Pelangi selepas subuh membentang di langit barat Sumatera seolah ia ingin menyapa hatiku yang tengah rusuh menghiburku dengan kumpulan keceriaan titian warna mengajak jiwaku menari di tangga-tangga bias cahaya
Pelangi selepas subuh di ambang batas hitam dan putih ketika malam telah berpamitan dan siang mulai membuka jendelanya warna warni itu tersenyum " duhai hati jangan lagi berduka ".
Padang-Pariaman, 26 Nov 2009.
>.. malam tadi aku nginap di Padang menjemput beberapa barang-barang perlengkapanku, hingga pagi ini aku harus berangkat ke tempat kerja di Padang Pariaman dari Padang, Pak sopir kantor menjemputku lebih awal menurutku, jam lima pagi ia sudah menelpon, janjiku padanya adalah jam 5:30, hasilnnya aku harus buru-buru, mempersiapkan segalanya
Rekan-rekan yang lain kerja menggunakan mobil yang lain yang berangkat lebih lambat dariku, jadilah aku sendiri dan pak Supir membelah dingin suasana selepas subuh. Pak Supir tak banyak bicara seperti juga aku yang mungkin juga tidak terlalu banyak bicara terutama dengan orang-orang yang baru kukenal, biasanya aku berangkat dengan mobil yang lain.
sepanjang perjalanan Pak supir memutar lagu Nike Astria, lagu lagu yang kusuka waktu SD dan SMP. aku tenggelam dalam lamunan kusendiri, mungkin jiwaku saat itu tidak berada di mobil itu, terbang kemana dunia pikiran membawaku.
Di tengah perjalanan saat aku mengalihkan pandang ke sisi Barat, ke arah lautan, aku melihat dua bentangan pelangi yang begitu indah, Alhamdulillah, saat aku benar benar merasa sendiri Yang Maha Kuasa mengijinkanku untuk melihat pesona keindahan alam ciptaanNya. " Tetaplah indah duhai pelangi, hiburlah setiap hati yang tengah sunyi "
Aku, Anak dagang di negeri
orang, mencoba marajut benang-benang peristiwa menjadi lembaran kain
cerita sebagai pakaian kata kata penutup duka perhiasan ceria