
Hari baru telah menunggu
Perjalanan baru akan dimulai
Di sana juga akan bertaburan
Keindahan ujian dan rintangan
Semoga di sana tetap bersemi
Wajah berbunga rindu Illahi


*** dedicate to my sister, 4th June, memperingati hari ke-dua tahun engkau berlabuh, you are not new comer anymore, but for me you are my teacher.
*** kita tak pernah tau kapan kita kembali, hanya bisa mempersiapkan diri selagi masih ada waktu dan berharap saat masa itu datang jiwa kembali dengan tenang dan diridhoi Aminn, Ya Robbi ampuni segala dosa kami… Amin”
*** meski dunia baru akan berbeda semoga kita tetap bisa saling mengingatkan ketika lupa salah dan khilaf karena manusia tempat salah dan lupa. thank you so much***

Thursday, May 31, 2007

Lagu Kenangan

Anak Ku Sazali

BY: P. Ramlee

Anakku Sazali dengarlah
Lagu yang ayahanda karangi
Sifatkan laguku hai anak
Sebagai sahabatmu nanti

Anakku Sazali juwita
Laguku jadikan pelita
Penyuluh di gelap gelita
Pemandu ke puncak bahagia

Andainya kamilah kembali
Menyahut panggilan Ilahi
Laguku sebagai ganti
Dijiwamu hidup abadi
Menjagamu wahai Sazali

Anakku Sazali dengarlah
Lagu yang ayahanda karangi
Sifatkan laguku hai anak
Sebagai sahabatmu nanti


***
Ketemu lirik ini, saya jadi kangen sekali dengan Amak dan Apak, mereka sangat suka lagu ini. dulu saya sering mendengar Bapak melantunkan lagu ini. I miss u Pak, dan katanya ibu dan Bapak suka sekali nonton film Ramlee waktu mereka masih muda. nostalgia muda muda. Kata Amak adegan film Ramlee di penjara membuatnya menangis, saya sangat penasaran dengan film itu, sampai sekarang saya belum bisa menemukannya.
ini lagu gambaran CInta sejati, cinta orang tua pada anaknya yang tak akan lekang ditelan masa.

Wednesday, May 30, 2007

Bila



Bila engkau tersenyum
Aku ikut tersenyum

Engkau bahagia untukku tegar
Aku tegar untukmu bahagia
Indahnya cinta
Dalam warna warni kehidupan

*** forgive me for everything i had...***
*** cuz of luv***

sudikah tahu mengapa?



aku tak ingin menangis
meski hatiku gerimis
karena di sini tak ada tanganmu yang mengusap air mataku

aku ingin tetap ceria
meski aku berduka
karena di sini tak ada dirimu tempatku sandarkan lara

Tak ingin kuurai resah
karena di sini tak ada dirimu mendengarkanku berkeluh kesah
karena hanya padamu ingin kutumpahkan segalanya

Aku tak ingin berlari
karena semakin aku mencoba pergi
semakin aku mengerti
aku selalu ingin kembali

Thursday, May 24, 2007

puisi



puisi
mampu kuuntai baris bait panjang puisi
tapi tak mampu kureka satu fiksi

****
saat2 nulis puisi tak terpublikasi

Wednesday, May 23, 2007

Disini



Di sini kudekap satu hati
Kulindungi kupagari
Dari gerah gelisah hari
Meski tak tahu, Untuk apalagi

*** Jakarta siang hari, 23 may 2007***

Tuesday, May 22, 2007

MS^U^

MS^U^, saya geli sendiri jika ingat kata ini, ini adalah salah satu nickname saya waktu masih maniax2nya chatting di IRC, masa jaya-jaya IRC tempo dulu. nogkrong di berbagai channel dalam dan luar negri, dan mengejar jadi @op di Channel2 # #. Masa-masa semangat-semangatnya mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya dari mana saja, pelosok daerah atau belahan bumi mana saja di seluruh dunia, dan dari latar belakang apa saja dengan prinsip yang selalu saya gemari dulu " Persahabatan di atas segala-galanya", " Just for Pure Friendship ".


Dulu teman banyak salah paham makna MS^U^ itu, mereka menganggap itu Miss You, padahal bagi saya itu adalah singkatan dari ^Miss Ur^, jadi dulu setiap saya Ol sapaan pertama yang sering saya dapatkan adalah >>>>Hi....I Miss You<<<< ( now, i miss you too friends).

Tahun 1999, pertama kali saya kenal yang namanya dunia chatting dan berselancar di dunia maya. Sedang Hobi-hobinya nguber-nguber warnet2 di kota Padang, perintang galau saat sebuah mimpi cita-cita yang kandas di tanah Andalas. Sebuah kegagalan yang mengajari saya bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan yang sementara, tidak ada alasan untuk berbangga diri untuk apa yang kita miliki semua akan kembali ke pada Pemilik Yang Sesungguhnya. Belajar untuk memahami bahwa menyesali sesuatu yang gagal kita miliki hanya akan menghambat untuk peluang untuk menikmati hidup yang lebih baik, dan jagalah dengan baik serta lakukan yang terbaik untuk apa yang masih kita miliki. Mensyukuri apa yang ada, maka Allah akan menambah nikmatNYA, dan janji Allah itu pasti, tinggal hati sejauh mana meyakininya. Meski terasa mudah atau terasa sulit, jatuh atau bangkit, indah dan sakit tapi jangan pernah berhenti untuk belajar menjadi lebih baik dalam menggapai Ridho-NYA.( terutama untuk diri saya sendiri).


IRC, jika saya bertemu dengan teman-teman lama di IRC, ada ada saja cerita lama yang menggelikan untuk bisa diceritakan ulang, atau pas jumpa begitu banyak perubahan yang telah terjadi. Di kota Bertuah waktu masa-masa akhir perkuliahan saya dulu, saya pernah mohon pamit pada teman teman, mungkin tidak akan bergentayangan lagi di dunia perchattingan seperti biasa. Banyak juga persahabatan itu yang masih berlanjut hingga sekarang, Tapi lebih banyak juga yang telah menghilang entah kemana tak tahu kabar beritanya lagi, apalagi IRC tak lagi seperti dulu. Terima kasih teman-teman untuk persahabatan dan kenangan yang pernah ada.

aku rindu pulang

aku rindu pulang
ke rumah yang tenang
suka duka di sana terbentang
saat sempit dan juga lapang
saat susah dan juga senang

aku rindu pulang
bermain di padang ilalang
bebas kutebar pandang
menikmati alam yang terbentang
mengamati burung-burung terbang
berkicau berdendang riang

aku rindu pulang
berlari di pematang sawah ladang
memetik kentimun dan kacang
berderai tawa hatiku riang

aku rindu pulang
berlarian di tanah lapang
bermain kasti dan juga simbang
berpantun-pantun dan berdendang
bersama kawan-kawan sama berjuang
bersorak sorai kalah menang

aku rindu pulang
meski semua tak akan terulang
tapi Aku Rindu Pulang...........................

