Friday, April 13, 2007

Padi

Padi
Merunduk kala berisi
Wujud makmurnya negeri
Bulir jerih para petani
Anugrah kasih Illahi

Padi
Menghijau menguning di persawahan
Terbarkan pesona keindahan
Kesederhanaan kedamaian
Bukan hamparan kemewahan
Tapi lambang dasar kemakmuran

Padi
Setiap bulir punya arti
Setiap tangkai punya makna
Setiap rumpun punya cerita

Padi
Air tanah jadi sahabat
Angin mentari terikat erat
Insan alam berkerabat
Tumbuh subur bersemangat

Padi
Yang berisi makanan kami
Yang hampa rebutan itik
Batang jerami tetap berguna
Tunggul tinggal penyubur lumpur
Tak ada yang tersia
Tak ada yang terabai
Betapa Agung Yang Menciptakan


Jakarta, 11:20 AM

New Regulation

Miris rasa hati ini melihat peraturan baru di tempat kerja hari ini. Rasanya juga tidak ingin berontak tapi juga sedih melihat ketetapan-ketetapan baru itu yang katanya berasal dari kantor pusat. sanggupkah saya?. Sebuah peraturan dibuat tentu untuk mengatur segala sesuatu ke arah yang lebih teratur, walau dalam hati saya kadang merasa tak seimbang.

“ Ya Allah, jika ini yang terbaik kuatkan hati ini untuk bisa bertahan dan tabah dalam peraturan-peraturan itu. tapi jika tidak, tentu Engkau lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaMU ini”

Thursday, April 12, 2007

Puisi untuk Seorang Kawan

SMP Ceria
SMU gembira
Kita bersama
Bangku kenangan
Ruang sejarah
Kita berdampingan

Dulu …
Sahabatku sahabatmu sahabat kita
Kawanmu kawanku kawan kita
Musuhmu musuhku kalau ada
Rumahku rumahmu rumah kita
Ceritamu ceritaku cerita kita
Duniaku duniamu dunia kita

Walau kini….
Sahabatmu tak kukenal lagi
Kawanku tak engkau tahu lagi
Ceritamu ceritaku beda pelaku
Duniaku duniamu tak lagi sama

Tapi tetap…
Ada satu yang yang jadi jembatan
penghubung segala perbedaan
Ada satu tak terlupakan
Oleh rentang jarak dan waktu memisahkan
Ialah ia “ Ikatan Persahabatan”

Semalam…
Kuterima pesanmu kawan
Terbayang senyum kebahagian
Reda gelombang di pelayaran
Bersandar jua kapal di pelabuhan

Pesan doa kuhantarkan
Mengiring langkahmu kawan
Harap abadi kebahagiaan
Di bawah tirai pelaminan

****
Semalam di Jaksel
after i heard your great news.

Dedicated to. Karibku, Ade Nova Suryani. Selamat Menempuh Hidup Baru. 20&21 April 2007.

“ karena terpisah jarak dan waktu bolekah janji masa SMU tak berlaku?"( curang dikit boleh kah?"

Tuesday, April 10, 2007

Dari Blog Jiran


Madah Romantis

cited from:
http://cintadearhaniey.wordpress.com/2007/04/04/madah-romantis/

Cinta tidak boleh dipaksa dan cinta bukan datang dengan sekelip mata. Cinta bagaikan bintang di langit sana. Terlalu banyak yang bercahaya indah tetapi cuma satu yang akan jadi igauan pemujanya.

Peraturan cinta menyatakan yang kita boleh mencintai sesiapa saja. Kenapa? Kerana cinta itu adalah hak kita. Tak ada orang yang boleh membunuh cinta yang tumbuh walaupun oleh orang yang kita cintai itu! Itu peraturan pertama bercinta!

Cinta hanya satu perasaan. Jika diupam rasa, sarat emosi, maka bersemi, mekar dan rendanglah ia. Tetapi, jika diabaikan, dibiarkan, pasti akan layu dan kekeringan. Cinta tidak lebih hanya satu perasaan. Jika salah kendali, bisa jadi penyakit.

Tuhan tahu rasa hati kita. Tuhan dengar keluhan kita. Kalau kita tak lupa dia, dia tak lupa kita. Di tangan dia ada ‘kunci’. Dan, kita ada pilihan sama ada mahu dapatkan kunci itu atau tidak.

Kadang-kadang, kita terlepas pandang bahawa Allah mengatur segala-galanya. Mungkin Dia mahu kita bertemu orang lain, yang lebih baik untuk kita dan memberikan orang yang lebih baik kepada orang yang kita cintai.

Rasa terikat, terlalu sayang dan terlalu benci, akan buat jiwa merana.

Dalam hidup ini, tidak semua yang kita ingini akan kita dapat malah kadangkala kita terpaksa berkorban hati dan perasaan. Apalagi bila melibatkan perasaan orang lain.

Kadang-kadang Tuhan turunkan petir dan kilat, kita menangis mencari di mana hilangnya matahari, rupa-rupanya Tuhan hendak beri kita pelangi.

Terkadang, kita tidak dapat apa yang kita impikan. Lalu, kita menyalahkan takdir kerana terlalu kecewa. Sedangkan, kita tidak sedar, apa yang kita perolehi adalah lebih baik dari apa yang kita harapkan.

Sungguh benar bahawa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya. Tetapi sungguh benar pula bahawa kita tidak tahu apa yang belum kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Benarkah bahawa percintaan itu sesuatu yang indah? Benarkah setiap pencinta akan terus mengingati kekasihnya walaupun kekasih itu tidak ada buat menemaninya setiap waktu ?

Dan benarlah kata orang itu cinta itu buta. Cinta itu tidak memerlukan cahaya matahari untuk menyuluh jalan sang pencinta itu walaupun jalan itu amat sukar dan berliku. Cahaya hati dan perasaan sudah cukup untuk menerangi segalanya.

Untuk membaca koleksi madah cinta yang lain, sila klik
http://cintadearhaniey.wordpress.com/tag/madah-cinta/

Tuesday, April 03, 2007

last minute

Ditinggal si boss balik mendadak ke negeranya beberapa hari, saya jadi manfaatin waktu luang buat berleha-leha ( hmm pekerja tipe apa ya???). tapi besok si Boss bakal balik, jadi hari ini, nyelesain semua yang tertinggal selama berleha-leha. ngebut in the last minute.....................do the best in the last minute.

Monday, April 02, 2007

dua puisi dua waktu

Senyuman Matahari

Tetap kunanti pagi
Membawa senyum matahari
Terangi seisi bumi
Hidupkan hangatkan hati
Bukan untuk sehari
Tapi hingga detak jantung berhenti

Dalam bisu malu mengaku
Pada awan aku cemburu
Bila tebalnya menghalangiku
Menyambut senyummu matahari


Tangerang, 9:14 PM 30 March 2007

II

Tlah kuurai rasa
Sebisa kumencoba
Walau mungkin tak sempurna

Di sini aku terpaku
Tetap aku menunggu
Sejuk sapa senyummu

Bukan untuk sedetik waktu
Tapi hingga detik akhir waktuku
Bukan sebagai pengisi waktu
Tapi untuk menjalani putaran waktu

Mungkin aku tak mampu mengerti
Makna tersirat diujung kalimat
Langkah ejaku tersendat
Membaca setiap tanda penuh makna


Ceritakanlah
Bila aku salah membaca
Terangkanlah
Bila artian maknaku berbeda
luruskanlah
bila prasangkaku berliku
Buatlah aku percaya
Arti segalanya

Jakarta 5:51 Pm 1 Appril 2007



Ayah-Bundaku

Bunda
Hangat damai pelukanmu
lembut belai kasihmu
Indah bahasa cintamu
Selimuti hari-hariku

Ayah
Tenang aura wajahmu
Teduh tatap matamu
Sejuk mengalir petuahmu
Menuntun langkah kakiku

Tenanglah Ayah-Bundaku
Usahlah cemas akan diriku
Selama doamu mengiringku
Jatuh bangun aku tak ragu

***

Jakarta, Subuh setelah kita bertukar suara, canda dan berita.

Sunday, April 01, 2007

Kritik

Kritik apapun adalah sesuatu yang diperlukan untuk mengoreksi dan mawas diri terlepas dari mana kritik itu berasal, jika bersifat membangun “ ambil”. Dan jika suasana hati panas atau menciut saat menerima suatu kritikan, mungkin juga saatnya belajar untuk menata hati, mengendalikan emosi, boleh jadi hati panas dan ciut, tapi saatnya belajar menganalisa dengan kepala yang dingin. Mampukah??

( …penggalan tulisan di file pribadi….)

*****

Pagi ini, saya tercenung di depan Komputer membaca sebuah Imel bersubjek ‘ Maaf ya Dik” sebuah imel yang membuat rasa hati terharu biru, sebuah bahasa yang seakan menyentuh ruang terdasar dalam jiwa ini. Sederhana bahasanya tapi mengena, mengingatkan saya akan rentetan hari yang terlewati belakangan ini. Gundah dan gulana, saat saya merasa diri adalah sebuah kota kubus bersisi enam, dan sebuah kritikan adalah suntikan vitamin, yang entah mengapa seakan datang bersama ke pada keenam sisinya.

Ingin rasanya meronta, “ Oh janganlah hantam sisiku bersamaan, bisakah bergantian,? Aku tak kuasa menahan jarum kecil itu menusuk di saat bersamaan”. Tapi itu tidak mungkin, setiap sisi mungkin tak akan tahu sisi yang lainnya, bukanlah salah yang datang, salah kekuatan kubus untuk menerima suntikan di setiap sisinya yang terlalu lemah. Suntikan vitamin adalah untuk membuat kubus itu makin sehat, makin tegar, walau harus meriang dan demam dulu, tapi semuanya adalah untuk kebaikan. Jika semua sisi dihantam berarti penelaahan dan koreksi secara menyeluruh harus dilakukan, bukankah itu suatu hal yang seharusnya diharapkan.

Imel pagi ini, membuat rangkaian rasa yang kadang lurus kadang kusut, mengurai perlahan. Terima kasih ya Allah, Terima kasih kakak, engkau ajak saya bangkit dan melangkah lagi, menyingkirkan segala rasa yang tidak pantas dibawa, memulai hari baru dengan doa, cita dan cinta. Semoga saya bisa ikuti jejakmu, berlayar di lautan kumpulan aksara yang bermakna menuju-NYA.

***

Setulus terima kasih buat seorang Kakak, yang telah bersedia berbagi banyak hal dengan adikmu ini, ntar ajarin saya bahasa jawa ya, biar gak bengong dengar pada ngobrol jawa. Semoga Mbak selalu berjaya, dalam karya dan Ibu dan istri yang bahagia dalam rumah tangga. Amin….

Sejujur terima kasih buat mbak seorang lagi, yang semalam dan setiap saat rela menasehati adikmu, maafkan sering saya membantah, selalu ingin dimengerti, tapi sulit mau mengerti. terima kasih untuk nasehat dan petuahmu, selalu mengingatkan untuk selalu dekat dan mengingatNYA dalam suka dan duka, sedih dan bahagia, dalam lena dan terjaga. maafkan ego dan narsis diri ini. Tetaplah berhati bidadari, yang mengajarkan kebeningan hati, menjaga kelurusan niat, kepasrahan dan kerendahan hati.

dua puisi bila

I

Bila gelora rasa meraja
Izinkan kuketuk pintu cintaMU
Bila deru cemburu memburu
Izinkan kuketuk pintu ampunanMU
Bila lemah daya tiada
perkenankan kuketuk pintu pertolonganMU
Bila sedih menyesak dada
Izinkan kuurai air mata doa padaMU
Bila bahagia menyapa manja
Tuntun aku bersyukur kepadaMU
Bila apapun yang datang melanda
Tuntun aku selalu ke jalanMU

II

Bila seminggu tanpa sujud
Hati ini resah kalut
Rindu kasihMU membalut
Saat air mata tercurah di ujung malam tanpa selimut


Bila seminggu tanpa sujud
Gundah jiwaku berkenala
Rindu waktu segera tiba
Untuk mengurai air mata doa

bila waktu telah tiba
diatas segala daya
Engkaulah penentu segalanya


***

Suatu malam di Tangerang.

