Tuesday, March 13, 2007

Kicauan Tengah Malam

Semalam jantung berdebar keras, saat terbangun kaget oleh langkah ribut tergesa dan suara ricuh di tangga tumah kos.

“ ada apa?, gempa kah?”

ya hanya gempa yang langsung terbayang, saat terhentak bangun masih antara sadar dan tidak, karena sejak ada gempa di Sumbar, saya selalu bertanya kabar ke kampung halaman.

Bapak kos sudah lari keluar, sosok ibu kos yang langsung menjawab saat saya terlihat bingung keluar kamar.

“ bukan api, ada rumah terbakar di gang sebelah, Bapak dikabari lewat HT”

“hah!!???”

Ternyata bukan hanya saya terbangun teman-teman lain juga. Kami lansung keluar gank belakang, ya rumah kos saya bisa lewat jalan depan juga bisa lewat jalan belakang, jadi bisa memiliki dua alamat jalan. Waktu di belakang masih mencari-cari mana rumah yang terbakar, kata ibu kos satu blok jalan setelah jalan belakang. Tetangga juga sudah berdiri di jalanan tapi sepertinya juga semua masih baru keluar dan nampak bingung

“ mana apinya?”.

Rumah-rumah di perumahan itu umumnya berlantai lebih dari satu, jadi wajar jika padangan terhalang. Saat bingung tiba-tiba ibu kos langsung teriak

“ itu apinya, besar, di Jalan 9,siap siap “

semua mata tertuju pada api besar itu. Teriakan ibu kos seperti mengejutkan tetangga yang di arah berseberangan, bagaimana tidak api besar itu di belakang rumah mereka, awalnya saya tak mengerti apa makna teriakan siap-siap ibu kos dan ia lari langsung masuk kerumah, setelah saya lihat tetangga, sibuk mengemasi barang-barang baru saya sadar, makna teriakan itu, api itu bisa menjalar kapan saja karena rumah perumahan ini berdempetan bahkan ke sebarang jalan yang hanya jalan kecil bisa dilewati satu mobil saja, saya pun lari masuk lagi, tapi masih bingung. Ibu kos nampak mengemasi barnag-barangnya, ia bilang kemasi barang-barang berharga dan surat-surat penting untuk berjaga-jaga. Teman-teman nampak bergerak serempak mengemasi barang-barang mereka, walau ada juga yang baru terbangun dan bilang dalam keadaan bingung

emang di mana kebakarannya?, kalo kebakaran, trus ngapain?”

Tak lama terdengar sirine mobil pemadam kebakaran. Ada lega, semoga api cepat dikendalikan dan tidak menjalar ke rumah-rumah di samping, Amin.

Akhirnya api besar itu tak nampak lagi di atas rumah itu, kamipun lega. Tapi tiba-tiba ada teman yang masuk dan berujar.

“ Mobil pemadam kebakarannya kehabisan air, apinya belum mati masih hidup, takut nanti menjalar apinya”

“ tau dari mana ?”

“ aku barusan ke sana liat rumahnya’

“hah!!????”

Ini ke dua kalinya teman-teman dan khususnya saya dibuat kaget oleh teman yang satu ini, teman ini wajahnya sangat lemah-lembut, ayu dan gemulai, tapi minggu kemarin ia bilang, pulang ke rumah dengan manjat pagar belakang komplek, karena katanya jika mutar ke gerbang depan komplek kejauhan, sedang ia harus sering pulang tengah malam dan bahkan dini hari, nasib gadis panggilan katanya, selalu dipanggil kapan saja kalau ada orang yang mau melahirkan, ya karena iya bekerja pada sebuah klinik bersalin di kawasan Jaksel tak jauh dari rumah kos kami, padahal pagar itu setinggi, 2-3 meter.. hmm keren, jam 2, atau 3 malam manjat pagar sendirian awalnya saya kira pagar rumah, ternyata pagar belakang komplek yang ditutup pas tengah malam, hebat, waktu itu saya hanya bilang gak nyangka, dan malam ini, yang lain masih sibuk ngurus barang-barang sendiri dan berdiam di rumah untuk berjaga-jaga, ia malah telah langsung pergi ke tempat kejadian kebakaran itu, ya ternyata di balik tampilan luarnya yang lemah-lembut, ia gadis yang sangat berani. Salut…

Tertarik dengan ceritanya, akhirnya kami sama-sama ke sana, ketempat kejadian itu, dan alhamdulillah mobil pemadamnya sudah banyak dan api sudah dapat dijinakkan, rumah berlantai dua itu sudah hangus dan masih ada asap-asapnya, Innalillahi WainnaIllaihi Rojiun, setelah merasa aman kami pun kembali, dan sepanjang jalan itu kami melihat, barang-barang sudah dikemasi di depan rumah-rumah para warga mungkin untuk berjaga-jaga.

Sabtu malam, di halaman belakang rumah, saya dan teman-teman sepermainan sedang asyik bermain, ketika itu kami masih kelas 5 sekolah dasar, waktu tiba-tiba bedug mesjid ditabuh ganjil dan pengeras suara mesjid terdengar lantang”

“ Urang kampuang, ado api di Subarang…..!!! Rumah Tabaka…., Tolong!!!…”

Kami kaget dan melihat kearah langit subarang, subarang adalah dearah sebelah timur kampong saya, ada api besar di sana seperti percikan kembang api raksasa.

“ Rumah Ani…..!!!!!!!!!!!! itu rumah Ani” tiba-tiba salah seorang sahabat sepermainan berteriak, keras dan menangis, kami langsung lari ke arah subarang, entah bagaimana caranya kami berlari, waktu itu kami telah ada di depan rumah yang terbakar, padahal jarak rumah saya dan rumah itu sekitar 400-500 meter dan menuju ke sana harus melewati lekukan lurah yang sunyi.

Sesampai di sana, ternyata teriakan teman saya memang benar, itu memang rumahnya yang terbakar, Rumah Gadang Rang Subarang, api sedang menyala membakar rumah panggung tinggi itu, orang sekampung sedang sibuk menyiram dengan air secara bergotong royong, dan ada yang sibuk melemparkan batang pisang, tapi akhirnya api padam juga, setelah rumah itu rata menjadi arang.

Kejadian semalam dan melihat gambar Ustano Pagaruyung terbakar, saya teringat masa kecil saya, saya ingat waktu teman saya menangis, padahal detik-detik sebelum itu kami masih riang berncand, bermain bersama-sama, segala sesuatu terjadi tanpa diduga. Sobat...Masih teringat air matamu mengalir... maafkan.. jika waktu itu saya tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun.



****

ketika jantung berdebar keras

3 comments:

Edwards said...

Mambaco carito ko jadi takana dulu waktu SMA, pernah ado rumah tetangga di kampuang nan tabaka. Kajadiannyo tangah hari, sadang rami urang di balai, sahinggo indak manyangko ado rumah nan tabaka di kampuang.

BTW, keluarga uni di kampuang lai aman-aman sajo?

pipitpadi said...

Alhamdulillah lai indak baa doh, cuma iyo juo ado ratak, tapi lai indak baa. malam pertamo sasudah gampo iyo lalok di tenda, kini lai indak, Semoga lai indak baulang gampo nyo baliak. AMinnnn

max said...

innallah maash shabbiriin...
Basaba se awak sadonyo, iko sabano cobaan Illahi Rabbi...