***
Jakarta, 22 mai 2007

Monday, May 21, 2007

Kapal

Duhai kapal indahku
bukan layarmu yang kian menjauh membuat hatiku gaduh
tapi kehampaan yang tersiar membuat air mataku jatuh


meski ada dan tiada
kuingin melihat kapal itu tegar berlayar ke pulau cita
bukan mengembara di lautan hampa

tenang tenanglah duhai gelombang
usahlah garang usah menerjang
lepaskan sedih ke dalam lautan
usah diusung ke pulau impian

dalam tiada daya,kuhanya mampu berdoa
sungguh kuharap gelombang itu reda


Senja di Jakarta. 21 may 2007

Tuesday, May 15, 2007

debar

Detak jantungku berdebar
Getar aliran darahku menyebar
Terasa mengalir dan menjalar
Terlena ataukah sadar?

Robb…
Rinduku dipelukMU
Pasrahku didekapMU
Hidup matiku kuasaMU
Izinkan rinduku menyatu
Dalam sujud kepadaMU

Monday, May 14, 2007

tiada



Tiada sesalku akan waktu berlalu
Karena di situ telah kujaga keutuhan satu rindu
yang tak pernah terbagi
tempat kutemukan keteduhan
hijaunya perjalanan kehidupan
meski hanya kenangan

Sunday, May 13, 2007

hembusan malam

hembusan malam menampar pipiku pelan
mengingatkaan sekeping cerita yang kukabarkan
untaian pencerahan kembali kudapatkan
dalam dekap debar tertahan

hembusan malam menamparku lembut
peringatkan langkahku agar tak tersangkut
mengajakku sejenak duduk merenung
mengeja diri agar tak lupa tudung

hembusan malam menamparku dingin
getir getar hati membuka diri
jelas tiada alasaan untuk berbangga diri
diri bukan siapa-siapa

hembusan malam temanikku terdiam
tertunduk dalam pelukan salam
ingin kumengerti ingin kupaham
kalau segalanya akan segera redam

hembusan malam memelukku erat
hangatkan jiwa di rapat pekat
satukan potongan yang terkerat
dalam bata kata yang tersendat

hembusan malam dalam kepingan
kan kubawa dalam kenangan keabadian

Friday, May 11, 2007

Sajak Dara Pingitan Rindu

Di bilik pingitan rindu
Engkau tatap jendela waktu
Nyanyian kebebasan berhembus merayu
Mengajakmu turun ke pintu


Di bilik pingitan rindu
Menyulam benang kain beludru
Menguntai mutiara kilauan ilmu
Bekal berlayar di ombak waktu


Di bilik pingitan rindu
Bertilam rasa berselimut malu
Berpagar tipis kain kelambu
Mata lihai lidah kelu
Telinga mendengar bibir membisu
Ambil tinta tulis sajakmu
Sebelum waktu berhenti untukmu


Di bilik pingitan rindu
Kadang ragu kadang cemburu
Berhembus kabar hasutan semu
Usah ditelan dalam hatimu
Biarkan waktu mengalun syahdu
Lepaskan harap tata hatimu
Luruskan langkah sucikan niatmu
Caci dan maki biarkan berlalu
Jangan mejadi noda jiwamu


Di bilik pingitan rindu
Tundukkan mata jaga lisanmu
Usahlah turun keluar pintu
Sebelum ia datang menjemputmu
Sebelum ketukan pasti untukmu
Tutuplah rapat jendelamu

Di bilik pingitan rindu
Jangan merasa terpasung waktu
Kebebasan bukan sekedar di luar pintu
Tetapi ada di ruang hatimu
Pasungan bukan di sempitnya bilikmu
Tapi ada di sempit hatimu
Lapangkan hati bebaskan jiwamu
Tajamkan fikir lembutkan hatimu
Bersihkan hati jaga dirimu
Di sana letak kebahagianmu

Jakarta. 11 May 2007

Thursday, May 10, 2007

Kabar dari Selat


Tenang riak pantai timur Sumatra
Pesisir berlumpur hutan bakau
Mengintip cahaya matahari terbit
Di sela-sela akar akar bergantungan

Menyentuh air laut selat Malaka
Selat ternama sejak dulunya
Air mengeruh ikan tak nampak
Pasirnya hilang pulau tenggelam
Pasir dikeruk terjual sudah
Dibawa orang ke tanah seberang
Kota terapung semakin megah
Pulau tak bertuan tak nampak lagi
Satu-persatu menjadi laut
Titik terluar pulau terluar
Di mana kini direntangkan?


Laju nelayan di Tanjuang Datuak
Berkapal tongkang menghadang gelombang
Sejak lautan dirusak orang
Salahkah ikan tak tampak lagi?

Hilir mudik kapal raksasa
Kibarkan bendera aneka rupa
Bila bangsa tak berdaya
Menjaga aman selat pelayaran
kerja sama tawar-menawar
pada bendera lima puluh bintang
penjaga berjaya juga kuasa
kini selat milik siapa?


Beradu ombak pecah ditengah
Berputar arah angin buritan
Bila bangsa hilang marwah
Bisakah selat dipertahankan?


Tuduh menuduh semakin gaduh
Salah menyalah semakin kalah
Daripada semakin pecah
Alangkah baiknya saling berbenah.

Jkt, 10 may 2007. I Luv my country, kabar dari selat, teringat satu judul skripsi yang tak jadi.