Wednesday, March 28, 2007

Berbagi Kisah Waktu Remaja

Di SMP Negeri Bukit Sitabur Payakumbuh, saya pernah masuk sebuah kelas khusus yang diperuntukkan bagi siswa yang termasuk dalam rangking lima besar dari kelas sebelumnya. Hal ini mungkin sebuah keberuntungan saya termasuk dalam lima orang itu, sebuah keberuntungan yang membuat saya tersiksa awalnya tetapi harus sangat disyukuri kini. Kelas itu terdiri dari 40 siswa, awal masuk kelas itu rasanya ingin pindah saja ke kelas biasa karena saking tidak PD-nya berhadapan dengan teman-teman satu kelas yang dari pandangan saya waktu itu dari segi apapun semuanya lebih dari saya. Akan tetapi untuk mengambil keputusan pindah juga takut akan sorak sorai yang lebih tidak mengenakkan di luar kelas, karena akan dianggap kalah sebelum berjuang. Apalagi juga waktu itu juga banyak sorak-sorai tentang beda itik dan angsa, untuk usia saya waktu itu, hal itu berupa dunia terasa gelap saja.

Takut, cemas dan minder selalu mewarnai hari-hari saya waktu awal masuk kelas itu, apalagi minggu-minggu pertama tidak ada teman dekat saya yang ikut dikelas itu, semuanya teman-teman sekelas biasa yang tidak terlalu akrab. Pas waktu ada mata pelajaran bahasa Inggris, saya makin ketakutan, karena itulah mata pelajaran yang sangat saya takuti, di kelas sebelumnya jika ujian tiba, saya rela teman-teman mencontek kertas jawaban saya untuk pelajaran matematika, fisika, dan mata pelajaran lainnya, asalkan mereka mau mengasih saya contekan untuk bahasa Inggris. Nilai bahasa Inggris saya adalah yang terjelek dari semua mata pelajaran, menurut saya nilainya pantas merah, tapi mungkin wali kelas berbaik hati dengan menyeimbangkan dengan nilai-nilai mata pelajaran lainnya.

Waktu pertama kali jam bahasa Inggris di kelas khusus itu, Ibu guru menyuruh kami para siswa memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris, karena menurutnya kelas itu pasti semua muridnya bisa bahasa inggris, mendengar ucapannya saya sangat ketakutan, jangankan memperkenalkan diri dengan bahasa inggris beda antara, I, YOU, WE, THEY, SHE, HE dan IT saja pada waktu itu saya tidak tahu. Di SD saya tidak pernah belajar bahasa inggris, mungkin beda dengan teman-teman saya yang umumnya telah kursus bahasa inggris sejak dari sekolah dasar atau pada tingkat kelas sebelumnya. Dalam ketakutan, saya lebih kaget lagi ternyata saya yang diminta berdiri pertama sekali ke depan kelas untuk memperkenalkan diri.

Di depan kelas saya hanya bisa terpaku, bingung harus mengucapkan apa, saya tidak tau harus memulai dengan kata apa, setelah itu saya bilang saya tidak bisa dengan wajah malu, Ibu guru meminta saya duduk dan memperhatikan teman teman yang lain lebih dulu setelah itu coba lagi. Teman-teman saya ahkhirnya bergantian memperkenalkan diri dalam bahasa inggris, semua terlihat lancar, membuat saya makin ketakutan. Setelah separuh dari siswa memperkenalkan diri, saya disuruh lagi berdiri untuk memperkenalkan diri, saya kembali berdiri di depan kelas, tapi bukannya bisa, malah tambah gugup, malu dan tidak tahu harus bagaimana, saya tidak berani membayangkan pandangan teman-teman saya waktu itu, akhirnya saya tetap tidak bisa.

Semua siswa akhirnya memperkenalkan diri di depan kelas dengan baik, memang ada satu siswa lagi yang duduk dibelakang tidak mau berdiri ke depan. Jadi dari seluruh siswa itu hanya saya yang berdiri di depan tidak bisa memperkenalkan diri, dan hanya bisa berdiri di depan kelas sambil menahana rasa malu yang luar biasa, di depan kelas serasa saya ingin menangis tapi dengan keras berusaha saya tahan, apakah pandangan teman-teman saya waktu itu, Kasihankah? Mengejekkah? Maklumkah?, Menghinakah? Saya tidak berani mendefenisikannya yang jelas bagi pikiran waktu itu serasa langit mau runtuh saja. Betapa malu dan memalukannnya, andai waktu itu ada kolam di depan kelas mungkin saya sudah memilih terjun, saking malunya.( kalau itu film kartun, kepala saya sudah hilang ke balik baju), Jika dipikir sekarang mungkin hal itu hanya hal biasa, tapi buat siswa SMP seperti saya waktu itu, sudah malu yang luar biasa.

Sesampai di rumah, saya langsung membongkar seluruh buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Inggris, saya membawanya ke bawah batang manggis di belakang rumah, di sanalah tempat saya sering belajar, jika sedang tidak berminat membaca buku di atas pohon. Di situ saya baca keras-keras, apa isi buku itu, tapi sayang sambil menangis, segala rasa dan tanya campur aduk, mengapa saya tidak mengerti bahasa Ingris?, mengapa saya tidak bisa memperkenalkan diri? Mengapa saya bodoh?. Semakin dibaca semakin menangis, jangankan bisa mengerti rasanya semakin tidak paham saja.

Akhirnya beberapa hari setelah itu, atas rekomendasi teman sebangku, Bapak mengantarkan saya pada sebuah tempat les bahasa Inggris, yang tidak terkenal di Pakumbuh, tetapi tempatnya lebih dekat ke kampung saya, dan bulanannya juga lebih murah. Saya les tiga kali seminggu. Pelan-pelan akhirnya saya mulai mengerti apa beda I, YOU, WE, THEY, SHE, HE dan IT. Yang selama ini kabur mulai tampak titik jelasnya kadang sedang belajar di les saya berguman sendiri

“Oooo begitu’ ‘

“Jadi begini..’

‘ Ooooo dan ooo’

Merangkak sedikit demi sedikit, materi yang dulu seperti benang kusut jika diterangkan di depan kelas pelan-pelan mulai terurai dalam otak saya.

Di sekolah, saya mulai bisa mengikuti alur pelajaran dan mulai tidak menakuti bahasa inggris, dan pas saat lulus SMP, saya kaget luar biasa, jika selama ini bahasa Inggris, nilai rapor saya yang paling jelek, pada saat itu bahasa Inggrislah nilai saya yang tertingi, karena terlalu takut tertinggal, mungkin saya berlari terlalu kencang, hasilnya saya sendiri tercengang ( Alhamdulillah dan Subhanallah). Terima kasih Ya Allah dan terima kasih Ibu guru bahasa inggris, mungkin Ibu guru tidak ingat lagi, seorang murid berkaca mata yang berdiri malu tertunduk hampir menangis di depan kelas karena tidak bisa memperkenalkan diri, tapi saya tidak akan lupa jasa Ibu waktu itu, karena peristiwa itu saya jadi ingin bisa mengerti bahasa Inggris. Dengan cara yang mungkin tidak Ibu sadari, Ibu telah terangi jalan saya yang sebelumnya terasa begitu gelap. Semoga Allah juga menerangi jalan ibu selamanya Amin…“ Engkau lah Pelita Penerang dalam Gulita, Jasamu Tiada Tara”

Belajar tak ada hentinya, hal ini mungkin benar sekali, dulu mungkin nilai rapor saya bagus untuk bahasa Inggris, tetapi untuk ukuran saat ini, sudah banyak kekurangannya. Tapi sayang motivasi belajar itu tidak sekuat dulu, saya merasa bahasa Inggris saya masih banyak kurangnya, buktinya hingga saat ini saya belum bisa mencapai score TOEFEL yang saya inginkan, dan yang saya tahu masih sebatas mengerti belum memahami, masih banyak yang tidak saya tahu, masih banyak yang harus dipelajari lagi ” di atas langit masih ada langit.”

Thanks to

1. Violita, teman sebangku, makasih atas rekomendasi tempat lesnya dulu, dan terima kasih mau jadi teman sebangku, banyak hal darimu yang jadi pelajaran berharga buat saya, saya masih ingat waktu perhiasan emasmu hilang sebelum ulangan, tapi kamu nampak cuek dan tenang terus berkata

“ itu pikirkan nanti saja jangan bilang ke orang lain diam-diam aja ya, yang penting konsentrasi ke ulangan dulu, jika hilang tak akan kembali, tapi ujian ini tak bisa diulang, kalau tidak hilang nanti juga ketemu lagi”

(subhanallah, sayang sampai saat inipun saya tak bisa setenang dirimu) sobat saya masih menyimpan hadiah kalung untaian bambu darimu, terima kasih, di manapun engkau berada kini semoga kebahagian selalu menyertaimu. Amin..

2. Yulia Sari dan Nelfita, sahabat baik di kelas dan tempat les, terima kasih sahabat-sahabat yang baik dan luar biasa , di sana kita berbagi ceria, ketulusan persahabatan tanpa peduli itik dan angsa punya sepeda atau Carola, merasa berarti dengan menjadi diri sendiri sesuatu yang tak akan mampu dibeli. Yul, where are you now? Sejak tahun 2000, kita kehilangan kontak, kabar terakhir yang saya tahu dari Padang pindah ke Medan. Nel, apa kabarmu, masihkah seceria dan secuek dulu?( saya rindu saat kita bersepeda ria pergi les, jahatnya saya keseringan numpang dari pada bawa sepeda hehheheh).( kapan kita bertiga memburu para turis di Bukittinggi, hanya untuk bertanya “Where do you come from?”” What is your nationality”, kenangan yang dudulz tapi mengesankan)

Tuesday, March 27, 2007

hari

Sibuk hariku
Tenang hatiku
Berguna fikirku
Berarti hidupku
Lelah tubuhku
Lelap obatku
Mimpi hiburku
Malam tenggelamkanku
Pagi bangunkanku
Cerah terangiku


Jkt, 27 march07


***

really busy day.
terkadang sibuk mengasyikkan kadang juga melelahkan.

Sunday, March 25, 2007

curhat

Mengedit dan mengoreksi tulisan sendiri adalah sesuatu yang begitu sulit saya lakukan, malas, tidak bisa atau mengapakah? Malas, mungkin kata yang tepat bagi saya. Atau bahasa Indonesia memang tidak bagus. Apa benar itu maknanya saya tak mau mengoreksi kesalahan diri sendiri? Menyedihkan jika hal itu benar. Tapi benar saja saya pusing jika harus ngedit tulisan. ( hikshikshiks), belajar menulis itu ternyata tidak gampang, apalagi bagi orang seperti saya, sudah tahu salah, tapi bingung dan tidak mau mengoreksinya. ( how bad I am ), bolehkah tetap bermimpi bisa jadi penulis?

*****
terang-gelap, gelap-terang. setelah gelap adakah terang?

Thursday, March 22, 2007

Dalam

Dalam

pasang surut hidupku

Terang gelap duniaku

Hanya padaMU aku menuju

Amin…

Thursday, March 15, 2007

Pantun Melayu

lagi asyik browsing tentang sastra melayu bersua dengan pantun-pantun ini, jadi ingat pr bahasa bikin pantun kasih sayang. nice dan riang...


Pantun Berkasih

by Penyair

Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih hamba lurutkan
Hilang emak hilang saudara
Kerana kasih hamba turutkan

Pasir putih di pinggir kali
Pekan menyabung ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga

Petik sayur si daun maman
Makan berulam daun pegaga
Habis tahun berganti zaman
Kasih adinda kunanti jua

Hijau nampaknya Bukit Barisan
Puncak Tanggamus dengan Singgalang
Terbang nyawa dari badan
Kasih di hati takkan hilang

Indra Giri pasirnya lumat
Kerang bercampur dengan lokan
Ibarat Nabi kasihkan umat
Begitu saya kasihkan tuan

Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan?

Burung merbuk membuat sarang
Anak enggang meniti di paya
Tembaga buruk di mata orang
Intan berkarang di hati saya

Kalau roboh kota Melaka
Sayang selasih di dalam puan
Kalau sungguh bagai dikata
Rasa nak mati di pangkuan tuan

Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa saya dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Badan nyawa saya serahkan

Anak campuran Cina-Melaka
Pulang ke rumah di Bukit Pekan
Andai kena dengan cara
Nyawa dan badan saya berikan

Anak ruan tidak terluang
Benang sutera di dalam buluh
Hendak buang tidak terbuang
Sudah mesra di dalam tubuh

Tumbuk padi jadikan emping
Buat juadah teman sebaya
Pipit hendak bertenggek ke ranting
Sudikah enggang bertenggek sama?

Kain cindai dilipat-lipat
Lipat mari tepi perigi
Kalau pandai Tuan memikat
Burung terbang menyerah diri

Kiri jalan kanan pun jalan
Sama tengah pokok mengkudu
Kirim jangan pesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu

Pucuk pauh batangnya pauh
Di tengah-tengah pokok mengkudu
Adinda jauh kekanda pun jauh
Sama-sama menanggung rindu

Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
Manis lagi senyuman Tuan

Sayang Musalmah pergi ke taman
Hendak memetik sekuntum bunga
Sudah ada dalam genggaman
Bilakah dapat hidup bersama?

Anak haruan berlima-lima
Mati ditimpa ponggor berdaun
Kasih cik adik saya terima
Menjadi hutang beribu tahun

Sayang Laksamana mati dibunuh
Mati dibunuh Datuk Menteri
Tuan umpama minyak yang penuh
Sedikit tidak tertumpah lagi

Sayang pelanduk di luar pagar
Mati ditembak patah kakinya
Tujuh tahun gunung terbakar
Baru sekarang nampak apinya

Batang selasih permainan budak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga

Harum baunya si bunga Tanjung
Harumnya sampai puncak gunung
Tuan umpama sekaki payung
Hujan panas tempat berlindung

Tajam kapak dari beliung
Hendak menebang kayu berduri
Tuan laksana kemuncak payung
Saya di bawah menyerah diri

Hujan panas turun berderai
Guruh menyambar pohon jati
Kasih sayang tak boleh bercerai
Bagaikan rambut bersimpul mati

Hilir berderap mudik berderap
Patah galah di dalam perahu
Tuan laksana si bunga Dedap
Cantik merah tidak berbau

Orang berhuma di Pulau Balangan
Asap apinya tabun-menabun
Tuan laksana bunga kayangan
Kuntum Kasturi tangkainya embun

Kalau Tuan pergi ke Jambi
Ambil air Cik Tahir jurubatunya
Kalau Tuan hendakkan kami
Bakar air ambil abunya

Beli cempedak dari Juana
Mari dibelah di atas tudung
Jika berhajat menyunting bunga
Jumpa wali di atas gunung

Buah jering di atas para
Diambil budak bawa berlari
Kering laut tanah Melaka
Baru saya mungkirkan janji

Buih kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidakku lupa pada yang kasih

Tebang gelam tebang kenanga
Batang tumbang menimpa gadung
Kumbang mengidam nak seri bunga
Bunga kembang di puncak gunung

Limau purut lebat di pangkal
Batang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati kasih apa ubatnya?

Layang-layang terbang melayang
Jatuh ke laut disambar jerung
Siapa bilang saya tak sayang?
Kalau bunga rasa nak kendong

Layang layang terbang melayang
Jatuh di laut melayang layang
Siapa bilang saya tak sayang?
Siang malam terbayang bayang

Layang-layang disambar nuri
Madu kelapa dalam tempayan
Lagi tak hilang bukit Puteri
Tidak kulupa kasihmu Tuan

Langit cerah awan membiru
Dinihari embun pun jatuh
Sakit sungguh menanggung rindu
Di dalam air badan berpeluh

Indah nian bulan mengambang
Keliling pula bintang bercahaya
Wajah tuan bila ku pandang
Bagai melihat pintunya syurga

Ikan belanak di tengah muara
Daun suji di dalam puan
Tiada sanak tiada saudara
Kalau sudi terimalah Tuan

Dua tiga kucing berlari
Manakan sama si kucing belang
Dua tiga boleh kucari
Manakan sama abang seorang

Anak beruk di kayu rendang
Turun mandi di dalam paya
Huduh buruk di mata orang
Cantik manis di mata saya

Tinggi tinggi mata hari
Anak kerbau mati tertambat
Sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh beribu batu
Jauh di mata di hati jangan

Surat ku layang untuk berkata
Penyampai hasrat kata di hati
Kalaulah sungguh kasihkan saya
Jangan dibuang sampai ke mati

Kedondong batang sumpitan
Batang padi saya lurutkan
Tujuh gunung sembilan lautan
Kalau tak mati saya turutkan

Burung terbang menarik rotan
Lalu hinggap di kayu Jati
Tujuh gunung tujuh lautan
Belum dapat belum berhenti

Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekah saja aku yang belum
Kupeluk sudah kucium sudah
Bernikah saja aku yang belum

Di Tanjung Katung airnya biru
Disitulah tempat mencuci mata
Duduk sekampung lagikan rindu
Inikan pula jauh dimata

Laju-laju perahu laju
Lajunya sampai ke Surabaya
Lupa kain lupakan baju
Tetapi jangan lupakan saya

Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Kalau hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh

Bunga Cina jambangan Cina
Bungkus inai dalam kertas
Sungguh saya bena tak bena
Di dalam hati haram tak lepas

Bunga rampai di dalam puan
Buluh perindu di atas gunung
Adakah sampai kepadamu tuan?
Rindu kekanda tidak tertangung

Ayam disabung jantan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di darat ikan di laut
Dalam belanga bertemu jua

Angin Barat dari gunung
Berhembus lembut terlalu nyaman
Baru kelibat adik menyongsong
Kembali segar semangat di badan

Orang mengail ikan cencaru
Dapat ikan bawa ke jeti
Kalau tuan kata begitu
Barulah senang di dalam hati

Ribu-ribu pokok mengkudu
Cincin permata jatuh ke ruang
Kalau rindu sebut namaku
Airmata jangan dibuang

Dari mana punai melayang
Dari sawah turun ke padi
Dari mana datangnya sayang?
Dari mata turun ke hati

Berkurun lama pergi menjauh
Wajah kulihat di dalam mimpi
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap ku nanti

Anak buaya anak memerang
Anak biawak luka kepala
Badan merantau sakit dan senang
Pada adinda sedikit tak lupa

Kukutip bunga buat karangan
Karangan diletak di atas peti
Ingin ku sunting bunga di jambangan
Buat penyeri di taman hati

Sekapur sirih seulas pinang
Ada berkunjung budaya Melayu
Terjunjung kasih tersimpul sayang
Terikat terkurung kasih nan satu

Burung merpati terbang melayang
Singgah sebentar dipohon meranti
Rindu hatiku bukan kepalang
Wajahmu tuan termimpi-mimpi

Malam ini malam Jumaat
Pasang dian kepala titi
Tepuk bantal panggil semangat
Semangat datang di dalam mimpi

Hilang sepi diraut wajah
Usah terlerai nilainya budi
Setia janji takkan berubah
Kasih tersemai tetap abadi

Kalau tidak kelapa puan
Tidak puan kelapa bali
Kalau tidak pada tuan
Tidak tuan siapa lagi?

Pohon sena cabangnya empat
Mari tebang waktu pagi
Kalau kena dengan makrifat
Burung terbang menyerah diri

Gunung tinggi dilitupi awan
Berteduh langit malam dan siang
Bila adik mengirimkan pesan
Hancur seluruh sendi abang

Air pasang limpah ke pasar
Tanam pinang kelapa mati
Di manalah tuan belajar
Pandai mencari isyarat hati?

Tajam tubuh si buah gading
Hendaklah ikat bersama tali
Hancur luluh tulang dan daging
Namun kulupa tidak sekali

Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?

Fikir memikir sama lawak
Jangan dibawa ke Tanjung Jati
Sindir menyindir sesama awak
Jangan dibawa masuk ke hati

Tuan puteri meminta cawan
Untuk diisi air kelapa
Amat tulus kasihmu Tuan
Sampai ke mati adinda tak lupa

******
diambil dari :
http://penyair.wordpress.com/2007/03/08/pantun-berkasih/#comment-3

**jika posting ini jangan bilang OON ya pleaseeeee**

Tuesday, March 13, 2007

Kicauan Tengah Malam

Semalam jantung berdebar keras, saat terbangun kaget oleh langkah ribut tergesa dan suara ricuh di tangga tumah kos.

“ ada apa?, gempa kah?”

ya hanya gempa yang langsung terbayang, saat terhentak bangun masih antara sadar dan tidak, karena sejak ada gempa di Sumbar, saya selalu bertanya kabar ke kampung halaman.

Bapak kos sudah lari keluar, sosok ibu kos yang langsung menjawab saat saya terlihat bingung keluar kamar.

“ bukan api, ada rumah terbakar di gang sebelah, Bapak dikabari lewat HT”

“hah!!???”

Ternyata bukan hanya saya terbangun teman-teman lain juga. Kami lansung keluar gank belakang, ya rumah kos saya bisa lewat jalan depan juga bisa lewat jalan belakang, jadi bisa memiliki dua alamat jalan. Waktu di belakang masih mencari-cari mana rumah yang terbakar, kata ibu kos satu blok jalan setelah jalan belakang. Tetangga juga sudah berdiri di jalanan tapi sepertinya juga semua masih baru keluar dan nampak bingung

“ mana apinya?”.

Rumah-rumah di perumahan itu umumnya berlantai lebih dari satu, jadi wajar jika padangan terhalang. Saat bingung tiba-tiba ibu kos langsung teriak

“ itu apinya, besar, di Jalan 9,siap siap “

semua mata tertuju pada api besar itu. Teriakan ibu kos seperti mengejutkan tetangga yang di arah berseberangan, bagaimana tidak api besar itu di belakang rumah mereka, awalnya saya tak mengerti apa makna teriakan siap-siap ibu kos dan ia lari langsung masuk kerumah, setelah saya lihat tetangga, sibuk mengemasi barang-barang baru saya sadar, makna teriakan itu, api itu bisa menjalar kapan saja karena rumah perumahan ini berdempetan bahkan ke sebarang jalan yang hanya jalan kecil bisa dilewati satu mobil saja, saya pun lari masuk lagi, tapi masih bingung. Ibu kos nampak mengemasi barnag-barangnya, ia bilang kemasi barang-barang berharga dan surat-surat penting untuk berjaga-jaga. Teman-teman nampak bergerak serempak mengemasi barang-barang mereka, walau ada juga yang baru terbangun dan bilang dalam keadaan bingung

“ emang di mana kebakarannya?, kalo kebakaran, trus ngapain?”

Tak lama terdengar sirine mobil pemadam kebakaran. Ada lega, semoga api cepat dikendalikan dan tidak menjalar ke rumah-rumah di samping, Amin.

Akhirnya api besar itu tak nampak lagi di atas rumah itu, kamipun lega. Tapi tiba-tiba ada teman yang masuk dan berujar.

“ Mobil pemadam kebakarannya kehabisan air, apinya belum mati masih hidup, takut nanti menjalar apinya”

“ tau dari mana ?”

“ aku barusan ke sana liat rumahnya’

“hah!!????”