Wednesday, May 09, 2007

Cerita Lengkap

Saya temukan cerita ini di situs
http://www.dakwatuna.com/index.php/tarikh-islam/2007/tsabit-dan-sebuah-apel.
mungkin ini versi lengkap dan tepat dari kisah "dalimo anyuik" yang saya dengar dulu, karena saya mendengar waktu usia masih kecil, maka tentu banyak lupa dan salahnya, penceritaannya dari mulut ke mulut. jadi untuk pembenaran yang lebih baik tentang versi cerita itu, saya posting ini.. Makasih banyak untuk yang menulis kisah ini. I love that so much.


9/5/2007 | 23/Rabiul Akhir/1428 H | Hits: 55

Tsabit dan Sebuah Apel

Oleh: Mochamad Bugi
E-Mail This Post/Page Print This Post/Page

Seorang lelaki shalih bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba ia melihat sebuah apel terjatuh di luar pagar suatu kebun buah-buahan. Melihat apel merah yang ranum itu tergeletak di tanah, terbitlah air liur Tsabit. Apalagi hari begitu panas dan Tsabit tengah kehausan. Tanpa berpikir panjang Tsabit memungut dan memakan apel itu. Tapi baru setengah memakannya Tsabit ingat: apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemiliknya.

Tsabit pun bergegas masuk ke dalam kebun itu. Ia hendak menemui si pemilik kebun dan meminta si pemilik menghalalkan sebuah apel yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya,” kata Tsabit kepada orang itu. Namun ornag itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya orang yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebun ini.”

Tsabit pun bertanya, “Di mana rumah pemilik kebun ini? Aku harus menemuinya untuk meminta ia menghalalkan apel yang telah kumakan ini.”

“Untuk sampai ke sana engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam,” jawab si penjaga kebun.
“Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka’,” tukas Tsabit tegas.

Tsabit pergi ke arah yang ditunjuk penjaga kebun. Ia menuju rumah si pemilik kebun. Dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Si pemilik rumah membukakan pintu. Tsabit langsung memberi salam dengan sopan.

“Wahai Tuan, saya terlanjur memakan setengah dari sebuah apel yang jatuh ke luar dari kebun milik Tuan. Karena itu, saya datang untuk meminta Tuan menghalalkan apa yang sudah saya makan itu.”
Lelaki tua si pemilik kebun itu mengamati Tsabit dengan cermat. Lalu dia berkata, “Tidak! Aku tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.”

Tsabit khawatir tidak dapat memenuhi syarat itu. Namun, ia tidak punya pilihan. “Apa syarat itu, Tuan?”
Si pemilik kebun menjawab dengan jawaban yang di luar dugaan. “Engkau harus mengawini putriku!”
Tsabit bin Ibrahim terkejut. “Hanya karena aku makan setengah buah apel yang jatuh keluar dari kebun Tuan, saya harus mengawini putri Tuan?” Tsabit membuat pertanyaan dengan warna penuh keheranan.
Tapi si pemilik kebun itu tidak peduli. Bahkan ia menambahkan, “Engkau juga harus tahu. Putriku punya kekurangan. Ia buta, bisu, dan tuli. Ia juga lumpuh.”

Tsabit terkejut. Haruskah ia menikahi perempuan seperti itu hanya karena ia memakan sebuah apel tidak dihalalkan baginya?

Si pemilik kebun itu kembali menegaskan sikapnya, “Aku tidak akan menghalalkan apel yang engkau makan kecuali engkau penuhi syarat itu.”

Tsabit yang tidak ingin di tubuhnya ada barang haram dengan tegas menjawab, “Baik, aku terima karena aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah meridhaiku. Mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”

Pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi untuk menyaksikan akad nikah itu. Setelah akad nikah selesai, Tsabit dipersilakan menemui istrinya. “Assalamu”alaikum!” Tsabit tetap mengucapkan salam, walau tahu istrinya tuli dan bisu.

Tsabit kaget. Ada suara wanita menjawab salamnya. Tsabit masuk menghampiri wanita itu. Wanita itu mengulurkan tangan menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut.

Setelah duduk di samping istrinya, Tsabit bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa kamu buta. Mengapa?”

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar. Aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah.”
Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan kamu tuli, mengapa?”

“Ayahku benar. Aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat Allah ridha,” jawab wanita itu. “Ayahku pasti juga mengatakan kepadamu aku bisu dan lumpuh, bukan?”
Tsabit mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya itu.

“Aku dikatakan bisu karena aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah saja. Aku dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang membuat Allah gusar.”
Tsabit begitu bahagia. Ia mendapat istri yang shalihah. Apalagi wajahnya bagaikan bulan purnama di malam gelap. Dari pernikahan ini Tsabit dan istrinya dikaruniai seorang putra yang kelak menjadi ulama yang menjadi rujukan dunia: Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit.

Tuesday, May 08, 2007

kata

mengenggam satu kata
dalam gemetar jemari
cukuplah mewakili
untaian panjang puisi

Yesterday Story

Sushi: A Surprising Health Food

Posted by Cheryl Koch, M.S., R.D.
on Sun, May 06, 2007, 1:23 am PDT
Post a Comment
View all 1704 Comments »

Are you a sushi fanatic or do you have trouble getting past the thought of eating raw fish? Well, it turns out that our national indulgence in this tasty and visually enticing treat from Japan may also be good for our health.

Sushi is generally made with white rice and sweet rice vinegar, fresh vegetables, seaweed, sesame seeds, and cooked or raw seafood. Like many other Japanese foods, sushi tends to be low in fat, cholesterol, and calories.

In addition, sushi that has seafood as an ingredient is often an excellent source of heart-healthy omega-3 fatty acids, which lower the risk of blood clots and decrease triglyceride levels.

The fresh vegetables in most sushi also have essential vitamins and minerals. The seaweed wrapping for these rolls is rich in micronutrients and phytochemicals.

A few cautions if you are an avid sushi eater but have high blood pressure or are pregnant or nursing. Sushi made with seaweed tends to be a little higher in sodium, as is the soy sauce that each piece is dipped in.

Too much sodium in the diet contributes to high blood pressure. And if you are pregnant or nursing, be sure to avoid sushi made from fish, either raw or cooked. The raw fish may carry unwanted bacteria and any sushi made from fish, whether cooked or uncooked, is likely to contain high levels of mercury.

******


Artikle ini saya temukan di yahoo pagi ini. Saya tidak ingin membahas bagus tidaknya mengkonsumsi sushi. Tapi artikel ini mengingatkan saya akan kejadian kemaren, saat ada teman yang ulang tahun dan traktiranya di restoran Jepang. Kebetulan juga ada seorang boss yang telah habis masa kerja di Indonesia dan akan kembali ke Jepang, jadi ulang tahun gabung dengan farewell party.

Awalnya rencananya bukan ke restoran Jepang, tetapi diperjalan berubah rencana akhirnya ke restoran Jepang, waktu itu saya tidak bisa berkata apa-apa atau mengemukakan alasan apa-apa lagi, hanya bisa bingung harus berbuat apa?. Ini resiko yang harus sering saya hadapi jika bekerja pada orang yang tidak sebangsa dan berbeda agama dan ditambah dengan rekan-rekan kerja yang semuanya tidak seagama, hanya saya sendiri yang muslim di sini. Bekerja dengan belajar untuk menerapkan teloransi yang cukup tinggi, bekerja sama dengan tetap saling menghormati perbedaan agama.

Sepanjang yang saya tahu( dari bocoran kawan), kebanyakan restoran Jepang yang ada di Jakarta belum mendapat sertifikat halal dari MUI, jika pun yang telah mendapat sertifikat itu saya sendiripun tidak tahu yang manakah restorannya? Haramkah makanan restoran Jepang? Menurut saya tidak semua, karena umumnya makanan di sana terbuat dari tumbuhan lebih cendrung vegetarian, dan bahan dasar ikan laut, yang jelas haram tentu yang berbahan dasar pork. Akan tetapi halalkah? Saya juga tidak berani bilang iya, karena dalam sebuah buku resep masakan Jepang yang saya baca, banyak dari menu masakan itu akan ditambahi bumbu, sesendok sake, dua sendok anggur merah, dan berbagai macam bahan sejenis yang mengangdung alkahol dan kaldu babi, walau bahan dasarnya sayuran tapi jika dicampur dengan anggur merah tentu saja jadi tidak halal lagi. Jika kita yang memasaknya langsung tentu tidak akan ditambah sesendok sake atau anggur. Jika di restoran itu rasanya akan segan bertanya ini apakah dicampur sake?, dicampur anggur? Apalagi pergi dengan rombongan yang notabenenya tidak akan mempermasalahkan hal itu. Jika ragu lebih baik tidak memakannya.

Hal ini yang kemarin membuat saya bingung, di restoran itu saya harus memesan apa? Kepada siapa saya bisa bertanya? Makanan manakah yang bisa saya makan? Menghindar juga sudah tidak bisa lagi. Pengetahuan saya tentang masakan Jepang tidak cukup banyak dan ingatan akan mana saja jenis menu yang kemungkinan mengandung Alkohol atau kaldu babi juga tidak kuat. Karena nama masakan dalam bahasa Jepang itu dimata saya mirip semua sehingga saya tidak bisa membedakannya.

Untunglah itu jenis restoran All You Can Eat, jadi bebas memilih sesuka hati tanpa memesan, tapi tak enaknya juga tidak mungkin jika tidak memakan apa-apa atau hanya minum juice saja. Jadilah saya berusaha memilih-milih masakan walau dalam hati berkata ragu, saya ambil seminimal mungkin dengan cara makam yang lama agar tidak menjolok. Tapi tertanya boss itu memperhatikan juga “ Uri-san, makannya sedikit ya?” sebelum sempat saya jawab untunglah teman langsung menjawab “ that’s why, she is so slim, do you wanna have body like her?, You have to follow a strict diet like her”, jawaban berbau canda itu bikin saya tersenyum sendiri, terima kasih atas jawaban itu, punya tubuh kurus ada manfaatnya juga, Alhamdulillah.

Makanan yang halal, menjaga agar apa yang kita makan adalah halal tentu penting sekali, sebagai seorang muslim tentu saya harus melakukannya, makanlah dari rizki yang baik dan bersyukurlah, banyak ayat Al-quran yang menerangkannya, karena apa yang kita makan akan mempengaruhi tidak saja tubuh tapi juga jiwa, hati dan pemikiran.

Waktu kecil saya sering mendengar kisah mulia masa lalu yang diceritakan Bapak, tentang kisah “ Dalimo Anyuik” kisah ini bercerita tentang seorang pemuda yang sedang menyeberangi sungai dengan sampan untuk pergi menuntut ilmu, ketika berada di tengah sungai ia melihat buah delima yang hanyut terbawa arus, ia langsung mengambil dan memakannya. Pendayung sampan langsung menegur pemuda tersebut, mengapa ia memakan buah delima itu sedangkan ia belum minta ijin kepada yang punya buah delima, buah itu tidak halal dimakannya, walau buah itu hanyut, tapi pasti ada yang menanamnya.

Pendayung sampan menyuruh pemuda tersebut mencari sang pemilik kebun delima, dan meminta ijin akan satu buah delima yang telah dimakannya agar tidak menjadi barang haram ditubuhnya. Pemuda itu pergi ke hulu sungai, dan akhirnya menemukan rumah pemilik kebun delima. Dalam percakapan dan perkenalan mereka sang pemilik delima ternyata terkesan dengan budi baik pemuda tersebut, dan ia menikahkannya dengan putrinya. Setelah menikah pemuda kemudian pergi melanjutkan tujuannya untuk menuntut ilmu.

Sepeninggalnya istrinya melahirkan seorang anak laki-laki, dibesarkan dan diajarkan mengaji berbagai ilmu. Akan tetapi anak tersebut tidak kunjung bisa mengaji dan membaca Al-quran. Sewaktu sang pemuda itu telah kembali lagi dari menuntut ilmu dan menemui istrinya, si istri mengadu mengapa anaknya tidak bisa menangkap pelajaran padahal ia sudah susah payah mengajarkan, saat itu pemuda itu sadar, kalau dia lupa niat awalnya datang ke rumah itu untuk meminta ijin akan sebutir buah delima yang telah dimakannya agar tidak menjadi barang haram yang mendarah daging di tubuhnya. Akhirnya ia meminta ijin dan maaf atas delima yang telah dimakanya. Dan ternyata anaknya setelah itu bisa menangkap berbagai macam ilmu dengan mudah dan lancar.