Ini ke dua kalinya teman-teman dan khususnya saya dibuat kaget oleh teman yang satu ini, teman ini wajahnya sangat lemah-lembut, ayu dan gemulai, tapi minggu kemarin ia bilang, pulang ke rumah dengan manjat pagar belakang komplek, karena katanya jika mutar ke gerbang depan komplek kejauhan, sedang ia harus sering pulang tengah malam dan bahkan dini hari, nasib gadis panggilan katanya, selalu dipanggil kapan saja kalau ada orang yang mau melahirkan, ya karena iya bekerja pada sebuah klinik bersalin di kawasan Jaksel tak jauh dari rumah kos kami, padahal pagar itu setinggi, 2-3 meter.. hmm keren, jam 2, atau 3 malam manjat pagar sendirian awalnya saya kira pagar rumah, ternyata pagar belakang komplek yang ditutup pas tengah malam, hebat, waktu itu saya hanya bilang gak nyangka, dan malam ini, yang lain masih sibuk ngurus barang-barang sendiri dan berdiam di rumah untuk berjaga-jaga, ia malah telah langsung pergi ke tempat kejadian kebakaran itu, ya ternyata di balik tampilan luarnya yang lemah-lembut, ia gadis yang sangat berani. Salut…

Tertarik dengan ceritanya, akhirnya kami sama-sama ke sana, ketempat kejadian itu, dan alhamdulillah mobil pemadamnya sudah banyak dan api sudah dapat dijinakkan, rumah berlantai dua itu sudah hangus dan masih ada asap-asapnya, Innalillahi WainnaIllaihi Rojiun, setelah merasa aman kami pun kembali, dan sepanjang jalan itu kami melihat, barang-barang sudah dikemasi di depan rumah-rumah para warga mungkin untuk berjaga-jaga.

Sabtu malam, di halaman belakang rumah, saya dan teman-teman sepermainan sedang asyik bermain, ketika itu kami masih kelas 5 sekolah dasar, waktu tiba-tiba bedug mesjid ditabuh ganjil dan pengeras suara mesjid terdengar lantang”

“ Urang kampuang, ado api di Subarang…..!!! Rumah Tabaka…., Tolong!!!…”

Kami kaget dan melihat kearah langit subarang, subarang adalah dearah sebelah timur kampong saya, ada api besar di sana seperti percikan kembang api raksasa.

“ Rumah Ani…..!!!!!!!!!!!! itu rumah Ani” tiba-tiba salah seorang sahabat sepermainan berteriak, keras dan menangis, kami langsung lari ke arah subarang, entah bagaimana caranya kami berlari, waktu itu kami telah ada di depan rumah yang terbakar, padahal jarak rumah saya dan rumah itu sekitar 400-500 meter dan menuju ke sana harus melewati lekukan lurah yang sunyi.

Sesampai di sana, ternyata teriakan teman saya memang benar, itu memang rumahnya yang terbakar, Rumah Gadang Rang Subarang, api sedang menyala membakar rumah panggung tinggi itu, orang sekampung sedang sibuk menyiram dengan air secara bergotong royong, dan ada yang sibuk melemparkan batang pisang, tapi akhirnya api padam juga, setelah rumah itu rata menjadi arang.

Kejadian semalam dan melihat gambar Ustano Pagaruyung terbakar, saya teringat masa kecil saya, saya ingat waktu teman saya menangis, padahal detik-detik sebelum itu kami masih riang berncand, bermain bersama-sama, segala sesuatu terjadi tanpa diduga. Sobat...Masih teringat air matamu mengalir... maafkan.. jika waktu itu saya tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun.



****

ketika jantung berdebar keras

Ayah-Bunda

Bila jarak bisa kugulung

Ingin aku ada di sana

Bersama berbagi rasa

Berhimpun mengusir cemas

Tapi

Jarak kita terentang panjang

Ada ruang penghalang pandang

Hingga cukuplah

“ dalam doa kita bersua”

*****

Jkt. March 11, 2007

Friday, March 09, 2007

Lemah

Robbi
Kadang aku merasa benar-benar lemah
Tak tau kemana harus melangkah
Mencoba serba salah
Menatap tak terarah
Kaki-kaki ini terasa goyah
Jiwa ini terasa gundah
Hanya….
Yang ku tau kepadaMU aku berpasrah
Tuntun aku ke jalanMU yang lurus cerah.

Tuesday, March 06, 2007

Gampo

Gempa

Hari ini hatiku berdebar lagi, “Gempa Menguncang Sumbar dan Riau” berita-berita kutelusuri satu demi satu. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun. ( I have no words to say).

Thursday, March 01, 2007

Satu Pesan Ayahanda

Dulu, waktu aku masih sekolah, Bapak sering membelikan aku pena tinta, karena Beliau tau aku sangat menyukai pena tinta, saat aku mendapatkannya aku sering bersorak dan melonjak kegirangan, dan saat itu Bapak selalu tersenyum dan berkata.

“ Janganlah terlalu senang bila mendapatkan sesuatu yang diinginkan Nak, nanti jika engkau kehilangan sesuatu akan terasa sangat menyedihkan, gembiralah sekedarnya dan sedih seperlunya saja, semua yang ada di dunia tak ada yang abadi Nak”

Oh Bapak… sering aku tak mengerti, cendrung tidak mau mengerti, bahkan malah sering merajuk bila diajari, tapi engkau tetap tersenyum “ suatu hari nanti engkau akan mengerti Nak”.

***

When I Miss You.

Pagaruyung

jatuah badarai si aia mato
mandanga barito ranah bundo
pusako bundo nan lah tiado
hilang malayok sakijok mato

tiado dayo jo upayo, malainkan Tuhan Nan Kuaso

Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun

manusia tiada memiliki apa-apa, semua kepunyaanNYA dan akan kembali kepadaNYA

***
Istana Pagaruyung terbakar selasa malam hanya dalam waktu satu jam.

Wednesday, February 28, 2007

di

Di jendela waktu
kutunggu senyummu
matahariku

Thursday, February 15, 2007

Teringat Tutur Masa Kecil

Dahulu, sewaktu saya masih TK dan SD ketika seragam sekolah yang saya pakai masih putih-ungu dan merah-putih, saya ingat kebiasaan saya dan teman-teman sepulang dari sekolah, kami akan mencari ranting-ranting kayu sepanjang jalan masing-masing akan membawa satu atau dua ranting, lalu kami akan menuju sebuah pondok kecil di tengah kebun kopi, sebuah pondok dengan halaman yang sangat bersih dan tertata, bekas guratan-guratan sapu lidi selalu tampak jelas bergaris-garis di tanah halaman memberi tanda kalau sang pemilik pondok pastilah orang yang sangat rajin menyapu, menyukai keindahan dan keteraturan, dinding pondok terbuat dari anyaman bambu yang punya nilai seni tersendiri.

Setelah sampai di pondok itu, kami semua akan sangat girang jika melihat pintu pondok itu terbuka dan asap tungku mengepul dari dalamnya, itu berarti sang pemilik ada di rumah. Di depan pondok dengan sikap polos anak-anak kami akan mengumpulkan ranting-ranting dan menyerahkan pada sang pemilik pondok dengan penuh harapan pemilik pondok akan menggantinya dengan sesuatu yang kami inginkan, walau seringkali pemilik pondok minta kami menunggu jika beliau sedang memasak atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lain, beliau memerintahkan kami duduk teratur berjejer dekat tungku dan jangan berebut serta ribut, saya masih terbayang saat duduk di dekat tungku saya sibuk memperhatikan api membakar kayu, kobaran api kecil menari menghangatkan periuk hitam pemasak nasi, jika telah mendidih saya akan bersorak girang, bahwa tak lama lagi permintaan kami akan dipenuhi, karena nasi telah masak. Akan tetapi, saya juga sering salah duga ternyata, sang pemilik pondok belum juga segera memenuhi permintaan kami, melainkan malah menyodorkan sebuah cerek dan jeregen kosong, beliau meminta dijemputkan air ke mata air di dalam lurah yang berjarak 100-150 meter dari pondok tersebut, biasanya dua atau tiga orang dari kami akan segera melaksanakan. Waktu itu saya tidak pernah terpikir, mengapa tak seorangpun dari kami yang protes, mungkin harapan agar keinginan segera dipenuhi lebih besar dari pada pikiran untuk mempertanyakan kenapa ditunda-tunda?.


“ENGKU” begitu orang sekampung memanggil sang pemilik pondok, beliau adalah seorang Ulama yang telah lanjut usia, tinggal sendiri di pondok, yang saya tahu, istri beliau telah lama meninggal mungkin sebelum saya lahir, saya tidak tahu mengapa beliau memilih tinggal di pondok itu dari pada di rumah anak-anak dan cucu-cucunya, padahal sepertinya anak cucunya sangat menghormati dan menyayanginya. Kata orang, beliau hafal Al-Quran, dan saya sering mendengar lantunan ayat-ayat suci dari pondok itu, sehingga suasana kebun kopi yang cendrung gelap terasa begitu nyaman. Atau ketika beliau naik mimbar memberi ceramah di mesjid, ayat-ayat Al-Quran akan lancar mengalir dari bibirnya.


Bila “ Datuak Engku” begitu kami memanggilanya, sudah mengambil bangku kecil dan duduk di dekat kami, maka kami akan makin merapat dan terdiam tak sabar mendengarkan suaranya keluar. Ya itulah yang kami tunggu, beliau akan menukar ranting-ranting kayu dan secerek air dengan bercerita tentang kisah-kisah para nabi dan kisah-kisah tauladan dalam tutur dan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak dan membawa hanyalan anak-anak terbang ke dalam kisah itu, jika beliau bercerita tentang kisah Nabi Yunus, maka saya sudah membayangkan berada di perut ikan, Nabi Nuh, maka saya pun membayangkan sebuah kapal yang besar. Setiap hari berganti maka kisah para nabi itu akan bersambung, dan setelah selesai akan diganti dengan kisah Nabi-Nabi yang lain. Saya pertama kali mendengar kisah-kisah itu dari beliau, sebelum saya bisa membaca kisah-kisah itu dalam terjemahan Al-quran atau dari buku-buku yang saya baca.


Terkadang, beliau juga mengisahkan tentang kisah anak-anak tentang kejujuran, menuntut ilmu, dan sifat-sifat terpuji, yang setelah besar baru saya tahu itu sebagian dari kisah-kisah masa kecil para iman-iman mahzab, tetapi karena waktu itu saya masih kecil dalam dunia anak-anak pemikiran saya tidak sampai menelaah ke arah itu, saya hanya senang mendengarkan kisah-kisah itu dan ingin berprilaku meniru anak-anak dalam kisah itu, ya sifat anak-anak selalu ingin meniru apa yang didengar dan dilihatnya dan termasuk juga saya.


Saya tidak ingat persisnya, kapan saya dan teman-teman sekolah berhenti datang ke pondok itu, mungkin dalam masa peralihan anak-anak ke remaja, mungkin juga saat saya telah tamat sekolah dasar, karena jika pulang dari sekolah SMP, arahnya bertolak belakang dari sekolah TK dan SD, dari sekolah ke rumah tidak lagi melewati kebun kopi itu, dan saya juga sudah jarang melihat beliau naik mimbar di mesjid apakah karena sudah semakin sepuh atau alasan apa, juga tak menjadi tanda tanya bagi saya waktu itu, dan mungkin juga waktu itu saya dan teman-teman mulai suka menonton TV, atau membaca komik dan novel-novel detektif hingga melupakan singgah ke pondok kecil di kebun kopi. Hal itu seeakan sebuah episode yang hilang dan terlupakan dalam memori saya.

Kini, Beliau telah tiada, sekitar 9- 8 tahun yang lalu, menemui Sang Maha Cinta, semoga amal ibadah beliau diterima disisiNYA dan semoga Allah menyayangi beliau seperti beliau menyanyangi setiap anak-anak yang datang ke pondoknya. Pondok itu masih ada, tapi sudah berubah bentuk dan fungsi, kebun kopi yang dulu juga telah tak bisa lagi disebut kebun sekarang saya tidak tahu lagi apakah masih ada batang kopi di sana atau tidak. Tetapi walau beliau telah tiada dan pondok itu telah berubah tapi kenangan dan cerita beliau tentang kisah-kisah mulia itu seperti terukir jelas dalam ingatan. Terima kasih Datuak Engku, hanya doa saat ini yang dapat saya panjatkan, semoga Allah memberi tempat terbaik bagi Beliau.