Itu cerita yang sering saya dengar dulu, mungkin versi penceritaan tidak bisa persis sama dengan aslinya, tapi itulah isi cerita yang bisa saya tangkap. Sekilas sepele, hanya sebutir delima, yang telah hanyut pula, bukan dicuri dari batangnya, dan delima juga bukan makanan yang haram seperti babi, tapi jika tidak halal di makan pengaruhnya ternyata sangat besar.

Juga makan direstoran Jepang, rasanya juga sekilas sepele, jika hanya sesendok sake, dua sendok anggur, sekian persen kaldu babi hanya sedikit tidak akan berpengaruh apa-apa. Tetapi jika tidak halal, meski sesendok juga tetap tidak halal. Dan itu juga tidak dalam keadaan darurat, kalau darurat yang haram bisa saja menjadi halal.

Semoga saja restoran-restoran seperti ini nanti, membuat menu masakan yang disertai komposisi bahan dan bumbu yang bisa dibaca oleh setiap pengunjung yang datang. Agar mudah menentukan mana masakan yang bisa dimakan mana yang tidak, terutama untuk menu-menu asing.

Monday, May 07, 2007

Hmmm

Banyak hal yang ingin diceritakan, tentang pengalaman hari sabtu, hari minggu, dan hari hari hari sebelumnya pagi ini. tapi satupun cerita tak selesai. Hiks....

Sunday, May 06, 2007

Bapak Penjual Sekoteng

jam sembilan malam, ketika saya sampai di kos teman-teman sedang asyik menikmati mangkok setokeng ( benar gak ya namanya?). tertarik saya pun ingin ikut membelinya untuk menghangartkan badan, Bapak penjualnya masih nongkrong menunggu mangkok-mangkok itu. karena teman-teman sudah hampir habis, saya jadi segan jika membuat Bapak itu menunggu lebih lama.
" Pak, maaf ya Bapak nunggu lebih lama lagi"
" Nggak papa Neng, mencari rejeki harus sabar, jangan terburu jika terlalu dikejar dia akan lari"
Jawaban tenangnya membuat saya tak bisa berkomentar apa-apa lagi. Teringat percakapan akan topic rezki dikopdaran beberapa jam sebelumnya, waktu Pak Riri memberi pertanyaan tentang rizki kepada kami semua, yang terus terang saja waktu itu, saya tidak bisa menjawabnya.
remang cuaca malam, menghalangi saya melihat cahaya kesabaran di wajah Bapak penjual sekoteng. tapi tutur singkatnya memancarkan cahaya ketenangan di hatinya.

****
( kadang jawaban datang dari tempat yang tidak terduga, Alhamdulillah)

Friday, May 04, 2007

Embun


Duhai embun
Di setiap tetesanmu yang turun
Denting puisi hijaupun mengalun

Pameran Hari Air

Hari ini, penutupan pameran dalam rangka memperigati hari air sedunia. Stand pameran di lapangan parkir depan gedung cukup banyak , semuanya berhubungan dengan air, pengelolaan, management, konservasi perlindungan terhadap sumber daya air. Banyak taman-taman kecil yang didesain begitu indah, dengan bunga-bunga dan air yang mengalir di pancuran-pancuran bambu serta bejana-bejana tembikar seperti suasana alam pedesaan. Ada juga kincir air bambu yang dihubungkan dengan alat musik angklung atau mirip gamelan yang memberi irama dan nuansa syahdu, mengalun satu-persatu menarik mata pengunjung untuk sejenak mendengarkannya. Ada juga miniatur muka bumi dengan aliran sungai di tengah hutan, perbaduan harmoni dan keseimbangan antara manusia dan alam.

Memandang stand-stand pameran itu, sangat menyenangkan, sejenak mengobat kerinduaan akan nuansa pedesaan.

Alam tawarkan kesejukan
Perbaduan harmoni keindahan
Hadiahkan berbagai penghidupan



****JkT****

Thursday, May 03, 2007

satu senyuman


satu senyuman
untuk bertahan
tapaki perjalanan

satu senyuman
memberi ketegaran
dalam kelelahan

satu senyuman
hadirkan pengharapan
dalam kebisuan

satu senyuman
hadirkan ketenangan
di setiap detik kehidupan

***
keep smiling forever.....

Tuesday, May 01, 2007

wangi

wangi bunga
merasuk di jiwa
kadang kelopaknya melayu
jatuh berguguran
tapi kuncup-kuncupnya
kan kembali mekar
di taman hati
mekar bersemi

Monday, April 30, 2007

Di RumahMU

Di rumahMU yang teduh
Dingin berpeluh aku jatuh
Ketika kakiku tak sanggup berdiri
Menyimak alunan suci


Di rumahMU aku tengadah
Ampuni hamba yang lemah
Sering mengalah pada amarah
Sering bermanja pada resah


Di rumahMU aku tertunduk
Izinkan aku rukuk
Gelora rasa yang sering tak mau tunduk
Mudah mengamuk susah rujuk
Dalam kehangatan cintaMU yang tiada jemu memeluk

Dedicated to Mbak Meli, Thanks Jaketnya.

Sunday, April 29, 2007

Kenangan Paling Berkesan di TK

Akhir pekan kemarin waktu ada kumpul-kumpul dengan teman-teman pecinta dan penikmat puisi. Di perjalanan, entah apa awalnya akhirnya saling bercerita tentang pengalaman berkesan waktu TK yang lucu. Ada yang teman mengatakan yang berkesan baginya saat ia di sekolah harus di temani sang Bunda dan merengek di kelas, ada yang bilang adalah saat ia merasa pintar sendiri karena terlalu lama belajar dari TK. Dan ada teman yang bilang yang paling berkesan saat di suruh bikin namanya dan senang karena namanya sangat singkat, karena yang ia tulis hanya nama panggilannya, dan ia paling selesai duluan. Sedang saya bagi saya yang berkesan adalah waktu ibu guru menyuruh membuat gambar bebas, saya mencoret sehelai buku gambar dengan pensil dan waktu ibu guru bertanya, gambar apa yang saya buat, waktu itu saya jawab “ Benang Kusut”

Bagaimana dengan pembaca, punya pengalamankah waktu TK?, kalau gak juga gak apa-apa ya, berarti pengalaman masuk SDnya lebih seru.