******
Ketika saya teringat sepenggal kisah masa kecil....

Monday, February 12, 2007

Sebuah Buku


Buku ini, saya beli hari jum’at yang lalu, sebenarnya saya tidak punya rencana membeli buku ini, karena saya berniat membeli buku yang lain, pas setelah saya membeli buku yang saya rencanakan itu, Bapak penjual menyodorkan buku ini. “ Mbak ini bukunya bagus “. Kaget, ya saya sangat kaget disodorkan buku ini, Judul bukunya membuat saya ingat diskusi saya dengan teman beda agama saya seminggu yang lalu, dan ternyata isi buku ini adalah jawaban dan kesimpulan sempurna dari tanya-jawab malam itu ( Subhanallah).

Awal pertama saya mendapat pertanyaan-pertanyaan darinya saya takut menjawabnya, saya menyadari ilmu agama saya sangat sedikit dan begitu banyak yang tidak saya tahu rasanya tak sanggup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi akhir-akhir ini saya mulai merasa, jika pertanyaan-pertanyaan darinya membuat saya ingin belajar dan belajar lagi, haruskah saya takut? Bukanlah lebih baik mensyukurinya (Alhamdulillah).segala sesuatu tak akan terjadi tanpa izinNYA, begitu juga dengan pertanyaannya pada saya semua pasti atas izinNYA. Jika sebuah kesalahan membuat hati ingin selalu mencari kebenaran, haruskah segalanya disesali? Kata para orang sholeh, setiap hati punya potensi untuk menangkap kebenaran, hanya saja tergantung manusia pemilik hati untuk mengembangkan atau tidak potensi itu.

Atas segala kekurangan dan keterbatasan saya sebagai manusia yang tidak sempurna saya ingin selalu belajar dan belajar, Belajar mencintai-Nya, karena kekurangan adalah ujian dariNYA, apakah saya bisa bersyukur? mungkin saya bukan pecinta sejati seperti dalam syair para sufi, di mana kenikmatan terindah begitu terasa saat penyerahan total kepadaNYA, tapi Ya Robbi, izinkan saya belajar, Belajar MencintaiMU. Hingga seperti tulisan seorang sahabat “jika berjalan dalam CintaNYA, suka dan duka tiada beda”.

Tuesday, February 06, 2007

Banjir

Akhirnya, merasakan juga terjebak dalam banjir dan jadi pengungsi

Thursday, February 01, 2007

Diary Satu Malam

(ketika ingin bercerita)

Sore menjelang malam, saya ditelpon teman yang bertanya apa saya ada kegiatan malam ini dan bolehkah ia main ke rumah, sebenarnya malam saya punya kegiatan, hanya berhubung semalam saya tidak bisa mengikuti kegiatan itu, jadi hanya berdiam di rumah, saya sangat senang mendapat telpon seperti itu, berarti ada teman ngobrol, dan badanpun rasanya kurang-kurang enak, jika ada teman rasanya akan lebih mudah melupakan rasa tak enak itu dan lebih santai dan segar, saya dan dia juga jarang-jarang bertemu, ketemu sekali-sekali pasti banyak saja yang dibicarakan (apakah hanya tabiat wanita saja yang suka ngobrol jika ketemu teman? Hmmm..Asal jangan ngomongin kejelekan orang aja :D, Ya Allah lindungi hati ini agar mampu menjaga lisan…Amin). Dan mungkin teman saya juga sedang ingin menyegarkan suasana dengan ngobrol, diskusi atau sekedar ketawa-ketiwi.

Setelah magrib ia datang langsung dari tempat kerjanya, di rumah masih ada teman saya yang lain, setelah saya perkenalkan suasanapun hangat, karena teman saya yang lain ini akan pergi mengikuti kegiatan malam ini, dan ia hanya singgah buat sholat dan makan malam bareng, ia pun pamitan dan saya hanya titip pesan, buat teman-teman di kegiatan malam itu, “ maaf tak bisa hadir, salam saja buat semuanya” melihat itu, tiba-tiba teman saya ini langsung berujar “ saya pengen seperti kalian, malam punya kegiatan, tidak suntuk selepas kerja, ada yang dilakukan dan itu bermanfaat, saya ingin ikut kegiatan seperti itu, sayang di sini saya tidak bisa dan tidak ada kegiatan seperti itu, atau saya yang tidak tahu “ jujur saya tercengang dengan ucapannya, waktu saya menatapnya saya tau ucapannya bukan basa-basi. Dalam hati hanya mampu berbisik “ Oh kawan, bukan tak sudi mengajakmu ke kegiatan seperti itu, tapi jalan kita berbeda, dan saya sangat menghormati perbedaan itu, dan sayapun yakin engkau juga sangat menghormatinya, Lakum dinukum waliyadin”.

Akhirnya ngobrol pun lanjut dari yang sepele ke yang serius, dari yang lucu ke yang menegangkan, kecil dan besar ( hmm buat ukuran wanita yang kecil pun bisa dianggap besar hehhehehe, waktu malam seperti itu rasanya juga ngomongin masalah negara gak bakal efektif :D). Semalam juga banyak pertanyaan-pertanyaannya yang membuat saya harus memutar otak untuk menjawabnya, diskusi tentang buku, dan Alhamdulillah pertanyaannya-pertanyaannya itu jawabannya ada dalam buku yang baru-baru ini saya baca dapat pinjaman dari teman dan bukunya belum saya kembalikan, jadi saya perlihatkan dan mempersilahkan ia membacanya sendiri, jawaban saya bisa saja salah, tapi buku saya anggap lebih akurat, akhirnya dia angguk-angguk sendiri, ia juga memperlihatkan buku yang dibawanya, tentang wanita, saya hanya mengucapkan bukunya bagus, bukan tak menghargai dengan tak ingin membaca tapi saya sudah sangat yakin dengan kebenaran jalan yang saya anut, jadi saya tak butuh lagi pembanding.

Hujan lebat mengguyur Jakarta, tak terasa jam sudah lewat dari angka sepuluh dan hampir mendekati sebelas, ia ingin segera pamit, menurut saya hujan lebat lebih baik ia nginap di tempat saya saja lagian sudah malam, karena berkeras bilang tak apa-apa akhirnya, dengan berpayung ria di bawah hujan lebat saya mengantarnya menunggu Bajai di tepi jalan raya depan kost2an, belum lama berdiri iringin mobil yang tiba-tiba lewat di depan kami melewati genangan air yang tidak jelas nampak sebelumnya dalam gelap, otomatis genangan yang terlewati iringin mobil itu menyembur kami, hmmmm “Kuyup sudah” seluruh tubuh basah kuyup, tak menyangka genangan itu sedalam itu padahal kesannya tak ada nampak dalam gelap, kami hanya bisa kaget dan spontan tertawa lepas, marahpun juga gak ada gunanya salah siapa hujan lebat berdiri dipinggir jalan raya. Tapi mimpi apa sebelumnya malam-malam kuyup kesembur air genangan jalan ( duh bicara soalnya mimpi, kayaknya sebelumnya saya mimpi yang menurut saya indah, kata orang mimpi itu bunga tidur, gimana kalau tidur liat bunga? terbangun dengan senyuman dan rasa syukur alhamdulillah), karena tak memungkinkan dengan kondisi kuyup pulang ke kostnya teman akhirnya kami kembali ke kostan saya dengan tertawa-tawa lepas, mumpung hujan deras jadi tawa bisa dilepaskan tak akan ada orang yang mendengarkan, sudah lama juga tidak bermain-main di bawah hujan, ada kesempatan datang tak sengaja ya dinikmati aja lagi.

Untunglah masih ada kaos oblong yang muat dengan ukurannya, jadi ngobrolpun akhirnya lanjut lagi. Jika sebelumnya dari sana ke sini, makin malam malah ngomongin lagu dan nyanyian sambil mendengarkan beberapa lagi dari mp4nya, dan saya juga minta ia menyanyikan lagu lagu tersebut, tentu beda suara orang yang terbiasa dengan paduan suara dengan suara yang biasa nanyi di kamar mandi (:D), di antaranya, Remember Me This Way, Dance with My Father, Only Time, Home, Because You Love Me, To Love You More, dan masih banyak lagi yang judulnya saya lupa, suara hujan meredam suara nyayian jadi tak masalah buat kamar-kamar sebelah.

Kemudian dia mulai cerita tentang kegiatan lainnya di luar kesibukan kerjanya, dia mulai bergabung dengan LSM untuk anak jalanan dan bertugas sebagai pengajar di waktu libur dia lansung berucap “ jika kita membuka mata keluar sana, ternyata begitu banyak orang-orang yang tidak beruntung, tidak punya orang tua, bahkan tidak tau siapa orang tuanya, kita jauh lebih beruntung” katanya, saya mendengarkan dan ikut mengiyakan dan iya lanjut lagi “ di depan mereka rasanya malu, jika kadang sering bersedih hanya untuk masalah yang menyangkut diri sendiri” deg rasanya saya baru saja mendapat pelajaran berharga dari kata-katanya, ceritanya terus bergulir tentang anak jalanan, ya banyak cerita yang dapat diambil hikmahnya dari sana dia berkata lagi “ andai saya bisa mengajar satu orang, dan dia bisa pintar, terus dia juga bisa mengajarkan satu orang lagi dan begitu seterusnya seperti multilevel marketing, Indonesia ini bisa sedikit-sedikit jadi pintar ya?” katanya lagi, ia sepertinya enggan menyebutkan nama Lsm tempatnya bergabung dan saya juga rasanya tak berhak bertanya, itu privacinya, mungkin saja nama itu akan memperjelas perbedaan jalan yang kami tempuh, jadi ia enggan menyebutkan ( Ya Allah.. bimbing hati ini untuk selalu berprasangka baik, dan tuntun juga hati ini agar dapat mengambil hikmah dan pelajaran terindah dari setiap apa yang saya dengar, temui, lihat dan hadapi… Amin.. )

Malam kian larut, saya tak tau persis kapan alam sadar dan mimpi memisahkan percakapan kami, dan waktu saya terbangun sudah segar lagi, dan bersyukur terima kasih ya Robbi, Engkau izinkan saya sedikit demi sedikit belajar dari setiap orang yang saya temui. Alhamdulillah.

Monday, January 29, 2007

Sebuah Cerpen

“ Kasih komentar ya cerpennya, itu yang mau dikirim buat XXXX untuk acara XXXXX” pesan seorang sahabat tertulis di imel saya, cerpen berjudul “XXX….XXX” setelah saya buka imel langsung saya baca cerpen tersebut, setelah selesai membaca saya seperti susah menahan tawa, bukan karena cerpen itu lucu, atau berisi lelucon, tapi karena pikiran langsung terbang kesosok sahabat saya yang mengirim imel ini “ pintar sekali sahabat ini merubah setting dan tokoh dalam cerita ini “ bisik hati saya, kalimat-kalimat yang tersusun dalam cerpen itu seperti ungkapan hati sang sahabat yang perankan oleh sosok lain dalam cerpennya “ Keren “. saya tertawa dan senyum-senyum sendiri bukan mentertawakan isi cerpen ini, tapi kagum akan kepiawaiannya memutar balik setting dan menghadirkan tokoh-tokoh untuk mengekpresikan perasaan hatinya tanpa mudah dideteksi oleh orang lain yang tidak benar-benar dekat dengannya.

“ Mengharukan “ itu isi cerpen yang dapat saya tangkap, jadi dari segi isi tak patutlah saya tertawa. Jika saya bukan sahabatnya mungkin saya bisa mengomentari cerpen ini dari segi yang objektif, tapi karena dalam cerita itu yang saya lihat adalah dirinya rasanya tak mampu saya beri komentar apa-apa lagi. ( maaf ya Sis .. No Comment Deh)

Jika menulis dengan hati, dengan kebeningan hati, jauh dari prasangka yang tidak baik, bukan sekedar pelampiasan rasa hasilnya memang berbeda.

Thursday, January 25, 2007

TeLaGa CiNtA

Genderang cinta telah ditabuh
Irama mengalun talu-bertalu
Mari kawan kita menari
Dalam telaga Sang Maha Cinta

Semalam, atas Keagungan CintaMU, sebuah kapal cantik telah berlabuh dalam bening telaga CintaMU, Syahadat terbata tapi penuh makna terucap dari bibirnya, kilatan cahaya memantul dari sepasang matanya, lega sejuk selaksa air telaga membayang di setiap pasang mata yang menyaksikannya, ucapan dan doa mengalir tanpa diminta. Selamat Datang Saudaraku...