Thursday, April 26, 2007

Ketenangan

ketenangan kurasakan
menyeruak di rongga jiwa
ku dekap erat....


Morning Story

Saya baru sadar pagi ini setelah saya tidak menemukan al-quran terjemahan itu di meja kantor, ternyata saya semalam meninggalkannya di mesjid. Pas pagi ini, saya lihat ke sana sudah tidak ada. Ini yang ke dua kalinya, di tempat yang sama dengan situasi yang hampir sama. Malam di kos, saya masih berfikir Al-quran itu ketinggalan di meja kantor, tanpa ingat saya sengaja menaruhnya di suatu tempat yang agak tinggi tadi malam. Semoga saja Al-quran itu akan lebih bermanfaat bagi orang yang menemukannya. Saya terkesan dengan ucapan OB di kantor pagi ini, sewaktu dia tahu saya sedang mencari Al-quran dan tidak ketemu. Dia bilang “ Walau Al-quran itu kita yang membeli, tapi itu hanya titipan, mungkin ada yang sedang membutuhkannya” ucapannya benar, saya jadi malu sendiri.

Bapak penjual buku pagi ini, masih memberi penawaran yang cukup menggiurkan “ Mau buku yang mana Mbak? Ambil aja dulu bayarannya nanti saja” hmmm, si Bapak selalu tahu saja jika lagi tanggung bulan. Tapi tidaklah pak, cukup Al-quran saja dulu, buku yang lain nanti saja.

Pas lewat di depan Al Azhar, saya mendengar sayup-sayup suara musik group debu, saya pikir cuma rekaman yang diputar, ternyata di lapangan sana mereka sedang menyanyi sepertinya akan mengadakan pementasan untuk suatu acara. Lumayan juga beberapa menit bisa menyaksikan mereka menyanyi, selama ini hanya lewat layar Televisi saja. Seorang sahabat saya, suka sekali lagu debu.

Di Aula utama gedung depan, saya lihat juga keramaian acara seminar dan bazaar dengan spanduk “ Meningkatkan Kualitas Perempuan untuk Menghadapi Berbagai Tantangan” dalam rangka memperingati hari Kartini, ada tiga pembicara utama, salah satunya Dewi Motik. Meningkatkan kualitas perempuan. Saya jadi teringat debat kelakar dengan teman-teman waktu sekolah saat ada yang bertanya

“ Kamu ingin sekolah setinggi apa”

“ setinggi-tingginya “

“ Mau jadi apa?’

‘Ibu rumah tangga”

“ Lah, buat apa sekolah tinggi, kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga?”

Ach, ini bukan komentar yang baru, sering saya mendengar hal yang begini. Banyak orang menganggap menjadi ibu rumah tangga tak butuh pendidikan, dengan kata lain “ tidak apa-apa bodoh dan tidak banyak tahu”, saya juga mendengar komentar orang-orang untuk sepupu saya “ Percuma saja kuliah, toh akhirnya ke dapur juga “ ia melepaskan pekerjaannya dan memilih menjadi ibu rumah tangga rumahan setelah melahirkan anak pertamanya dulu hingga sekarang, dan banyak orang menganggap pendidikannya adalah suatu kesia-siaan.

Seorang ibu, tentu punya tanggung jawab besar, dia tiang dalam keluarganya, dia akan jadi guru dan idola pertama bagi anak-anaknya, sebelum mereka mengenal dunia yang lebih luas di luar rumah. Pendukung sang suami dalam menghadapi segala macam bentuk riak kehidupan. Tiang dan kepala tentu harus saling mendukung agar bisa kokoh berdiri. Apakah pendidikan tidak penting bagi mereka? Dan percumakah jika mereka perpendidikan?. Jadi ibu rumah tanggapun tetap saja bisa berkarya di rumah atau di luar rumah, itu tergantung diri masing-masing.

Akan tetapi, mungkin saya juga dulu punya anggapan yang keliru, pendidikan hanya sekolah dan belajar agama hanya di pesantren. Hingga saya sempat sedih saat tidak mendapat restu untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dari sebagian orang terdekat yang sangat sayangi, bila satu syarat yang menenangkan tidak dapat saya penuhi. Walau saya tetap mendapatkan dukungan juga dari Ayahanda “ Kemanapun kamu melangkah asal akidah tidak tergadai silahkan Nak”.

Tapi sekarang saya menyadari, ketidakrestuan itu membuka mata saya, bahwa pendidikan bukan hanya sekolah, seorang yang berpendidikan bukan hanya karena sederet gelar yang tertera di belakang namanya. Banyak hal-hal yang harus dipelajari dalam hidup ini, yang ternyata selama ini terlupakan dalam hidup saya. Setiap tanah yang ditapaki adalah sekolah yang di sana terdapat banyak pelajaran dan pengalaman adalah guru yang berharga. “ Alam Takambang Jadi Guru”. Malu berucap diri berpendidikan ternyata banyak hal yang sama sekali tidak saya tahu. Jika kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di jalur resmi itu ada “ Alhamdulillah” jika tidak “ Alhamdulillah”, mungkin itu yang terbaik buat saya.

Jadi, bagi saya sendiri, pendidikan bagi perempuan itu penting di jalur pendidikan resmi atau di mana saja, ilmu itu ada di mana-mana. Meningkatkan kualitas perempuan bagi saya bukanlah bagaimana bisa sejajar atau mengalahkan lelaki, tapi agar bisa jadi tiang yang kuat, bukankah wanita tiangnya negara, baik buruk negara tergantung dengan baik buruk wanitanya. Bukan untuk bisa jadi kepala dan menginjak kaum adam. Karena hawapun tak ingin diinjak-injak tentu begitu juga dengan kaum adam. Bukan untuk saling bersaing, tapi untuk saling melengkapi dan menghargai. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk semakin rendah hati dan menyadari, ilmu manusia itu hanya bagai air yang melekat di jarum yang dicelupkan ke dalam lautan, sedang lautan adalah Ilmu Allah.

Berhubung masih suasana Kartini. Boleh nulis begini, jika terkesan campur aduk, maaf ya yang membaca.