Monday, January 22, 2007

BeLaJaR

Dulu mungkin sering kuanggap diri ini pintar, tapi itu tidak benar, aku harus kembali belajar, belajar dari awal, banyak episode yang tertinggal, banyak kepingan yang belum terjejal.. belajar dari awal walau mungkin telah terlambat dan akan lebih berat, tapi aku harus belajar.. belajar dari awal........

Friday, January 19, 2007

Alam Terbuka

angin sejuk perbukitan
berhembus perlahan meliukkan semak semak lembah
berdesir berbisik seolah nyanyian mengiring gerak perlahan tarian pepohonan
menyejukkan mendamaikan menyegarkan raga yang lelah

kupu-kupu warna warni
terbang menari memperlihatkan keelokan rupa yang dititipkan padanya
mengitari bunga-bunga yang rekah mewangi mempesona
di tepi telaga, bening suci lagi mensucikan
gemericik air mengalir riak-riak kecil berirama

sejuk dingin luar biasa saat air membasuh menyentuh muka
getar-getar menyejukkan mengalir saat kaki mencoba perlahan membenam dalam kebeningan telaga
ikan-ikan kecil berlarian mencari tempat sembunyi di balik batu
mengintip malu-malu berenang ke tempat yang lebih dalam

kicau-kicau burung rimba
mengamati di balik dahan dahan tertutup dedaunan
sesekali terkejut terbang mengepak hangat meriahkan langit
semut beriring berbaris di batang kayu yang telah lapuk
membangun istana megah dengan semangat kuat kebersamaan
cahaya mentari dari sela dedaunan jatuh pantulkan cerah di atas muka telaga
indah, sejuk, damai…


******
saat aku rindu suasana itu

Tuesday, January 16, 2007

Kursi Goyang

Apakah saya takut dengan kursi goyang? Jawabnya “Tidak”, waktu kecil saya pengen sekali punya kursi goyang sepertinya asyik saja sambil duduk bisa berayun-ayun apalagi bisa sambil baca cerita atau komik, tapi tak ada kursi goyang waktu saya masih kecil bahkan dikampung dan disekitar kampung saya tak pernah saya lihat ada rumah yang punya kursi goyang, hanya melihatnya dari TV saja.

Tapi jika akhir-akhir ini, jika ditanyakan apakah saya takut dengan kursi goyang? Jawab “ Ya” jika kursi goyangnya “itu”, kursi goyang di lantai dasar rumah kost-an saya yang terletak pojok ruangan sebelum ke arah kamar mandi yang harus saya lewati setiap menuju ke dapur atau kekamar mandi karena lantai rumah atas terbuat dari kayu tak ada kamar mandi di lantai atas jadi harus turun kebawah, ruangan itu cukup luas semi tertutup ( saya bingung menyebut istilahnya apa) di sana ada meja makan, meja telpon, lesehan bambu dan taman kecil berkolam ikan, yang ikan-ikannya cantik-cantik dan jinak, lantainya separuh batu alam hitam dan separuhnya lagi keramik yang setiap hari dibersihkan dan dipel. Di bagian atas kolom kecil itu langsung bisa menatap langit hanya ditutupi jaring dari logam atau aluminium, model rumah lama jika tak cukup untuk dibilang kuno, suasana adem taman dan kolam kecil itu adalah salah satu yang membuat hati ini tertarik dulu untuk ngekost di rumah ini. Hanya kursi goyang di dekat dinding itu sering membuat saya merinding melewatinya, jika tengah malam saya mau ke kamar mandi atau mengambil sesuatu ke dapur dan tak ada seorangpun lagi yang bangun, jika masih siang atau malam yang masih terdengar suara teman-teman yang bangun tak masalah, tapi jika sudah larut dan tak ada lagi yang bangun, saya bergidik jua melewatinya dan selalu saya tahan-tahan hati agar jangan takut “tidak ada apa-apa “bisik hati pas melewatinya padahal sesungguhnya saya ingin berlari saja dekat situ tapi juga tak mungkin jangan-jangan malah saya membangunkan seisi rumah. Jika dipikir-pikir itu hanya kursi goyang kenapa saya takut? Tohpun, saya jika ada kursi goyang mungkin saya suka duduk di sana, Cuma kursi goyang ini menurut rasa takut ini yang entah dari mana “berbeda”, sejak saya tinggal di sana belum pernah saya lihat ibu kos, bapak kos, anaknya atau teman-teman kost duduk di sana? Kenapa tidak diduduki? Kenapa hanya dibiarkan saja di situ? Seperti sebuah benda yang disakralkan saja ( wah karena rasa takut, saya punya pertanyaan dan hayalan macam-macam seperti bayangan film horror, padahal alasanya sendiri sepele karena kursi itu tak pernah saya lihat diduduki) tapi pertanyaan itu juga hanya sampai pada taraf bertanya-tanya di hati, tak pernah saya bertanya kepada ibu kos, dan juga tak pernah terucap pada teman-teman kost kalau sesungguhnya “saya takut”, karena katanya rasa takut jika terlalu dieskpos akan menambah takut itu sendiri, Ya rasa takut cukup memberi pelajaran banyak pada saya waktu dulu, saya penakut sekali. Jika hal ini saya hadapi beberapa waktu dulu mungkin saya sudah menangis dan ketakutan sekali dan merengek minta ditemani, tapi sudahlah itu masalalu banyak hal yang sudah terlepas dari saya karena rasa takut saya sendiri, dan saya juga tak ingin menyesali diri saya yang dulu, sepenakut dan seperti apapun itu tetap diri saya, karena masa lalulah hari ini saya ada, hanya ambil saja hikmahnya untuk hari ini dan masa depan ke arah yang lebih baik, selagi masih diberi waktu “ apakah rasa takut yang akan menuntun saya dalam hidup atau rasa takut itu yang saya tuntun untuk hidup “ Tapi melawan rasa takut juga ternyata butuh proses, buktinya kursi goyang itu saja membuat saya takut, walau rasa takut itu masih lebih bisa saya kendalikan dibanding dulu.

Semalam saya merasa aneh, saat saya terbangun melewati pojok itu rasanya ada yang beda, apa ya? Rasanya rasa aneh itu sudah ada sejak beberapa hari yang lalu, Cuma saya mungkin telat menyadarinya, semalam baru saya sadar kursi itu sudah tidak ada di pojok itu sejak beberapa hari yang lalu itu. Alhamdulillah ternyata pemilik kos memindahkan kursi itu, kemanakah? mungkin keruangan keluarga bagian dalam pemilik kostan, terserahlah mau dipindahkan kemana, yang jelas saya bersyukur sekali kursi itu telah dipindahkan, Ya Allah terima kasih, makasih ibu dan bapak kost, anggap saja mereka mendengar bisikan hati ini. Alhamdulillah. saya senang sekali kursi itu dipindahkan. " Ya Allah tuntunlah hati ini agar hanya takut kepadaMU…Amin……."

Thursday, January 04, 2007

Sketsa Cerah

Sketsa cerah kulihat indah
Terbingkai cahaya anugrah
Syukur alhamdulillah
Kuucap pada Sang Maha Cinta

Robbi
Engkau rengkuh aku
Saat lalai mulai kurangkai
Engkau dekap aku
Saat lena mulai kueja
Engkau beri aku tanda
Saat langkahku tak lagi tertata
Engkau kirim rambu
Saat nafsu mulai kurayu
...
" Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ( Ar Rahman)
...
Robbi
Baru semalam aku bertanya
Hari ini Engkau menjawab
...
" Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?“ ( Ar Rahman)
...
Baru saja aku mengadu
Langsung engkau beri tau

...
" Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ( Ar Rahman)
...
Robbi
Betapa Engkau begitu dekat
Tapi sering aku menjauh
Betapa Engkau begitu sayang
Tapi sering aku lengahkan
Engkau beri aku anugrah
Tapi sering aku serakah

Robbi
Alhamdulillah
Engkau tegur aku dalam bahasa cinta terindah
Cinta abadi dan hakiki pada Zat yang Maha Tinggi
ampuni aku yang sering membuatMU cemburu


****
cahaya di atas cahaya, Ya Allah limpahkanlah cahayaMu pada Jiwa-jiwa yang menebar mengangungkan cahayaMU, terangi gulita, pengingat alfa....
Syukur dan terimakasihku.....
malu sekaligus terharu.....
****
Edisi revisi.

Tuesday, January 02, 2007

tahun baru

bismillahirrohmanirrohiim...

Tuesday, December 26, 2006

Mengenang Diary Ungu

Hari ini santai, bossku keluar kota, tak ada perkerjaan tambahan kecuali rutinistas biasa, banyak waktu luang, aku jadi ingat diary lama, diary ungu.

Dulu aku punya diary “ ungu” itu warna sampulnya, sudah kutulis sejak akhir tahun 2003. tidak terlalu tebal tapi cukup mampu menampung setiap kenangan kisah-kisah perjalananku, hanya saja diary ini berbeda dengan diary-diary sebelumnya yang pernah kutulis, dalam diary ini aku menulis, seakan menjadi orang lain untuk menasehati diri sendiri, bila aku sedang sedih, maka di sana awal kata pembukanya “ mengapa harus bersedih, boleh jadi banyak orang yang lebih sedih” bila aku merasa terluka, akan kutulis ‘ mengapa harus terluka, yakinkah diri jika tak pernah melukai? Atau malah sering melukai?. Bila kumerasa bahagia, akan kutulis “ semuanya nikmat….” Bila ku merasa tak punya tempat berbagi di sana akan kutulis “ yakinkah diri akan mampu menjadi tempat berbagi bagi orang lain, di saat suka duka mereka ?” bila kumerasa bukan apa-apa di sana akan kutulis “ jadilah seperti apa yang engkau bisa…..” Bila aku merasa bisa, maka akan kutulis “ engkau adalah manusia biasa yang tidak luput dari cela “ bila kumerasa bersalah, akan kutulis “ mintalah maaf “ dan bila ku merasa kesal akan kutulis ‘ mengapa kesal, siapa tau engkau lebih mengesalkan orang lain”.bila aku merasa dihina, akan kutulis “ mereka tak berdusta, tak perlu marah, jadikan saja cambuk untuk berlari lebih kecang ke tempat yang mungkin mereka tak bisa “ Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan logika terbalik yang kutulis dalam diary itu, jujur saja itu semata menghibur diri sendiri, kata orang “ Jika bukan kita yang menghibur diri kita, siapa lagi?”. Diary ini itu juga berkisah susah senang dulu menulis skripsi.

Dalam diary ungu, aku juga banyak tulis puisi tentang curahan hatiku, ya jika tulisan bukan puisi adalah logika terbalik yang kutulis untuk menenangkan diri sendiri, maka puisi puisi itu adalah curahan terdalam hatiku, apa yang benar-benar kurasakan, puisi-puisi kerinduan, pengharapan, impian, kebahagian, kesedihan, kecerian, kekecewaan, persembunyian rasa dan pengamatan pada alam dan lingkungan. Dan aku masih ingat aku tulis puisi terpanjang yang pernah kutulis mungkin seumur hidupku ada sekitar tujuh halaman dilembar-lembar terakhir dan kutulis semalaman, tapi sayang puisi itu tak bisa kubaca lagi, karena besoknya aku kehilangan diary itu, terakhir aku ingat pagi-pagi aku mengenggamnya dalam perjalanan dan aku tak ingat lagi setelah itu, dimana kemana atau tercecer di mana, seandainya ada yang menemukan moga saja dianggap buku biasa dan dibuang agar tidak dibaca orang lain, malu juga jika diary dibaca orang lain, aku banyak menulis namaku di sana sebagai kata sapa saat menasehati diri sendiri, tapi aku tak pernah menulis nama siapa saja yang ingin kutulis di sana, kecuali hanya dalam kiasan yang semoga tak dimengerti orang( walau dalam hati ingin sekali menuliskannya). Ya karena dari awal aku menulis diary itu dan berfikir jika tiba-tiba ada yang membaca “ Jika harus malu, cukup aku saja yang malu “ ya karena apa yang kutulis waktu itu hanya tentang perasaanku sendiri. Tidak ada tutur narasi dalam diary itu, jika dibaca lagi mungkin bingung, ini berkisah tentang apa?

Kini diary ungu tak ada lagi, sudah hilang, jika kini aku punya diary “ apa yang akan kutulis lagi?”

Wednesday, December 20, 2006

Wangi

wangi
harum sukma abadi
merasuk ke ruang hati
tak peduli hari berganti

hangat
sapa cahaya mentari pagi
tak akan pernah terganti
walau hadirnya tak disadari

putih
tulus kata jiwa
tegar dalam rasa
walau apapun kata dunia

*****
dari pada mikiran kerjaan yang bikin pusing dan jenuh mending mikiran sesuatu yang wangi agar bisa jadi aroma terapi segarkan hati dan jiwa.
biarkan saja benturan2 dua keping kebudayaan itu berlalu sendiri.

SuNyi

sunyi
ajakku menyepi
dari hiruk pikuk kota mati

bayang
bawa aku terbang
ke alam penuh kembang

alur
jadikan aku lebur
bersama kicau kicau syukur
hingga tiada hancur
saat keping-keping itu terbentur

Legenda
kisahkan aku cerita
lipur sesak lara di dada
agar setiap kata bermakna
walau di ruang hampa


****
job oh job......dengan apa bisa kubuang jenuh?
derai... derai..... Ihhh.........
Job....Job...Ihhh...........

20dec2006

Wednesday, December 13, 2006

Star




********
stars in the sky

http://store.starrynightstore.com/cpack2006.html

Monday, December 11, 2006

Bunda

Hujan-hujan begini Bunda, ku ingin selalu berteduh dalam tatapan cintamu

Friday, December 08, 2006

Kicauan di waktu Senggang

Hari ini lumayan lucu,
pagi ini, saya datang lebih awal, walau seharusnya jam kerja 8:30 ada pertemuan team investigasi Merapi, masih di jalan sudah ditelpon Bapak- Bapak saya ada di mana sedang beliau sudah menunggu di luar ruangan. Setelah itu bos saya datang di susul Team Investigasi tersebut, ini bukan tamu asing pertama yang datang, dan bukan pertama kali juga menghadapi cara berkenalan, tapi yang bikin saya lucu sekaligus kikuk, boss memperkenalkan dengan cara resmi adat bangsa mereka, geli sekali diperkenalkan dengan cara resmi seperti itu dalam suasana yang seakan juga formal, padahal saya selama ini berkenalan dengan cara Indonesia saja dan kadang tertawa sendiri melihat cara mereka berkenalan terutama yang dianggap lebih dihormati seperti ingin mencium tanah (:D). Tapi walau kaget, geli dan lucu, saya harus mengikuti cara seperti itu karena team yang nampaknya sangat dihormati boss itu sudah melakukannya terlebih dahulu, tapi jujur menahan tawa ( hehehehe), dalam perkenalan resmi juga tukar kartu nama, mereka memberikan, saya hanya bisa bicara maaf saya tak punya mereka minta ditulis di buku note tentang data saya, boss langsung menimpali “ u need name card yaa..next time ya “ ( weks, bukan sengaja membuat malu, cuma karena ini resmi kesannya…..), entalah saya tidak terlalu tertarik membuat kartu nama, padahal paman di rumah, Tangerang terima orderan cetak kartu nama. Salah satu anggota team merupakan expert yang pernah ditugaskan di sini 12 tahun yang lalu, sudah senior sekali, dia memberi sebuah bingkisan oleh-oleh, seperti setiap kunjungan sebuah team mereka akan bagi oleh oleh yang terbungkus dalam kertas kado yang rapi warna merah dan dalam tas kertas bermotif bunga, setelah mereka pergi saya buka, ternyata isinya cantik sekali, sebuah kotak warna merah yang di dalamnya ada beberapa benda kecil kecil terusun rapi berbagai motif dan gambar indah serta tulisan kanji yang dibuat seperti lukisan, ya memang bagus, hanya saja melihat tulisan di kotak dan motif motif pada benda-benda kecil itu saya, meyakinkan diri hadiah ini tidak bisa saya miliki, juga tak mungkin dikembalikan, di sana tertulis “… Christmas, May this ………in every may be especially happy for you “ .( kalimatnya sengaja tidak ditulis lengkap) hmm mereka mungkin tidak tau, saya tidak merayakannya sehinga mereka memberi hadiah ini, Cuma saya tak mungkin memilikinya, dalam hati berfikir, nanti saya berikan saja pada seorang anak kecil yang merayakannya dan setiap hari bertemu dan menyapa saya. Tapi saya masih ragu apakah memberikan hadiah ini tidak berarti “ mengucapkan selamat “?????. Karena itu batas jelas pembeda antara saya dan mereka.
Ruangan ini kembali, sunyi, boss, team dan bapak bapak tadi telah pergi ke Merapi untuk research investigasi mereka. Hari ini santai, bila dibandingkan dengan kemarin yang lumayan bertekanan. Kemarin rasanya dari pagi hingga sore ada ada saja tidak mengenakkan dan error. hmm nanti saya berencana ke Tangerang saja, sepupu-sepupu kecil saya mungkin sudah merindukan saya ( hmmm sebenarnya kayaknya kebalikan dari kata-kata itu, saya yang sudah rindukan mereka) minggu kemarin tidak jadi ke sana, karena demam cuma bisa mengukur kasur, tidak bisa ke mana-mana..

*******
pagi-senja

Monday, December 04, 2006

apa gerangan?

berdetak kala terjaga
berdencing kala memicing
berderap kala terlelap
berdesir kala terfikir

mendalam kala diam
membara kala ada
melara kala tiada
meresap kala menatap

dengan apa gerangan kuberi nama?

1des06

****
musim hujan telah tiba saat kerja berlembur ria untuk " Disaster Prone Area"

Friday, December 01, 2006

fever

I got fever to day, heat and cold, I miss my bed, wanna spent my time to lie down there without thinking of anything, but I have to keep working, standing, trying as long as i can. It is uncomfortable, ofcourse, my mind is blank, I keep on remembering. “ If I were at home, I would get a bowl of soup made by my Mom”

Thursday, November 30, 2006

Rintik Di Waktu Pagi

Rintik Hujan di waktu pagi
riang bersyukur pipit bernyanyi
selagi matahari masih sembunyi
pipit tenggelam di lautan padi
mengecap nikmat karunia Illahi
bersama hujan turunkan rizki
sudah saatnya pertani berbagi

Wednesday, November 29, 2006

Pahamkah Engkau Tentang Rindu?

Saat malam larut engkau kalut
Tak boleh untuk bersujud
Hati gundah jiwa resah
Tak bisa membaca firman Cinta-Nya
Ingin bersua ingin berjumpa
Sekedar menyebut nama-Nya pun tak bisa


Pahamkah engkau tentang rindu?
Saat pakaian taqwa harus kau lepas sebelum masuk gapura
Sedang jiwamu menjerit duka duka ingin berhijab selamanya

Mengertikah engkau akan rindu?
Saat kau terlarang mendekap Cinta-Nya
Saat engkau ingin terhenyak berlabuh
Ombak laut menerjangmu ke tengah badainya
Matamu merindu pantai, ragamu dipenjara badai



Aku memandang Sang Cinta di atas awan
Berselimut cahaya nan benderang
Kurindu untuk selalu bersama-Nya
"Tenanglah" bisik hatiku
"Sang Cinta selalu bersamamu"
"Memelukmu setiap saat"
"Tunaikan tugas dan kewajibanmu di buana fana"
"Sebelum engkau merindukan Cinta, Cinta sudah merindukanmu lebih dulu"
"Sebelum engkau ingin memeluk Cinta, Cinta sudah memelukmu terlebih dulu"
Berada dalam dekapan Cinta, yang lainnya terasa sama
suka dan duka
tiada berbeda……..





Jakarta, 29 November 2006 at 10.00 a.m.

Written by Pipit Padi & Lu'lu'

*********
yang berlabuh dalam agama Cinta. Puisi ini aku tulis dan dijawab oleh seorang sahabat setelah digabung jadinya begini. Ya yang telah terlahir dalam agama Cinta kadang terlupa arti merindu, untuk mempertanyakan dan mengkritik diri sendiri sejauh mana memahami rindu. Thank You atas ceritamu sahabat pertanyaan itu pun muncul.

continued....

puisi ini, dulu adalah hasil pertanyaan seorang sahabat, yang membuat aku tercengang sekali, seorang gadis mualaf bertanya padaku, taukah aku tentang rindu, jika saat malam datang ingin sholat malam, tapi tak bisa, harus menyembunyikan keislamannya ditengah orang-orang yang bergitu besar arti dan pengaruhnya dalam hidupnya,Saat ia telah menjadikan islam sebagai pelabuhan cintanya, sedang di sisi lain dia juga tak ingin menyakiti hati orang-orang yang telah membesarkanya dengan cinta, dia bertanya apakah aku mengerti saat dia ingin membaca Al'quran untuk mengobati dan menenangkan hatinya, tak bisa dilakukan karena mengingat alam sekitarnya tidak mengizinkan. apakah aku mengerti bahwa ia ingin memakai jilbab seperti muslimah-mulsimah yang lain, tapi ia tak bisa, karena segalanya bagai makan buah simalakama baginya.apakah aku mengerti betapa bibirnya ingin selalu mengucapkan, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, Astagfirullah, Assalamu'alaikum, tapi tak bisa karena ada telinga yang mendengar tak rela dia menyebut kalimat-kalimat indah itu. Pertanyaan itu dulu bertubi-tubi padaku dan dia bilang aku beruntung, punya banyak waktu untuk tunaikan rindu, namun dalam hatiku seperti tertohok, Apa yang aku rasakan? saat jam beker yang sudah ku stel tengah malam kumatikan lagi karena rasa kantuk yang begitu menggodaku malas bangkit untuk berwudhu menghadapNYA, saat lembar-lembar kitab Al-quran sengaja kujatah membaca hanya sekian lembar setiap malamnya walau tanpa ada yang melarang membaca menelaah memahami sebanyak apapun yang aku bisa, saat bibirku seakan mahal mengucap asma-NYA sedang tak ada telinga yang akan merasa aneh aku melafazkannya, saat pakaian taqwa terlupa kupertanyakan sudah sesuai syariat atau belum? ach sederhana pertanyaannya 'mengertikah aku tentang rindu?' tapi telah membuat aku malu, Malu padaNYA,

Tuesday, November 28, 2006

Happy B'Day My Brother

Tak pernah ada
Lilin
Kue tar
Tepuk tangan
Riuh pesta
Kado istimewa
Kejutan bangga

Tapi aku tak pernah lupa
Hari ini
Tanggal ini
Ulang tahunmu
Hari lahirmu
Hari bertambah angka usiamu
Hari berkurang jatah waktumu

Hanya
Ucapan sederhana
Kukirim di pagi buta
Bermohon kepadaNYa
Agar dirimu senantiasa dalam LindunganNYA

*****
28 November… selamat Ulang tahun Uda, semoga makin matang, dilimpahi rizki yang halal, ilmu yang berguna, amal yang diterima, semoga jadi anak yang baik untuk Ayah-Bunda, jadi suami yang baik buat Uni, jadi ayah yang baik buat Syamil, jadi berguna untuk diri sendiri jadi bermanfaat bagi orang lain, dan tetaplah selalu jadi kakak yang baik untuk adikmu ini. :D….. tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ketidaksempurnaan bukanlah halangan untuk tetap berharap “semoga”, untuk saling melengkapi, walau sering aku jadi adik yang tak sempurna ( hiks)

teringat dirimu adalah teringat masa kecilku
"sepasang anak balam " hingga film Children of heaven made me cry berderai, Thank You for everthing and i m so sorry for every thing.

Monday, November 27, 2006

Hujan

Hujan
Basuhlah hati yang resah
Sejukkan jiwa yang gundah
Agar senyum itu kembali rekah
selami pasrah menambah indah

****
Jakarta hujan lebat, dibarengi suara guntur dan guruh, bergemuruh, musim hujan telah tiba, semoga hujan membawa berkat.