*** pagi di Jakarta***

Wednesday, April 25, 2007

editor

Dulu waktu SMU, karena suka membaca, saya pernah bercita-cita ingin menjadi seorang Editor, bukan ingin jadi penulis. Seorang editor akan lebih dulu bisa membaca suatu karya tulisan. Sedangkan jadi penulis waktu itu, saya membaca sebuah kisah tentang penulis terkenal di luar negeri (sayang saya lupa namanya) Ia dibenci sahabat-sahabat dekatnya, karena ia menjadikan kisah hidup mereka sebagai ide cerita untuk buku-buku best sellernya. Sahabat-sahabatnya merasa dikhianti olehnya karena merasa rahasia mereka dibeberkan dalam tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Hingga waktu itu saya berpikir, sepertinya menyenangkan jika bisa jadi seorang Editor, tapi saya lupa mana bisa jadi seorang editor jika tidak belajar menulis.

Beberapa minggu yang lalu, saya dibuat kaget oleh kata-kata seorang teman yang ingin kisah hidupnya dibuatkan sebuah novel oleh orang lain. Berbeda sekali dengan apa yang pernah saya baca dulu. Ach tentu manusia itu berbeda-beda punya keunikan tersendiri, ada yang begini, ada yang begitu, tentu tak bisa disamaratakan dan diseragamkan. Hanya belajar untuk memahami keunikan itu……..

salju


di puncak dingin bersalju
tetesan air mampu membatu
mencair dan membeku
ternyata tak semudah membalik buku

mendekap hangat kepingan lalu
agar ia tak ikut kaku

***
***
bila cahaya itu menerpa
beku menetes jadi telaga
sucikan raga serta jiwa
menghadaplah kepadaNYA
*****
***
*

Monday, April 23, 2007

Ketika Jemari Kaku

Hari ini, saya ingin sekali menulis banyak tentang apa yang saya rasakan, lihat, dengar, pengalaman hari ini, hari-hari sebelumnya, lewat puisi atau tulisan apa saja. Tapi sayang, saya tak bisa menuliskan apa-apa. Satu puisipun tak tercipta, hanya mengambang di kepala. Satu tulisan tak tergoreskan hanya bersarang dipikiran. Oh akhirnya saya hanya bisa berbisik “ biarlah dulu mengendap”

Friday, April 20, 2007

Senja dari Jendela



senja dari jendela
mengintip di lantai tiga
rama-rama di antara bunga
berterbangan aneka warna

senja dari jendela
menyibak tirai kaca
cahaya kuning di luar sana
bukti senja itu ada

senja dari jendela
memandang rumput yang menghijau
membayang kuning tertimpa cahaya
terkirim kata dan juga tanya
adakah di sana pipit kerkicau?

Laut Biru


Bila Jemari telah kaku
mata mulai sendu
lantunan lagu membisu
ingin menatap laut biru
menyelam bagai hiu
di sela karang dan batu

oh indahnya samudra biru...

Pantai Yang Indah

How wonderful you are...

Thursday, April 19, 2007

Bintang

Bintang-bintang di langit kelam
Kerlap-kerlip cahaya temaram
Sketsa terang di keremangan malam
pelita malam yang diam


Satu-satu pernah dieja
Satu-satu pernah dihitung
Sketsanya teringat nyata
Lukisan yang tiada terlupa
Terbayang kala larut menatapnya
Di depan rumah tepi lapangan bola
Bersama si manis kucing jelita
Yang terlelap manja di pangkuan


Bintang-bintang di langit malam
Dari timur condong ke barat
Timbul dan tenggelam dalam waktu
Tanda hukum alam masih berlaku


***

Kangen liat bintang di langit Jkt, sayang gak jelas...

Si Mungil dari Rusia



***
ini species burung kecil dari rusia data lengkapnya bisa dilihat di http://www.orientalbirdimages.org/
***
( aneh kok picnya ngilang???)

Kepakkan sayapmu, manis…
Ikuti irama angin
Resapi cekrama mesra udara
Seimbangkan, berat, ruang dan kecepatan
Melajulah ke arah tujuan


Terbanglah mengudara
Nikmati indahnya alam semesta
Menarilah bersama awan
Bernyanyilah bersuka ria

Di antara pohon tempat berteduh
Di atas ranting tempat bertengger
Dedaunan tempat berlindung
Di atas tanah tempat bersantai
Selami alam indah nan permai

Jika hari telah petang
Sayap lelah berpetualang
Tubuh penat melayang
Pulanglah ke rajutan sarang
Tunggulah esok hari menjelang

***


Mendung

Mendung di langit Jakarta
Menggantung tebal sebelum senja
Rintik akan segera tiba
Membasuh debu-debu kota

Rintik jatuh menyentuh rumput
Menyapa ikan-ikan kecil di selokan
Menyejukkan tanah-tanah kekeringan
Mendinginkan panasnya cuaca kota


Tak perlu murung karena mendung
Mendung datang membawa rintik
Bila rintik telah reda
Langitkan terang bercahaya


***
I m so sleepy...

Monday, April 16, 2007

More and More

Subhanallah. siang ini saya melihat lagi seorang pemuda di Al Azhar mengucapkan syahadat. Ustad bertanya padanya apa yang menyebabkan ia memilih islam. ia menjawab bahwa ia memilih islam atas kesadarannya sendiri. selama ini ia sibuk dengan bekerja tak peduli dengan agama. tapi ia tinggal dan bekerja di lingkungan muslim. Setiap saat ia melihat orang-orang sholat berjamaah, terutama teman-teman kerjanya waktu sholat jum'at, ia melihat kedamaian dan ketenangan di sana. Ia terharu oleh kedamaian yang ia rasakan dan saksikan setiap saat yang menghantarnya mengucapkan kalimat syahadat siang ini.