27 nov06

goresan

Goresan itu tersirat pilu
Membayang genang di mata sayu
Tergiang isak dalam sujud
Tumpah resah hati kalut

Tulisan bercerita duka
Takut, cemas menaut rasa
Belahan jiwa terbaring lemah tak berdaya
Mata tertutup, membisu tanpa suara
Tangis si kecil yang mengiba
Rindu sentuhan ayahanda

Teriring doa sabar dan tegar
Membalas goresan dan tulisan
Coba menghibur coba melipur
Walau tak mampu enyahkan sesak di dada
Walau tak sanggup musnahkan takut dan kalut
Walau tak sanggup hilangkan cemas
Namun segalanya masih sama
Saat satu duka, dua jiwa merasa
Saat satu gembira, dua wajah bahagia
Walau rentang waktu dan jarak telah berbeda


******
Teruntuk buat sahabat baikku A di kota P yang sedang menunggui suami tercinta di rumah sakit, semoga sabar dan tawakal, semoga Bang. A diberi kesembuhan secepatnya. Aminnnn Ya robbal aalamin. Salam sayang untuk Zidane kecil..

Thursday, November 23, 2006

Satu Ayat

“ and I free not my self ( from the blame) verily the ( human ) self inclined to evil, except when my Lord bestows this Mercy ( Upon who He wills) verily , My Lord if oft-Forgiving, most Merciful “

“ dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali ( nafsu ) yang diberi rahmat oleh Tuhanku, sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha-penyayang. “
QS; Yusuf ; 53.


**************************************
karena terhapus tinggal ayatnya aja....

Wednesday, November 22, 2006

Sekuntum Melati

Sebelum taman itu ada
Telah kudengar sebuah kisah
Tentang putih sucinya melati
Tentang semerbaknya wangi melati
Hanya dari cerita dan sketsa tak berwujud
Belum kulihat belum kurasa, hanya angan membayangkan
Tapi telah mampu jadikan hati berjanji
Kuhanya inginkan melati tumbuh di taman itu

Hingga
Merahnya mawar bagiku berduri
Walau kelopaknya selalu rekah
Indah sakura bagiku fatamorgana
Walau dipetikkan sebagai hadiah
Cerahnya teratai bagiku sementara
Kuncup kembali setelah mentari pergi
Kuntum kamboja bagiku duka
Walau ditanam dalam bejana

Deretan tanya pernah kudengar
“ untuk apa taman tanpa bunga ?”
Dalam diam slalu kujawab
“Hanya untuk melati”

Jika
Langkah arah dan waktu membawaku
terhenti tertuju pada sebuah jendela
Jendela yang membawa mataku menemui sekuntum melati
Mekar mewangi di sebuah taman yang jauh dari pandang
Walau selayang mampu kupandang
Salahkah aku luluh?
Salahkah aku bersimpuh?
Walau ragu hati kelabu, selalu kugenggam tanya, "sudikah melati, ku tanam di taman hati?"


Melati
Jika kini kukabarkan
Tentang, merahnya mawar, indahnya sakura, cerahnya teratai dan kamboja
Hanya kuingin engkau tau
Bagiku engkau yang terindah
Putih yang tak pudar
Wangi yang tak akan hilang walau hari telah berganti


jkt nov 22

Thursday, November 16, 2006

agama cinta

“ islam bukan agama pedang, tapi islam adalah agama cinta. Karena aku mencari cinta, makanya aku memilih islam “ ucap gadis di dekat mimbar dalam mesjid al azhar itu mantap. Walau tak kulihat wajahnya karena dia duduk membelakangi menghadap pak ustad di depan tapi suaranya lantang menggema cukup jelas terdengar oleh semua jamaah yang selesai dan sedang sholat zuhur di sana. Aku merinding mendengarnya, betapa mantapnya gadis itu menjawab pertanyaan pak ustad tentang niat bulat gadis itu mengubah keyakinannya dalam mencari cinta. Demi Cinta, Mencari Cinta, Cinta Abadi, Cinta Illahi. Itu bukan kalimat yang baru kudengar, tapi benar-benar membuat aku merinding siang ini karena terucap dari gadis di depan sana yang sesaat lagi akan mengucapkan syahadat. Kini menurut pengakuan gadis itu, ia telah menemukan cinta, cinta yang selama ini ia cari, berpindah-pindah keyakinan untuk mencoba, terus dan terus mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang bertahun-tahun tidak ditemukan jawabannya, yang akhirnya pada suatu ketika sebuah buku mengantarnya pada sebuah pelabuhan cinta yang telah menjawab semua tumpukan tanya dalam dirinya yaitu dalam agama cinta. Pak ustad meneruskan dengan uraian rukun islam dan rukun iman, awalnya niatku ke sini hanya ingin sholat zhuhur berhubung kamis, satu jam istirahat siang aku bisa ke al-azhar, tetapi apa yang kulihat di depan dekat mimbar membuat tak ingin melewatkan peristiwa itu dan sehabis zhuhur ternyata aku masih punya banyak waktu. Saat pak ustad menyebutkan data gadis itu, aku lebih terkejut lagi ternyata tanggal lahir gadis itu sama dengan tanggal lahir Ulama Besar pendiri batu pertama dakwah di mesjid ini dan tanggal itu sama dengan tanggal lahirku. Oh kebetulankah ini?. Akhirnya kalimat syahadat lancar terucap gadis itu, pak ustad memimpin doa mengajak seluruh jamaah yang sedang berada di sana ikut mendoakan gadis itu agar menjadi muslimah kaffah seperti ayat “ wahai orang-orang yang beriman ! masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan. Dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu “Al Baqarah :208. seluruh jamaah ikut mengamini doa Pak ustad, termasuk aku. Amin…

oh gadis,engkau telah mencari, telah menemukan dan engkau telah berlabuh pada Cinta yang akan menyinarimu dengan sinaran Keagungan CintaNYa yang kekal abadi tak akan habis untuk selama-lamanya.

Jkt. 16 Nov 2006

Wednesday, November 15, 2006

haru

haru
tiba tiba menyergap ruang detak hidupku
untuk apa?
apakah...
untuk keping-keping cita yang dulu menggebu
untuk harapan gadis kecil yang sebenarnya belum mengerti
tentang impian dan keinginan terbang tinggi lewati batas daya diri
terlewat peduli sepasang mata bening menggenang butiran kasih cinta tak membatasi
langkah-langkah gadis kecil mengeja satu satu persatu bintang di langit
terlupa menyelam samundra belaian hangat genggaman

Oh....Bunda.....
dalam telaga bening kasihmu
satu-persatu keping-keping itu tenggelam diam
redam bersama langkah-langkah arah
bersemayam dalam kedalaman dasar samudra cintamu
harap terselip keping-keping membeku menjadi mutiara berkilauan
kembali kepermukaan keringkan genang di mata itu
agar langkah melaju bersama restumu


Jkt 14 Nov 11:26

Thursday, November 09, 2006

Kampuang Nan Jauh Di Mato



Puncak Sago berselimut awan
Masih gagah menjulang di utara desa
Kawanan pipit pulang petang
Masih riuh berkicau menuju sarang
Bening air di lurah Mata Air
Masih gemericik mengalir di sela batuan
Lenguh kerbau di padang Bio
Masih terdengar memberi irama senja

Masih seperti dulu
Saat ku duduk di lereng padang
Dengan ketapel dahan jambu
Menunggui padi menguning sebelum musim menuai tiba
Menghalau pipit pemakan padi
Bersorak berteriak hingga gaung dan gemma terdengar jawab berjawab
Menguncang menarik benang Tua-Tua di tengah sawah
Bergoyang bersuara riuh rendah

Masih damai
Saat dulu kulangkahkan kaki
Bersama sapa dingin embum pagi
Menggelitik sela jemari tanpa alas di rumput jarum
Mengayun menuju sawah sebelum mentari unjuk diri

Masih sejuk
Saat petang datang mengantar mentari ke balik merapi
Saat bayang-bayangku makin panjang
Di sapu cahaya kuning rembang petang

Masih berdesau
Saat angin menyapu Pimping-pimping lereng
Meliuk-liuk mengejutkan burung-burung balam yang tengah sembunyi
Menyeruak ilalang bergelombang berkejaran

Masih bergema
Alunan ayat-ayat suci dari mesjid tengah desa
Memberi tanda magrib akan tiba
Pulang..pulang lah kerumah
Sebelum cahaya kuning menyamar warna rona merah jingga hilang ke dalam gelap


**** suatu senja dikampoeng halaman 3 Nov 2006****

Wednesday, November 08, 2006

Ponakanku



“Chem…. Chem…… Syemm…. Syamm…. Syamil…..” Syamil kok dipanggil chem… chem jadinya, kata mamanya tetangga-tentangga diasrama memanggilnya Chem.. Chem… duh ponakanku yang baru satu-satunya ini tahun lalu pas aku pulang baru berumur 4 bulan setiap kugendong setiap kali dia pipis dipangkuanku, dan sekarang dia udah bisa berlari kesana kemari, memanjat apa aja yang bisa dipanjat sedang lasak lasaknya kata orang minang. Pas habis sholat ied kakakku menantangku “ coba tolong jagain syamil, jika kuat 10 menit, hebat, syamel lasak pasti tak kuat” merasa tertantang ku jawab “ jadih..” akhirnya kugendong dia keluar rumah dan melepaskannya di halaman arah ke jalan, secepat kilat iya udah di jalan bagai mendapat kebebasan iya berlari tak terarah dengan langkah yang membuatku cemas seperti mau jatuh aja ( duh jantungan juga nih melihatnya) ternyata dia menuju kerumah kerabat, lansung naik dan ya sudah dapat diduga dia akan jadi pusat perhatian di sana, mengacak ini dan itu, kue lebaran di atas meja terpaksa dialih tempatkan, selesai mengacak-acak bebas tanpa dimarahi ngeloyor lagi, naik turun rumah kerabat yang berdekatan, wah ternyata anak kecil aja tau kalau hari lebaran harus berkunjung kerumah kerabat-kebarat, cuma sayang jika dia yang berkunjung bukan disuguhi kue lebaran tapi semua kue dialihkan ke atas yang tak terjangkau ( kacian deh chem… chem…) tak terasa satu jam berlalu akhirnya bukan aku yang pulang membawa syamil tapi papa dan mama syamil yang akhirnya nyari-nyari syamil di bawa kemana hmmm senyum puas kemenangan kulayangkan pada kakakku “ hebat khan??? “ kataku padahal dalam hati bilang “ hehehhe sebenarnya bukan aku hebat jagain syamil, cuma dia ngeloyor ke rumah kerabat-kerabat otomatis banyak yang turut menjaga…”

Beberapa hari berikutnya, aku benar-benar dapat tugas jagaian syamil, kerena papa dan mamanya dapat dinas pagi dua-duanya, syamil lasak mengacak ngacak apa aja tetapi tidak rewel atau penangis cuma jika papanya pergi tanpa permisi padanya dia bakal nangis terus sampai papanya pulang lagi (wah ini termasuk rewel apa bukan ya?) jadi setiap pergi harus pamitan ama dia dulu, dia akan cium tangan dan melambaikan tangan, kata Bapak itu tabiat kakakku yang turun ke dia karena dulu katanya kakakku tak akan mau tidur dan nangis terus jika yang membuainya di atas buaian bukan bapakku ( rasaian Uda…. Hehheheh), selama jagaian syamil HPku berkali kali dibantingnya sampai hang, jika orang lain mungkin aku marah karena Hp itu berarti sekali, tapi karena dia syamil aku tenang-tenang aja sambil senyum-senyum, membatin sendiri “ HP itu dulu Papamu yang belikan waktu etekmu ini masih kuliah, kalau yang membanting anaknya gak papa deh “ akhirnya aku sukses menjaga syamil cuma dapat komentar dibelakangnya “ pantas aja syamil jadi tenang dijagaian eteknya, syamil merusak barang apa aja, dibiarkan saja “ ledek Udaku.

*** miss u chem... chem... ***