Kedamaian, perdamaian, islam agama yang damai. betapa bertolak belakangnya dengan image yang berkembang bahwa islam adalah agama terorist, agama yang kejam. seorang yang baru akan bersyahadat mampu mengatakan dalam islam ada kedamaian, bagaimana dengan kita?. Alangkah bahagianya orang-orang yang mampu menemukan dan merasakan kedamaian itu.

kedamaian dan perdamaian, saya suka kata-kata itu. Dulu waktu ada wawancara untuk tes menjadi diplomat saya ditanya mengapa saya ingin jadi diplomat. waktu itu saya menjawab yang intinya " saya cinta perdamaian karena itu saya ingin jadi diplomat...". Kini jadi diplomat atau tidak tidak masalah lagi bagi saya, tapi tetap saya ingin berkata " I Love Peace"

Sunday, April 15, 2007

Sujud

“Mengertikah engkau tentang rindu?”. Malam itu rasa hati seakan sama dengan saat sahabat muallaf bertanya hal itu pada saya beberapa bulan yang lalu, saat saya menyaksikan seorang gadis yang duduk disamping saya sujud syukur. Ada getar yang tergugah yang sulit diterjemahkan. Siapakah perempuan ini?. Melihat kapal-kapal indah berlabuh dalam telaga Cinta, untuk beberapa waktu terakhir ini bukanlah hal baru lagi tapi sujud syukur gadis di samping ini bagi saya sungguh luar biasa. Dia belum berlabuh secara syahadat, tapi yang saya tahu esok paginya dia akan berikrar. Dialah perempuan berkebangsaan asing yang jauh datang untuk mendalami islam. Untuk kesekian kalinya saya merasa ditegur, malu dan terharu. Orang asing, terlahir bukan sebagai muslim, begitu rindunya akan Pencipta dan rasulNYA. Bagaimanakah dengan saya?

Nasyid mengalun syahdu melantunkan syair pujian dan kerinduan…. Rabb tuntun hati ini selalu MerinduMU dan RasulMU di atas segala macam kerinduan yang terpendam dihati ini.

Friday, April 13, 2007

Senja

Bila senja telah tiba
Sejenak duduklah di beranda
Tatap rona cakrawala
Kuning, ungu, merah jingga


Bila senja telah datang
Jauhkan buku dari pandang
Bebaskan mata dari lelah
Bebaskan hati dari resah

Bila senja telah menghampiri
Ingatlah waktu sehari yang terlewati
Adakah terisi dengan arti
Ataukah termasuk dalam rugi


Bila senja telah melebur
Ucapkan puji dan juga syukur
Masih berdetak jantung dalam umur
Masih berputar alam dengan teratur


Bila senja telah tenggelam
Sambutlah malam dengan tentram
Nyalakan lentera sebagai penerang
Beristirahatlah dengan tenang

****

Jakarta. sore hari

Pipit Padi


( Tanpa dikurungpun pipit tak akan terbang jauh, tidak terlalu liar, juga tidak terlalu jinak)

Burung Pipit Padi

Pengelasan saintifik
Alam: Haiwan
Filum: Kordata
Subfilum: Vertebrat
Kelas: Burung
Genus: Lonchura
Spesies: L leucogastra

Burung Pipit Padi
Lonchura Leucogastra
White-bellied Munia
ciri ciri :
Burung Pipit Padi ialah hewan yang tergolong dalam golongan benda hidup,
alam : haiwan,
filum : kordata,
sub-filum : bertulang belakang (vertebrata),
kelas : burung.
Burung Pipit Padi adalah berdarah panas, mempunyai sayap dan tubuh yang diselubungi bulu pelepah. Paruh Burung Pipit Padi tidak bergigi.

***
Beberapa waktu lalu, saat saya baru saja membuat blog berjudul pipitpadi. Saya melihat film dokumenter di televisi yang menyatakan bahwa species burung pipit adalah satu-satunya species burung di dunia yang bisa terbang mundur. Awalnya saya heran dengan terbang mundur apa maksudnya, saya lihat burung-burung yang lain juga bisa terbang mundur. Ternyata maksudnya terbang mundur tanpa berbalik arah atau membalikkan tubuh. Jadi pipit bisa terbang dengan arah mundur. sedangkan jika burung-burang yang lain terbang mundur dengan berbalik arah memutar arah kepala. Tapi saya sampai saat ini saya tidak tahu dan belum bisa menemukan artikel yang mendukung alasan mengapa pipit bisa terbang mundur. dan alasan apakah yang menyebabkan pipit ingin terbang mundur?.
Tuhan menciptakan setiap makhluknya dengan keistimewaan tersendiri.

Bagi saya sendiri, pipit padi punya makna beragam dan punya kisah tersendiri, kisah sejarah kini dan harapan masa depan. jika sejarah, pipit padi dulu mendengar kisah air mata ibunda saya tumpah waktu masa remajanya, kisah-kisah yang harus diambil hikmah diterima dengan kesabaran, kemaafan dan keiklasan. Kini pipit padi adalah kecerian, saya tak mungkin masuk dalam masa lalu ibunda untuk menghiburnya saat sedih, tapi saya ingin bagai pipit yang berkicau menghiburnya, berdarah panas untuk menghangatkan hati semua orang, berbagi kecerian pada semua orang, menjadi pendengar untuk setiap cerita yang terurai, menggenggam rapat kepercayaan. Kecil dan tak bergema, tapi kicauan jadi penghibur saat jiwa butuh ketenangan dan kesunyian alam, pipit tak bergigi agar tak bisa menyakiti. Dunia telah banyak menangis, jika pipit kecilpun turut menangis, di mana keceriaan akan didapati, biarlah cicit-cicit kecilnya menambah bunyi di alam ini, dan ia bisa terbang mundur jika terbang maju tak memungkinkan lagi. Ach terlalu muluk mungkin harapan saya akan sosok pipit padi, tapi pipit-pipit itu dulu membuat hati saya ceria.

Manusia bukan pipit, tapi belajar dari pipit, rasanya juga tak ada salahnya.

Padi

Padi
Merunduk kala berisi
Wujud makmurnya negeri
Bulir jerih para petani
Anugrah kasih Illahi

Padi
Menghijau menguning di persawahan
Terbarkan pesona keindahan
Kesederhanaan kedamaian
Bukan hamparan kemewahan
Tapi lambang dasar kemakmuran

Padi
Setiap bulir punya arti
Setiap tangkai punya makna
Setiap rumpun punya cerita

Padi
Air tanah jadi sahabat
Angin mentari terikat erat
Insan alam berkerabat
Tumbuh subur bersemangat

Padi
Yang berisi makanan kami
Yang hampa rebutan itik
Batang jerami tetap berguna
Tunggul tinggal penyubur lumpur
Tak ada yang tersia
Tak ada yang terabai
Betapa Agung Yang Menciptakan


Jakarta, 11:20 AM